Banda Aceh Kota Toleran

Taman Bustanus Salatin atau disebut juga Taman Sari

Banda Aceh merupakan pusat pemerintahan Aceh. Berada di kota ini, kita akan mendapati masyarakat yang bersungguh-sungguh menjunjung tinggi Syari’at Islam. Perempuan keluar rumah dengan pakaian rapi, menutup aurat. Abila memasuki waktu Jumat, seluruh aktivitas jual beli jeda sejenak, bahkan ada yang barang dagangannya ditinggalkan begitu saja, tanpa harus khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Barangkali, sebab itulah, kota ini layak dijuluki Kota Madani.

Menjejaki Kota Banda Aceh akan menjadi salah satu momen aktualisasi iman bagi siapa saja. Selain masyarakatnya yang ramah, bangunan berjejar yang memadati kota ini pun begitu megah. Di sini, selain dipadati dengan ribuan warung kopi, kita juga akan mendapati ratusan masjid. Masing-masing tentunya memiliki keunikan tersendiri. Baik dari segi ornamennya, arsitekturnya, kemakmurannya bahkan nilai sejarah yang tertanam di sana. Semua hal ini membuat Anda tak jeda dari merasakan kekaguman.

Masjid Raya Baiturrahman

Kekaguman pertama yang akan kita lihat di sini adalah bangunan Masjid di tengah-tengah kota. Benar, kita sedang berbicara mengenai Masjid Raya Baiturrahman. Masjid Raya Baiturrahman ini dibangun oleh Kesultanan Aceh, dibawah kepemimpinan Raja Iskandar Muda pada tahun 1022 H/ 1612 M. Pada tahun 1873, Masjid Raya Baiturrahman dibakar oleh Belanda dalam serangkaian serangannya di Aceh. Namun demikian, pada tahun 1877 Belanda kembali membangun Masjid yang merupakan jantung hati rakyat Aceh ini. Semula, bangunan Masjid hanya terdiri dari satu kubah saja. Seiring waktu, adanya pemugaran dan perluasan, mengingat bertambah banyaknya jama’ah. Kini Masjid Raya Baiturrahman menjadi bangunan paling megah di tengah kota, dan terus mengalami pemugaran. 

Dari tampilan luar, Masjid Raya Baiturrahman sudah sangat memesona. Bila Anda berada di dalamnya, bertambah-tambah pesona itu. Pernah sekali waktu, saya memandu seorang pewisata asal Selangor – Malaysia. Saat kaki kanannya melangkah masuk ke dalam Masjid, tiba-tiba dia berhenti sejenak. Sontak, “Masya-Allah!” serunya berkali-kali. Saya jadi heran, saya tanya, “Bagaimana? Akak selesa? (Selesa itu artinya nyaman). Ternyata ia sangat kagum, “Saya merasa sejuk sekali, sampai ke hati, rasanya macam mula masuk Masjid Nabawi masa tu” imbuhnya lagi. Kemudian ia shalat sunat dua rakaat di sana.

Awal tahun 2017 ini, payung Masjid Raya resmi dibuka. Ini menjadi daya tersendiri bagi pengunjung. Banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara sengaja datang, guna menyaksikan keindahan Masjid Raya Baiturrahman.

Kota yang sangat menghargai keberagaman, ketentraman, kerukunan, tenggang rasa dan nilai-nilai perbedaan lainnya. Banda Aceh tidak pernah mendiskreditkan kaum minoritas yang berada di sana. Dalam hal beragama, kita dapat melihat bagaimana Banda Aceh menyediakan tempat penyembahan tidak hanya bagi muslim, bahkan bagi umat agama lainnya.

Tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman, hanya berjarak beberapa ayun langkah, kita akan menjumpai gereja. Di kota yang menjunjung tinggi syariat Islam, kita menyaksikan bangunan agama lain tak kalah megah. Kenapa bisa demikian? Jangan heran! Ini semua karena Islam adalah rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam). Islam bukan agama yang memusuhi, bukan untuk memerangi, tapi untuk memberikan rasa tentram dan perlindungan bagi siapa saja. Keberadaan Gereja Katolik Hati Kudus ini sebagai barang buktinya.

Gereja Hati Kudus 

Gereja Hati Kudus ini dibangun sekitar tahun 1926, sedangkan pemakaiannya baru diresmikan pada 26 September 1926. Gereja tersebut masih berdiri kokoh dan terus mengalami pemugaran, disesuaikan dengan jumlah jemaatnya. Hingga saat ini, keberadaan Gereja Hati Kudus, serta aktivitas di dalamnya tidak pernah mendapatkan gangguan apa pun dari warga Aceh.

Gereja ini berada tepat di depan Markas Komando Daerah Militer Iskandar Muda, bertepian dengan sungai Krueng Aceh. Hingga kini masih berlangsung kegiatan peribadatan umat Kristiani di sini. Tidak hanya ibadah mingguan, bahkan Misa Natal selalu berlangsung aman dan tertib di Gereja ini, tanpa perlu dikerahkan aparat penjaga keamanan. Siapa pun yang pernah melaksanakan ibadah di sini pasti akan mengakui bahwa Banda Aceh adalah kota mayoritas Muslim yang sangat toleran.

Selain itu, masih di Kota Banda Aceh juga, sekitar satu kilometer dari Gereja Katolik Hati Kudus, terdapat Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB). Di sisi kiri GPIB, terdapat Gereja Katolik Methodis. Sekitar satu kilometer dari gereja ini, ada gereja HKBP. Tidak hanya itu, pada lokasi yang berdekatan, di jalan Panglima Polem, di ruas jalan utama Peunayong, juga terdapat bangunan megah berwarna merah dominan, tempat beribadah bagi warga Tionghoa yang mendiami Kota Banda Aceh ini sejak lama.

Vihara Dharma Bakti di Peunayong - Kota Banda Aceh

Vihara Dharma Bhakti, bukti lain bahwa Kota Banda Aceh ini benar-benar layak disebut Kota Madani. Saat perayaan hari besar mereka, tidak ada muslim di Aceh yang mengusik ketenangan. Mereka bebas membakar dupa di Viharanya. Menaruh sesajian macam-macam. Bukankan ini adalah bentuk toleransi yang sudah teruji waktu? Dari dahulu, hingga sekarang Vihara ini berdiri kokoh di tengah-tengah kota. Warna merah menyalanya, beserta lampion yang digantungkan berjejar rapi, menjadi pelangkap keindahan. Mau tahu lebih banyak tentang Aceh? Sahabat dapat berkunjung ke Aceh

Note: Postingan ini pernah di-publish di laman helloacehku.com

Kewajiban Istri serta Perubahan setelah Menikah



Alhamdulillah, setelah beberapa bulan dipersunting oleh seorang pemuda, akhirnya saya berani menulis tentang sesuatu yang bertemakan pernikahan. Ini hanya catatan singkat berupa kesan saya setelah menyandang status sebagai istri dari seorang yang saya terima pinangannya, akhir tahun 2016 silam. Well, harus saya akui saya menyesal dengan pernikahan ini. Lho, kok menyesal? Pasti sahabat sekalian terkejut, bahwa tidak menyangka saya akan berbicara demikian. Penyesalan bukan dalam konotasi negatif, melainkan sebaliknya. Saya menyesal, kenapa baru berani menikah di usia 28 tahun. Saya tidak menyangka bahwa pernikahan benar-benar se-sakinah-mawaddah ini.

Jodoh adalah ketetapan Allah yang merupakan rahasia. Kita akan tahu dengan siapa berjodoh bila telah melangsungkan ijab-qabul dengannya. Pernah, suatu kala, saat berbincang-bincang ringan dengan suami, saya utarakan ke beliau, "Cutbang, kok telat kali cari tahu keberadaan Adek, sih! Maunya kan kita jumpa beberapa tahun sebelum ini." Saya bilang begitu, sambil tersenyum, tertunduk malu. 

Beliau menjawab, "Sudah lama Cutbang cari, tapi Allah pertemukan pada saat yang tepat." Wajahnya berhiaskan senyum yang membuat saya jatuh cinta, lagi dan lagi.

Bisa jadi, salah satu alasan Allah menunda perjumpaan kita dengan calon pasangan hidup kita adalah terganjal dengan kesiapan kita sendiri. Kita belum siap, maka Allah tunda sejenak. Adapun bekalan-bekalan pernikahan itu tidak hanya mahar dan seserahan yang merupakan pemberian yang berstatus formal. Ada banyak persiapan lainnya yang harus benar-benar mumpuni bagi dua mempelai, yakni pemahaman terhadap hak dan kewajiban.

Saya menyadari, sangat beruntung pernah mengenyam pendidikan di dayah. Setiap kali terbentur dengan hal yang menuntut pertimbangan syara', saya kembali mengingat 'surah' (penjelasan) dari guru saya tentang hal itu, saat di balai pengajian. Selain itu, saya juga dapat membuka kembali lembaran-lembaran kitab yang pernah dibaca, atau bertanya kepada sesama teman yang dulunya pernah duduk berdampingan, saat belajar. 

Kita menyadari bahwa ketaatan istri setelah kepada Allah, yakni kepada suaminya, maka sudah semestinya saya mengabarkan setiap tindak-tanduk kesibukan saya kepada beliau. Persetujuan suami adalah syarat utama bila saya ingin memutuskan untuk berbuat sesuatu. Misalnya saat hendak pergi ke suatu tempat. Syukurlah, sejak awal beliau sudah menyatakan memberi izin bila saya hendak keluar rumah dengan alasan yang tidak bertentangan dengan syara' serta untuk memeroleh kebutuhan hidup, seperti berbelanja ke pasar, pergi ke kantor, ke apotik atau klinik, bersilaturrahmi kepada saudara dan teman-teman.

Beruntungnya lagi, bila beliau tidak menyenangi sesuatu, beliau tidak lekas marah, melainkan sekadar menunjukan perubahan sikap. Misal, dari tersenyum menjadi murung, atau dari berbicara menjadi diam. InsyaAllah saya peka dengan perubahan itu. Sesekali, saat beliau diam saja, entah karena lelah atau lainnya, sedangkan saya tidak menyadari telah berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan, saya tidak sungkan untuk bertanya, "Adek ada buat salah hari ini, Cutbang?" Beliau tersenyum dan menggeleng kepala. Saya rasa ini penting, untuk menjaga sakinah-mawaddah.

Salah satu hal yang tidak disenangi oleh beliau adalah jika perempuannya 'kelayapan' di warung kopi, tanpa alasan yang urgen. Maka, sejak menikah saya sudah memutuskan untuk mengurangi bahkan menghindari hal itu. Tanpa merasa terbebani sedikit pun, malah saya ridha. Kita tahu bahwa budaya ngopi bagi perempuan kini sudah tak lagi menjadi hal yang tabu. Tapi, Sebab pernikahan adalah ibadah terlama yang harus kita jalankan, sudah semestinya saya menempatkan diri pada posisi yang dikendaki oleh seorang yang di bawah kakinya terdapat surga. :)


Resume pengajian di DPD PERTI: 6 Hak dan Kewajiban Muslim terhadap Muslim Lainnya

ilustrasi; kitab jawi

Sabtu/ 03 Juni 2017, saya dan Husnul mengikuti pengajian yang diadakan oleh dewan pengurus PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) Aceh di Kantor DPD PERTI. Saya mendapat undangan pengajian ini dari Ibu Nur Aini selaku ketua Wanita Perti Aceh, sehari sebelumnya. 

Setiba di sana, kebetulan pengajiannya belum mulai. Saya mengambil tempat yang telah disediakan. Ruangannya lumayan luas, kira-kira bisa menampung 50-an orang. Sayangnya, yang datang hanya setengahnya saja. As we know-lah, bahwa tempat-tempat pengajian memang cenderung sunyi dibandingkan pasar malam. Ini sudah takdir akhir zaman.

Baiklah, kita bahas mengenai pengajian saja. Narasumber yang bertindak sebagai pengisi materi hari ini adalah Tengku Haji Muhammad Ya'qub, yakni Ketua Mahkamah Syar'iyah Kab. Aceh Tengah, saat ini. Saya sendiri telah mengenalnya secara personal. Di Gampong, beliau kerap disapa "Abi."

Kitab Bulughul Maram, karangan Al Hafiz Syeh Ibnu Hajar menjadi referensi pengajian hari ini, pada bagian akhir, ada bab fadhailul 'ibadah, nah, di situ lah pembahasan mengenai 6 hak dan kewajiban seorang muslim terhadap muslim lain, dibicarakan. Kita mengaji tentang itu, sekarang.

Kita uraikan terlebih dahulu mengenai hak dan kewajiban. Dapat dipahami bahwa, ketika seseorang melaksanakan kewajiban yang dibebankan padanya, maka secara langsung hak seorang lainnya tertunaikan. Demikian pula sebaliknya; saat seseorang mendapatkan haknya, itu berarti ada seseorang yang telah menuntaskan kewajiban. 

Adapun 6 hak dan kewajiban muslim terhadap muslim lainnya, sebagaimana disampaikan dalam sabda Rasulullah, yakni: "Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam: (1) Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkan salam, dan (2) jika dia mengundangmu maka datangilah, (3) jika dia minta nasihat kepadamu berilah nasihat, (4) jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah (dengan doa: Yarhamukallah), (5) jika dia sakit maka kunjungilah, dan (6) jika dia meninggal maka antarkanlah (jenazahnya ke kuburan).” (HR. Muslim).


Pertama, mengucapkan salam

Bila kita berjumpa dengan seseorang, kita mengetahui bahwa dia adalah muslim, maka ucapkanlah salam. Sebab salam itu merupakan doa bagi keselamatan dan kesejahteraan seseorang. Sesama muslim kita bersaudara, bahkan dengan persaudaraan yang sangat akrab, "kal-jasadil-wahid (bagaikan satu tubuh)" sabda Rasulullah, maka sudah sepatutnya kita saling memberikan doa keselamatan.

Lalu, seorang di antara jama'ah bertanya kepada Abi; "Bagaimana jika terhadap non muslim, apakah terbenar jika kita memberi salam kepada mereka?"

"Tidak!" Jawab Abi. Kita tidak dibenarkan memberi salam kepada non muslim, melainkan mendoakannya agar memeroleh hidayah untuk beriman kepada Allah. Demikian pula halnya, jika mereka memberi salam, tak perlu dibalas salam, setidaknya ucapkan saja "wa'alaikum," atau sekadar senyum. Jangan pula bermasam muka, itu tidak dibenarkan dalam Islam.

Meskipun menjawab salam hukumnya wajib, itu tertentu kepada saudara kita sesama muslim. 

Kata "assalamu 'alaikum (semoga keselamatan atas kalian) dijawab dengan "wa'alaikum salam, (dan atas kalian keselamatan)" maknanya sama. Hanya saja, dalam kajian linguistik bahasa Arab dijelaskan bahwa terdapat pengaruh lebih besar dengan meletakkan kata 'alaikum di awal, baru selanjutnya disusul "salam." Hal ini senada dengan ketentuan syara' bahwa memberi salam hukumnya sunat sedangkan menjawab salam, hukumnya wajib. Demikian ulasan dari Abi.

Lanjut kemudian, Bapak Hasyim, yakni Ketua PERTI Aceh saat ini, juga mengajukan pertanyaan; "Bagaimana ketentuannya dengan ucapan "Selamat pagi"? "Apakah bermakna sama?"

Abi menjawab; jika yang mengucapkannya menakwilkan bahwa ucapan itu merupakan doa, seumpama kalimat sempurnanya; "Semoga keselamatan bagimu pada pagi ini," itu juga baik. Tapi, akan lebih baik, kita budayakan apa-apa yang telah diteladankan oleh Rasulullah. yakni, mengucap "Assalamu a'laikum."

Kedua, jika diundang maka hadirilah

Ini sangat penting, mengingat di Aceh kerap ada undangan jamuan makan, kenduri. Bahkan dalam sehari, seseorang menerima hingga lima undangan makan-makan, sebagaimana halnya pada bulan maulid. Bagaimana kita harus bertindak? Tentu saja harus berupaya untuk memenuhi undanganya, jika sanggup dipenuhi semua, itu lebih baik. Tertentu dengan undangan walimah 'ursy (pesta pernikahan), bahwa kita wajib menghadirinya.

Menghadiri jamuan makan yang tidak diundang hukumnya haram. Maksudnya, jangan pernah berpikir untuk makan siang gratis pada kenduri orang, padahal kita tidak diundang. Siapa tahu, saat tiba di suatu tempat, kebetulan kita lapar, sedangkan di sana sedang ada kenduri, sembarangan saja kita masuk untuk makan, meskipun kita kasih "aplop" juga, tetap tidak dibenarkan, sebab tidak mengantongi izin dari tuan rumah. Lain halnya jika kita berani berjumpa dengan tuan rumah, lalu mengkonfirmasi bahwa kita ingin makan. Tapi, rasanya itu tak akan terjadi. (Gengsi kali lah kita, kan? Hehehe)

Ketiga, jika dia minta nasehat maka berilah

Ini juga tak kalah penting. Ketika seseorang meminta agar kita memberikan sedikit nasehat, maka berikanlah. Sesungguhnya Rasulullah dahulunya juga demikian terhadap para sahabat, sering memberi nasehat. Bahkan, islam dikenal sebagai agama nasehat. "Ad-dinu nasihah" (agama ialah nasehat). Jika diminta untuk mengisi acara, menjadi narasumber pada sebuah kajian, memberikan tausiah singkat, bahkan dalam urusan dunia pun demikian. Jika dimintai nasehat maka berikanlah. Hanya saja, kita juga harus pandai menakar diri. Jika kita bukan bidangnya dan tidak memahami perkara yang dimintai nasehat, alangkah lebih baik untuk merekomendasikan seorang yang lain, bukan memberi nasehat sembarangan ala kita. Hehehe

Keempat, jika dia bersin dan mengucapkan hamdalah maka balaslah

Ketika bersin, kemudian seseorang mengucap;
"Alhamdulillah!"
Maka jawablah dengan;
"Yarhamukallah!"
Kemudian dia membalas lagi,
"Yahdikumullah"
Maka jawablah;
"Wayuslihu baalakum"

Jika seseorang yang bersin tidak mengucapkan hamdallah, maka tidak perlu dijawab demikian. Di sini timbul sedikit guyonan saat salah seorang jama'ah bertanya kepada Abi, "Kenapa hanya bersin yang dididoakan, sedangkan buang angin (read: kent*t) tidak?" Semua jamaah tertawa.

Kelima, jika dia sakit maka kunjungilah

Saat sabahat dan keluarga kita sakit, hendaklah kita berkunjung untuk mendoakan kesembuhan atasnya. Jika kita memiliki kesanggupan, membawa buahan dan sedekah juga dianjurkan, guna meringankan beban si penderita sakit. Jangan sekali-kali berkunjung ke tempat orang sakit dengan membawa masalah yang dapat memperburuk keadaannya. Misal, kita bilang ke dia, "Kemarin, teman aku yang sakitnya kayak kamu ini, sudah meninggal". Itu celaka sekali. Alih-alih kita datang untuk meringankan rasa sakitnya, malah dapat memperburuk jiwa seseorang yang sedang sakit.

Keenam, jika dia meninggal maka antarkanlah jenazahnya ke kubur.

Allah Ta'ala memuliakan jenazah seorang manusia dengan menganjurkan saudara yang ditinggalkan untuk mengangkatnya dengan bahu mereka hingga sampai ke kubur. Sangat besar pahala yang diberikan oleh Allah atas kebajikan ini. Menziarahi kematian dapat memberikan nilai ruhiyah tersendiri. Kita bisa menjadikannya pelajaran agar lebih giat beribadah kepada Allah, karena teringat bahwa kematian mengintai kita. Tidak ada yang tahu kapan dirinya akan tutup usia. Selain itu, mengantar jenazah akan memalingkan hati kita dari mencintai dunia. Kita akan lebih berpikir untuk akhirat, sebab menyadari bahwa perbendaharaan dunia ini semuanya kita tinggalkan, sedangkan kita hanya "pulang" kepada-Nya berbungkuskan kain kafan.

Demikianlah ulasan singkat mengenai 6 hak dan kewajiban muslim terhadap muslim lainnya. Semoga bermanfaat. Sekadar informasi, esok, 10 Mei 2017, juga diadakan pengajian serupa, dengan narasumber berbeda, di tempat yang sama, yakni kantor DPD PERTI, (belakang Hotel OASIS) Lung Bata - Kota Banda Aceh. Datang ya, kangkawan! :)

5 Kota Wisata di China Yang Menyimpan Kecantikan Luar Biasa

Memiliki geografis yang sangat luas, China menjadi Negara yang menyajikan banyak pilihan untuk liburan. Ada puluhan tempat yang bisa dipilih jika melancong ke Negeri Tirai Bambu itu, mulai dari wisata ke tempat bersejarah sampai melihat modernisasi yang terjadi di kota-kota besar.

Namun, jika harus memilih lima saja dari kota untuk didatangi di China, berikut adalah tempat yang nggak boleh kamu lewatkan. Nggak cuma cantik, kota-kota ini juga punya keunikan masing-masing.

Pertama, Xi’an

foto via. thousandwonders[dot]net

Kota ini pernah menjadi Ibukota China di masa sebelum Masehi. Karena itulah, ada banyak peninggalan sejarah yang tersimpan di kota cantik ini. Mulai dari pagoda super besar yang menjulang di salah satu sisi kota, sampai masjid besar yang ada di sana.

Xi’an sudah lama ditinggali komunitas Muslim China dan mereka hidup berdampingan dengan damai. Dulunya, kota ini adalah salah satu jalur sutera yang menghubungkan perdagangan Eropa ke Asia.

Uniknya, kamu bisa tinggal di kota ini selama 72 jam tanpa memerlukan visa. Pemerintah kota setempat memberlakukan visa free untuk kedatangan singkat, baik untuk turis maupun pebisnis yang punya urusan di sana.

Kedua, Guilin


foto via. enterit[dot]no

Terpesona dengan sungai Li yang dikelilingi bebatuan tinggi menjulang nan indah? Pemandangan itu akan kamu lihat secara langsung di kota Guilin yang dikenal sebagai kota pegunungan karst terbesar di China.

Di Guilin terdapat kebun teras Longji, dua sungai dan dua danau yang indah. Namun yang paling dicari oleh wisatawan adalah naik perahu melintasi sungai Li yang menakjubkan. Pemerintah kota Guilin juga menyediakan layanan bebas visa selama 72 jam untuk wisatawan. Tapi kamu disarankan untuk tinggal di kota ini selama 4 hari agar bisa menjelajahi semua tempat dengan puas.

Ketiga, Hangzhou


via. chinadaily[dot]com[dot]cn

Kota ini dikenal dengan Danau Barat yang sangat indah. Bahkan Marcopolo pun menyebut Hangzhou sebagai tempat terindah setelah surga, kebayang kan bagaimana cantiknya kota ini?

Hangzhou juga dikenal dengan kebun tehnya yang membentang luas. Di sana kamu bisa melihat museum teh nasional dan mencicip teh tradisional Hangzhou yang harum dan memiliki citarasa khas. Tentu saja, jangan lupa untuk menonton pertunjukan di Danau Barat yang cantik.

Keempat, Huangshan
via. 360doc[dot]com

Megahnya Gunung Kuning ada di kota Huangshan, yang juga memiliki Desa Xidi dan Hongcun yang keindahannya sudah dikenal di seluruh dunia. Dari puncak pegunungan dan pedesaan di sini, kamu bisa melihat hamparan lautan awan yang luas dan menikmati indahnya desa kuno China yang masih menjaga tradisinya sampai sekarang.


Kelima, Chengdu

via[dot] travelwith[dot]me

Kalau kamu pengen melihat Panda dari dekat, di Chengdu tempatnya. Di sini adalah rumah bagi ratusan ekor Panda raksasa yang menggemaskan. Selain sebagai rumah, Chengdu juga pusat konservasi binatang yang paling dilindungi di China ini.

Di Chengdu, kamu bisa merasakan pengalaman memegang Panda secara langsung, memberi mereka makan dan tentu saja foto bareng. Selain itu Chengdu juga memiliki kuliner yang khas seperti Hot Pot Sichuan yang lezat.

Kota-kota yang sangat menarik ini bisa kamu kunjungi dengan China Airlines yang menyediakan banyak rute di China. Terbang ke China pun sekarang tak lagi jadi hal yang sulit. Semuanya mudah dengan aplikasi Traveloka yang menyediakan tiket China Airlines.

Maskapai China Airlines juga dikenal sebagai kebanggaan Negeri Tirai Bambu itu. Jadi kamu nggak perlu khawatir soal layanan, karena China Airlines pasti memberikan yang terbaik buat penumpang. Ayo berlibur!

Wisata Alam di Aceh, di Belakang Rumah juga Boleh

Ketika jenuh dengan sekelumit kerjaan di kantor yang menumpuk, setoran tulisan dan sebagainya, seyogyanya kita ingin keluar dari bingkai yang sesak dengan tugas itu. Melayangkan pandangan pada alam terbuka untuk menyegarkan kembali pikiran. Sebagian orang yang sejahtera secara finansial pasti memilih tempat-tempat tertentu sebagai destinasi wisata mereka. Katakanlah ke Bali, Jogja Korea, atau sekalian beribadah umrah ke Arab Saudi sana.

Well, itu tentu saja menghabiskan banyak uang. Tapi, bagi saya yang kelas bawah, tidak perlu berkecil hati. Kita punya alam luas terbentang sebagai tempat wisata. Di Aceh ini, untuk memerolah tempat wisata alam, tidak perlu jauh-jauh berjalan. Saya pribadi biasanya menghabiskan waktu di pematang sawah, entah itu pagi-pagi maupun petang. Saya rasa ini sah disebut wisata, sebab yang kita nikmati adalah keindahan alam. 


Ini pemandangan dari atas jembatan irigasi Timpo. Kurang lebih tiga puluh meter dari rumah saya. Kalau teman-teman datang ke rumah dan ingin saya ajak ke sini, jangan sungkan-sungkan. Bilang saja, saya jabanin. Kita hanya butuh sedikit tenaga untuk jalan beberapa langkah, lekas tiba. Kalau langsung dengan kendaraan boleh juga, tapi kurang asik rasanya. Saya memilih jalan kaki, biar lebih berkesan. 

Dari atas jembatan ini, tampak sebadan gunung yang "tiduran" di sana. Itu! Di ujung irigasi itu, salah satu gunung yang saya sukai. Kelihatannya dekat. Tapi, bahkan setelah tiba di Lhoknga, gunung itu masih terlihat jauh. Selain gunung, saya juga menyukai hamparan sawah. Musim bajak hanya digenangi dengan air dan lumpur. Setelah itu, musim tanam. Sawah berubah menjadi hamparan hijau ranau. Dua bulan kemudian, berubah lagi. Hamparan menguning dengan bulir padi terisi penuh. Angin berhembus mengayunkan batang padi, seperti senandung yang tak jemu dipendengaran. Bak lukisan yang tak bosan dipandang.

Berikut beberapa spot lainnya.

Pohon Batok di pematang sawah. Tidak jauh dari jembatan pada gambar di atas

Ini view yang paling menarik. Kita dapat melihat sunset keluar dari balik gunung itu, di pagi hari

Butuh atau Ingin?

Moana the Movie


Dear, Sahabat blogger!

Setelah sekian lama vacum dari menulis di laman pribadi ini, sekarang saya akan memulainya kembali. Sayang sekali rumah ini sudah hampir meujeulabah. Postingan terakhir di sini tentang Pliek U, dan itu sudah tiga bulan yang lalu. Sangat menyedihkan, bukan? Tapi tidak berarti saya benar-benar berhenti menulis selama itu, bukan begitu. Sebenarnya saya sering "lalai" dengan media sosial yang lain. Beberapa di antaranya semoga memengaruhi buku tabungan (Hahaha).

Baiklah, mari kita fokus. Ini tentang membedakan ingin dan butuh. Sering kita mengeluh tentang doa yang tidak dikabulkan. Beberapa kali doa yang kita panjatkan dengan bunyi yang sama, nyatanya belum ada jawaban dari pihak yang kita tujukan doa itu. Nah, bisa jadi, apa-apa yang kita minta bukanlah hal yang kita butuhkan. Hanya saja kita menginginkannya.

Jadi begini, barangkali kita meminta mobil, dengan pendapatan bulanan tidak memadai untuk meng-cover biaya operasional: bensin, service bulanan dan pajak tahunan. Jika pun kita sanggup untuk itu, namun ada hal lain yang harus didahulukan, misalnya; Tuhan mengehedaki kita untuk fokus membangun rumah. Maka, Allah menunda mengabulkan permintaan kita untuk memiliki mobil. Syukuri saja sepeda motor, lebih irit pengeluaran. Jika sesekali butuh mobil, sangat urgen, kita bisa menyewanya. Jasa rental sekarang tersedia di mana-mana.

Antara butuh dan ingin, itu dua hal yang berbeda signifikan. Kita butuh makan; kita ingin makan. Mari saya jabarkan lebih rinci. Sehari kita butuh makan tiga kali. Sekali makan, satu porsi. Nasi sepiring, plus dua potong lauk, sayur, segelas air putih, atau jus boleh juga. Kenyang sekali, bukan? Lalu, karena ingin, kita akhirnya membeli satu cup es krim, ngopi, roti, dan buah potong juga. Itu ingin, saudara-saudara.

Selain itu, tentang pakaian, juga demikian. Seseorang mengenakan dua atau tiga set pakaian sehari, standarnya begitu. Bahkan ada yang satu pasang dipakai dari pagi sampai malam. Katakanlah kita harus memiliki empat belas helai pakaian, untuk dipakai selama seminggu (tujuh hari). Nyatanya, setiap kita nyaris memiliki satu lemari berisikan baju, penuh. Tak teringat berapa jumlah helainya, tidak mudah dikira karena memang banyak. Benar demikian? Coba sekarang ingat-ingat, berapa helai kerudung sahabat, berapa lembar baju, berapa potong rok? Terusan/gamis/jubah, ada? 

Selanjutnya, sandal. Baik, kita butuh sepatu, untuk ke kampus, ke sekolah, ke kantor. Sebenarnya kita hanya butuh satu sepatu. Baiklah, dua saja. Satu sepatu high hels untuk acara resmi, satu lagi sepatu biasa saja. Tapi, nyatanya, berapa pasang sepatu kita di rak? Kita ingin sepatu dengan warna yang seragam dengan tas dan baju. Nah, tas kita ada berapa pcs? Nyatanya kita hanya butuh satu atau dua, kan? 

Kita ingin tampil maching. Ingin, bukan butuh. Seringnya, yang membuat kita tertekan, tidak bahagia, gelisah adalah banyaknya keinginan. Ingin ini dan itu, di luar kebutuhan. Jika ingin mengurangi tekanan hidup, mulai sekarang, perkecil ruang ingin. Fokus terhadap butuh. Sepakat, sahabat?

Anyway, mohon maaf untuk gambar yang tidak mach dengan konten postingan. Saya rasa itu tidak begitu penting. Hehehehe

Kajian Variasi Fermentor dan Lama Fermentasi terhadap Kualitas dan Kuantitas Minyak Simplah dan Minyak Pliek U



Majalah Warta Unsyiah beserta Surat Ucapan Terimakasih 

Alhamdulillah. Jika ingatan saya tidak keliru, ini artikel saya ke 11 yang dimuat di Warta Unsyiah. Hal pertama yang harus disyukuri adalah anugrah kemampuan menulis yang Allah titipkan kepada saya. Semestinya kemampuan itu harus saya kembangkan, tingkatkan, manfaatkan, sebagai wujud syukur. Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah.

FYI. Artikel ini merupakan rangkuman dari penelitian saya, karya ilmiah yang mengantarkan saya ke gerbang sidang, memeroleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian dalam rentang waktu study 3 tahun 11 bulan. Di ruangan sidang, penguji dan pembimbing bersatu menjadi 5 orang yang "seram", berusaha mematahkan semangat anak kampung. Namun demikian, panas terik sudah kita rasa, hujan rintik sudah biasa. Akhirnya, anak kampung mampu memenangkan hati mereka. Mengantongi nilai sidang 91,4. Skripsi saya diberi nilai A 

 Demikian selengkapnya


Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Minyak Simplah dan Minyak Pliek U

Kelapa merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak kegunaan. Masyarakat tradisional Aceh sering memanfaatkan daging buah kelapa yang sudah tua sebagai bahan baku pembuatan minyak. Pengolahan yang dilakukan oleh masyarakat Aceh dengan cara yang sederhana, yakni pengolahan Pliek U. Pengolahan ini dapat menghasilkan tiga produk sekaligus, yaitu minyak Simplah, minyak Pliek U serta Pliek U itu sendiri, yang kerap dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan baku utama masakan khas Aceh.

Masyarakat umumnya melakukan pengolahan minyak Pliek U secara tradisional tanpa adanya acuan baku mengenai proses yang baik. Hasil yang diperoleh dari pengolahan yang tidak baik kerap sekali mutunya rendah, kondisinya cepat tengik dan warnanya tidak jernih, sehingga mengakibatkan rendahnya tingkat ketertarikan konsumen.

Adapun hal utama yang harus diperhatikan pada pembutan Pliek U adalah kondisi fermentor. Fermentor -atau lebih dikenal juga dengan nama bioreaktor- merupakan tempat atau wadah yang mampu menyediakan sebuah kondisi biologis, dapat membantu terjadinya penguraian dari bahan baku menjadi bahan yang diinginkan. 

Selain itu, yang tak kalah penting pula ialah jangka waktu yang dibutuhkan untuk fermentasi. Lamanya proses fermentasi tentu saja memberi pengaruh tersendiri terhadap kualitas dan kuantitas minyak. Oleh karena itu, Saya melakukan pengamatan terhadap pengaruh lama fermentasi dan kondisi fermentor terhadap bahan pembuat Pliek U, sehingga dapat menghasilkan minyak Pliek U dan minyak Simplah yang berkualitas.

Saya melakukan percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) faktorial 3 x 3 yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor kondisi fermentor (F) dan lama fermentasi (L). Faktor kondisi fermentor (F) terdiri atas tiga taraf yaitu: F1= fermentor tertutup rapat, F2= fermentor tertutup pelepah pinang, dan F3= fermentor terbuka. Faktor lama fermentasi (L) terdiri atas tiga taraf yaitu: L1= selama 6 hari, L2= selama 8 hari dan L3= selama 10 hari. Dengan demikian terdapat 9 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Pengujian hasil yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA = Analisysis of Variance).

Tahap pertama,  Pembuatan Pliek U

Kelapa tua (berumur ± 12 bulan, 4/5 bagian kulit kering, berwarna coklat, kandungn air berkurang dan bila digoyang berbunyi nyaring) dikupas kulit luarnya guna membuang sabut, kemudian dibelah tanpa terbuka untuk dibuang airnya. Setelah itu disimpan selama dua hari pada suhu ruang. Kemudian, kelapa dikukur dan dimasukkan ke dalam fermentor masing-masing sebanyak 2 kg kelapa kukur basah. 

Diamkan selama waktu penyimpanan tertentu untuk fermentasi. Apabila terdapat minyak pada kondisi wadah tertentu setelah beberapa hari fermentasi maka diambil sebagai sampel yang akan diuji, minyak tersebut disebut minyak Simplah.

Tahap kedua. Penjemuran dan pengepresan Pliek U

Itu yang sedang menjemur Plie U, Saya. Sesungguhnya, Saya! Saat-saat "mengerikan" sepanjang penelitian. 2010

Pliek U basah yang dihasilkan dari fermentasi daging buah kelapa tersebut kemudian dijemur pada sinar matahari. Apabila Pliek U sudah terasa hangat maka dilakukan pengepresan untuk diambil minyaknya, pengepresan dilakuakan oleh satu orang untuk setiap perlakuan agar tekanan pengepresan yang diberikan dapat diasumsikan seragam. Setelah pengepresan, Pliek U dijemur kembali untuk pengepresan selanjutnya, proses ini dilakukan secara berulang-ulang hinggá didapati kondisi Pliek U tersebut kering. Minyak yang diperoleh dari hasil ekstraksi ini disebut minyak Pliek U.

Rendemen dihitung untuk mengetahui banyaknya minyak Simplah dan minyak Pliek U yang diperoleh dari hasil ekstraksi Pliek U. Rendemen ditentukan dengan menghitung bobot minyak yang dihasilkan lalu dibandingkan dengan bobot bahan baku yang digunakan.

Rendemin minyak Simplah

Dari masing-masing dua kilogram daging buah kelapa yang difermentasi, jumlah rendemen minyak Simplah tertinggi terdapat pada perlakuan fermentasi 10 hari dalam fermentor terbuka. Kondisi fermentor terbuka mengakibatkan fermentasi aerob berlangsung baik karena ketersediaan oksigen yang cukup. 

Berbeda halnya pada perlakuan fermentor tertutup rapat, terjadinya kekurangan oksigen pada bahan mengakibatkan fermentasi aerob diperhambat, sehingga selama proses fermentasi berlangsung tidak diperoleh minyak Simplah. Perlakuan lama fermentasi 6 hari juga tidak terdapat minyak Simplah akibat singkatnya lama fermentasi. Nyatanya, semakin lama proses fermentasi maka rendemen minyak Simplah yang dihasilkan semakin tinggi. Hal ini terjadi karena enzim terus bekerja memecah protein, merusak sistem emulsi dalam daging kelapa hingga emulsi habis. 

Rendemen minyak Pliek U

Rendemen minyak Pliek U tertinggi terdapat pada perlakuan fermentasi 10 hari dalam fermentor tertutup rapat yaitu 26.410%. Hal ini terjadi karena pada perlakuan fermentor tertutup rapat tidak terdapat minyak Simplah, seluruh potensi minyak pada bahan yang kita gunakan diperoleh pada minyak Pliek U. 

Rendemen Minyak Total

Rendemen minyak total adalah keseluruhan rendemen minyak yang diperoleh dari bahan baku yang digunakan untuk tiap-tiap perlakuan pada percobaan, yakni dua kilogram daging buah kelapa. Jumlah rendemen minyak total tertinggi terdapat pada perlakuan lama fermentasi 10 hari dalam fermentor terbuka yaitu 27.800 %. Kita menyadari bahwa, secara kuantitas, semakin lama difermentasi maka semakin banyak rendemen yang diperoleh, namun tentu harus kita perhatikan lagi sisi kualitasnya. Oleh karena itu, dilakukan uji Organoleptik terhadap seluruh sampel hasil percobaan.

Uji Organoleptik (uji deskripsi) merupakan penilaian sifat sensori yang menggambarkan keseluruhan sifat minyak Pliek U dan minyak Simplah. Uji deskripsi juga dapat digunakan untuk menilai tingkat pengembangan kualitas produk dan sebagai pengukuran pengawasan mutu. Adapun uji organoleptik terhadap minyak meliputi aroma dan warna. 

Rata-rata panelis memberikan tanggapan bahwa aroma minyak Simplah yang dihasilkan dalam percobaan ini tidak tengik. Berbeda dengan minyak Pliek U, beberapa diantaranya sudah sangat tengik, terutama yang diberi perlakuan tertutup rapat. Bau tengik pada minyak terdapat secara alami. Hal terjadi karena pembentukan asam-asam yang berantai sangat pendek sebagai hasil penguraian pada kerusakan minyak yang dapat mempengaruhi aroma minyak. 

Demikian pula halnya dengan warna, kondisi fermentor tertutup rapat dan lamanya proses fermentasi mengakibatkan minyak keruh. Perlu diketahui bahwa, semakin lama difermentasi maka kadar air minyak Simplah dan minyak Pliek U untuk setiap kondisi fermentor semakin meningkat. Hal ini akan mengakibatkan asam lemak bebas dan bilangan peroksida juga semakin lama semakin meningkat. 

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengujian Organoleptik dan pengolahan data dengan ANOVA, tolak ukur: kadar air, bilangan peroksida, total rendemen, maka dapat disimpulkan bahwa minyak Simplah terbaik diperoleh pada perlakuan lama fermentasi 8 hari di dalam fermentor tertutup pelepah pinang. Sedangkan minyak Pliek U terbaik diperoleh pada perlakuan lama fermentasi 6 hari di dalam fermentor terbuka. Semoga ini bermanfaat bagi masyarakat Aceh tradisional yang melakukan pengolahan Pliek U, agar dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas minyak Simplah dan minyak Pliek U, sehingga meningkatkan nilai jual produk itu sendiri. 

Tulisan ini dimuat di Warta Unsyiah 

Sikap Marah-marah Hanya akan Membunuhmu

Artikel ini pernah dimuat di Warta Unsyiah, Edisi 192/ Oktober 2015


Manusia adalah makhluk spesial yang diciptakan oleh Allah. Makhluk dengan bentuk yang paling sempurna, bahkan lebih sempurna dari penciptaan Malaikat. Malaikat hanya ditugaskan untuk patuh pada apa-apa yang ditetapkan, tanpa memiliki ranah ikhtiyar. Oleh karena Malaikat tidak diberi nafsu. Lain pula dengan hewan yang tidak dilengkapi dengan akal, hewan hanya mengandalkan naluri agar lestrari. 

Allah memberikan potensi akal kepada manusia, namun juga menyematkan nafsu padanya. Akal merupakan serangkaian proses berpikir yang terdiri dari empat komponen: fakta, indra, otak dan informasi sebelumya. Fakta yang diamati dengan indra, kemudian disalurkan ke otak dalam bentuk sinyal listrik, kemudian otak menerjemahkan suatu kesimpulan atas apa yang diamati tersebut berdasarkan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. 

Adapun fungsi akal yaitu menentukan mana hal yang terbenar untuk dilakukan dan mana yang semestinya ditinggalkan. Akal harus mampu menundukkan nafsu di bawahnya. Akal bertugas mengkaji aturan-aturan yang telah Allah tetapkan, bukan menciptakan aturan-aturan berdasarkan kehendaknya. Satu simpul permasalah besar yang harus dipecahkan oleh akal adalah tentang: dari mana manusia berasal, di kehidupan ini apa yang harus dilakukan, dan akan kemana setelah manusia melewati kematian.

Selain potensi akal, Allah juga memberi kita naluri. Potensi yang tak kalah pentingnya. Naluri pada manusia secara garis besar bisa diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok besar. Pertama, naluri mensucikan sesuatu. Setiap manusia menyadari bahwa dirinya lemah. Sejatinya setiap yang lemah membutuhkan sesuatu yang kuat sebagai tempat bersandar, bergantung. Sesuatu yang lebih besar itu kemudian diagungkan, disucikan, dan disembah. Inilah naluri yang menjadikan setiap orang butuh beragama. Bahkan atheis, meskipun mereka mengingkari tuhan, namun mereka menjadikan Karl Marx, Lenin, dan Stelin sebagai sosok yang diagungkan. 

Kedua, naluri mencintai. Ikatan kasih sayang yang terbentuk baik antara ibu dengan anak, suami dengan istri, guru dengan murid, sesama sahabat, rekan dan handai taulan merupakan perwujudan dari naluri mencintai. Naluri inilah yang menjadikan manusia lestari. Menikah, mengayomi, rasa kemanusian, saling tolong menolong merupakan bentuk dari naluri mencintai. 

Ketiga, naluri mempertahankan eksistensi diri. Ini adalah puncak terjadinya permasalahan dalam masyarakat. Setiap manusia memiliki potensi untuk senantiasa menunjukkan kemampuannya. Kecenderungan ingin dihargai, disanjung, mendapatkan kekuasaan di atas yang lainnya. Tidak jarang terjadinya perpecahan dalam sebuah lembaga karena tarik ulur kepentingan, egoisme dan rasa igin menang sendiri.

Ketiga naluri di atas harus bisa tunduk di bawah akal, yakni dengan kembali kepada tuntunan yang telah Allah tetapkan, teladan yang telah dibawa oleh Rasulullah. Menyembah dengan cara yang benar. Mencintai dengan cara yang benar. Dan mengelola amarah juga dengan cara yang benar. 

Terkait amarah, harus diakui ini perkara yang lebih rumit dari kedua hal lainnya. amarah merupakan pangkal dari segala masalah. Sombong, tinggi hati, membanggakan diri, menghina orang lain, suka perdebatan, melakukan perkara-perkara yang sebenarnya tidak bermanfaat, ambisi untuk harta, kedudukan yang lebih, dan lain-lain.

Seorang muslim dianjurkan untuk menjauhi akhlak-akhlak yang tercela dan mendidik dirinya dengan akhlak-akhlak yang mulia. Melatih jiwa dengan akhlak yang terpuji: sabar, lemah lembut, tidak tergesa-gesa dalam segala hal, tidak mudah marah. Rasulullah saw. berkali-kali mengingatkan bahwa kita harus mampu menahan diri dari marah. Sebab marah itu dapat mengundang kemurkaan Allah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Sa’id bin Musayyab menyatakan, "Pernah suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya, lalu ada seorang laki-laki yang mencaci dan menyakiti Abu Bakar, tetapi Abu Bakar diam saja. Kemudian ia menyakitinya yang kedua kali, tetapi Abu Bakar masih diam saja. Lalu ia menyakitinya yang ketiga kali, lalu Abu Bakar membalasnya. Maka Rasulullah saw. berdiri ketika Abu Bakar membalasnya, lalu Abu Bakar bertanya, 

"Apakah engkau marah kepadaku, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. bersabda, "Tadi Malaikat turun dari langit seraya mendustakan apa yang ia katakan terhadapmu, tetapi setelah engkau membalasnya, setan lalu duduk di situ, maka tidaklah pantas aku duduk karena setan duduk di situ."

Dalam riwayat lainnya, suatu ketika, saat kaum muslimin dilanda krisis pangan, Rasulullah berhutang 20 zak gandum pada seorang musyrikin yang bernama Zaid bin Sa’nah, untuk dibagikan kepada kaum muslimin. Zaid bin Sa’nah mendatangi baginda untuk menagih hutang padahal kala itu belum jatuh tempo. Sikapnya sangat kasar. Dia menghina Rasulullah dengan menyebutkan leluhur. 

“Wahai Muhammad, engkau ini keturunan bani Muthalib. Sudah terkenal bahwa bani kalian itu adalah golongan yang selalu terlambat membayar hutang.” Hardiknya.

Melihat keadaan ini, Umar bin Khatab yang saat itu tengah berada di sisi Rasulullah dilanda marah. Ia sangat berang melihat Zaid. Katanya, 

“Jika bukan karena aku khawatir kepada masalah yang lebih besar, sungguh akan aku pisahkan kepalamu dengan badan. Berani-beraninya engkau bicara begitu kepada Rasulullah,” Tegas Umar kepada Zaid. 

Sementara Rasululah, tidak ada sedikit pun rona amarah di wajahnya. Baginda menghadapinya dengan senyum dan sabar. Bahkan, dalam hal ini Rasulullah justru menegur Umar atas tindakannya menghardik laki-laki tersebu. Rasulullah berkata: “Hai Umar, aku dan dia tidak membutuhkan sikap seperti itu. Lebih baik engkau menyuruhku melunasi hutangku dan menyuruhnya menagih hutang dengan baik.” 

Setelah itu, beliau melunasi hutangnya, sebanyak 20 zak dan ditambah lagi 20 zak sebagai imbalan atas gertakan yang dilakukan oleh Umar. Akhirnya sikap Rasulullah saw. ini menjadi penyebab Zaid bin Sa’nah memeluk islam.

Seorang muslim hendaklah memiliki akhlak yang terpuji, berhias dengan kesabaran dan rasa malu, berpakaian tawadlu’ dan sayang kepada sesama. Dalam dirinya terpancar tanda-tanda keberanian, mampu menahan segala beban, berusaha untuk tidak mencelakai orang lain, pemaaf, penuh kesabaran dan mampu menahan emosi. Wajahnya senantiasa berseri-seri dalam keadaan apa pun. Maka dari itu, jangan marah!

Setiap manusia dianugrai potensi yang sama. Semestinya sama-sama bisa mengelola potensinya dengan cara yang benar, sebab setiap manusia sama-sama diberi akal. Harus kita akui, tak ada manusia yang luput dari dosa. Adakalanya Allah lenakan kita sejenak dalam maksiat, agar kita rasakan manisnya taubat. Melakukan kesalahan adalah tabiat, maka kembali kepada kebenaran adalah tuntutan syari’at. Sebagaimana yang tersurat dalam firman Allah,

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafqahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [QS. Ali 'Imran : 133 - 134]