5 Kota Wisata di China Yang Menyimpan Kecantikan Luar Biasa

Memiliki geografis yang sangat luas, China menjadi Negara yang menyajikan banyak pilihan untuk liburan. Ada puluhan tempat yang bisa dipilih jika melancong ke Negeri Tirai Bambu itu, mulai dari wisata ke tempat bersejarah sampai melihat modernisasi yang terjadi di kota-kota besar.

Namun, jika harus memilih lima saja dari kota untuk didatangi di China, berikut adalah tempat yang nggak boleh kamu lewatkan. Nggak cuma cantik, kota-kota ini juga punya keunikan masing-masing.

Pertama, Xi’an

foto via. thousandwonders[dot]net

Kota ini pernah menjadi Ibukota China di masa sebelum Masehi. Karena itulah, ada banyak peninggalan sejarah yang tersimpan di kota cantik ini. Mulai dari pagoda super besar yang menjulang di salah satu sisi kota, sampai masjid besar yang ada di sana.

Xi’an sudah lama ditinggali komunitas Muslim China dan mereka hidup berdampingan dengan damai. Dulunya, kota ini adalah salah satu jalur sutera yang menghubungkan perdagangan Eropa ke Asia.

Uniknya, kamu bisa tinggal di kota ini selama 72 jam tanpa memerlukan visa. Pemerintah kota setempat memberlakukan visa free untuk kedatangan singkat, baik untuk turis maupun pebisnis yang punya urusan di sana.

Kedua, Guilin


foto via. enterit[dot]no

Terpesona dengan sungai Li yang dikelilingi bebatuan tinggi menjulang nan indah? Pemandangan itu akan kamu lihat secara langsung di kota Guilin yang dikenal sebagai kota pegunungan karst terbesar di China.

Di Guilin terdapat kebun teras Longji, dua sungai dan dua danau yang indah. Namun yang paling dicari oleh wisatawan adalah naik perahu melintasi sungai Li yang menakjubkan. Pemerintah kota Guilin juga menyediakan layanan bebas visa selama 72 jam untuk wisatawan. Tapi kamu disarankan untuk tinggal di kota ini selama 4 hari agar bisa menjelajahi semua tempat dengan puas.

Ketiga, Hangzhou


via. chinadaily[dot]com[dot]cn

Kota ini dikenal dengan Danau Barat yang sangat indah. Bahkan Marcopolo pun menyebut Hangzhou sebagai tempat terindah setelah surga, kebayang kan bagaimana cantiknya kota ini?

Hangzhou juga dikenal dengan kebun tehnya yang membentang luas. Di sana kamu bisa melihat museum teh nasional dan mencicip teh tradisional Hangzhou yang harum dan memiliki citarasa khas. Tentu saja, jangan lupa untuk menonton pertunjukan di Danau Barat yang cantik.

Keempat, Huangshan
via. 360doc[dot]com

Megahnya Gunung Kuning ada di kota Huangshan, yang juga memiliki Desa Xidi dan Hongcun yang keindahannya sudah dikenal di seluruh dunia. Dari puncak pegunungan dan pedesaan di sini, kamu bisa melihat hamparan lautan awan yang luas dan menikmati indahnya desa kuno China yang masih menjaga tradisinya sampai sekarang.


Kelima, Chengdu

via[dot] travelwith[dot]me

Kalau kamu pengen melihat Panda dari dekat, di Chengdu tempatnya. Di sini adalah rumah bagi ratusan ekor Panda raksasa yang menggemaskan. Selain sebagai rumah, Chengdu juga pusat konservasi binatang yang paling dilindungi di China ini.

Di Chengdu, kamu bisa merasakan pengalaman memegang Panda secara langsung, memberi mereka makan dan tentu saja foto bareng. Selain itu Chengdu juga memiliki kuliner yang khas seperti Hot Pot Sichuan yang lezat.

Kota-kota yang sangat menarik ini bisa kamu kunjungi dengan China Airlines yang menyediakan banyak rute di China. Terbang ke China pun sekarang tak lagi jadi hal yang sulit. Semuanya mudah dengan aplikasi Traveloka yang menyediakan tiket China Airlines.

Maskapai China Airlines juga dikenal sebagai kebanggaan Negeri Tirai Bambu itu. Jadi kamu nggak perlu khawatir soal layanan, karena China Airlines pasti memberikan yang terbaik buat penumpang. Ayo berlibur!

Wisata Alam di Aceh, di Belakang Rumah juga Boleh

Ketika jenuh dengan sekelumit kerjaan di kantor yang menumpuk, setoran tulisan dan sebagainya, seyogyanya kita ingin keluar dari bingkai yang sesak dengan tugas itu. Melayangkan pandangan pada alam terbuka untuk menyegarkan kembali pikiran. Sebagian orang yang sejahtera secara finansial pasti memilih tempat-tempat tertentu sebagai destinasi wisata mereka. Katakanlah ke Bali, Jogja Korea, atau sekalian beribadah umrah ke Arab Saudi sana.

Well, itu tentu saja menghabiskan banyak uang. Tapi, bagi saya yang kelas bawah, tidak perlu berkecil hati. Kita punya alam luas terbentang sebagai tempat wisata. Di Aceh ini, untuk memerolah tempat wisata alam, tidak perlu jauh-jauh berjalan. Saya pribadi biasanya menghabiskan waktu di pematang sawah, entah itu pagi-pagi maupun petang. Saya rasa ini sah disebut wisata, sebab yang kita nikmati adalah keindahan alam. 


Ini pemandangan dari atas jembatan irigasi Timpo. Kurang lebih tiga puluh meter dari rumah saya. Kalau teman-teman datang ke rumah dan ingin saya ajak ke sini, jangan sungkan-sungkan. Bilang saja, saya jabanin. Kita hanya butuh sedikit tenaga untuk jalan beberapa langkah, lekas tiba. Kalau langsung dengan kendaraan boleh juga, tapi kurang asik rasanya. Saya memilih jalan kaki, biar lebih berkesan. 

Dari atas jembatan ini, tampak sebadan gunung yang "tiduran" di sana. Itu! Di ujung irigasi itu, salah satu gunung yang saya sukai. Kelihatannya dekat. Tapi, bahkan setelah tiba di Lhoknga, gunung itu masih terlihat jauh. Selain gunung, saya juga menyukai hamparan sawah. Musim bajak hanya digenangi dengan air dan lumpur. Setelah itu, musim tanam. Sawah berubah menjadi hamparan hijau ranau. Dua bulan kemudian, berubah lagi. Hamparan menguning dengan bulir padi terisi penuh. Angin berhembus mengayunkan batang padi, seperti senandung yang tak jemu dipendengaran. Bak lukisan yang tak bosan dipandang.

Berikut beberapa spot lainnya.

Pohon Batok di pematang sawah. Tidak jauh dari jembatan pada gambar di atas

Ini view yang paling menarik. Kita dapat melihat sunset keluar dari balik gunung itu, di pagi hari

Butuh atau Ingin?

Moana the Movie


Dear, Sahabat blogger!

Setelah sekian lama vacum dari menulis di laman pribadi ini, sekarang saya akan memulainya kembali. Sayang sekali rumah ini sudah hampir meujeulabah. Postingan terakhir di sini tentang Pliek U, dan itu sudah tiga bulan yang lalu. Sangat menyedihkan, bukan? Tapi tidak berarti saya benar-benar berhenti menulis selama itu, bukan begitu. Sebenarnya saya sering "lalai" dengan media sosial yang lain. Beberapa di antaranya semoga memengaruhi buku tabungan (Hahaha).

Baiklah, mari kita fokus. Ini tentang membedakan ingin dan butuh. Sering kita mengeluh tentang doa yang tidak dikabulkan. Beberapa kali doa yang kita panjatkan dengan bunyi yang sama, nyatanya belum ada jawaban dari pihak yang kita tujukan doa itu. Nah, bisa jadi, apa-apa yang kita minta bukanlah hal yang kita butuhkan. Hanya saja kita menginginkannya.

Jadi begini, barangkali kita meminta mobil, dengan pendapatan bulanan tidak memadai untuk meng-cover biaya operasional: bensin, service bulanan dan pajak tahunan. Jika pun kita sanggup untuk itu, namun ada hal lain yang harus didahulukan, misalnya; Tuhan mengehedaki kita untuk fokus membangun rumah. Maka, Allah menunda mengabulkan permintaan kita untuk memiliki mobil. Syukuri saja sepeda motor, lebih irit pengeluaran. Jika sesekali butuh mobil, sangat urgen, kita bisa menyewanya. Jasa rental sekarang tersedia di mana-mana.

Antara butuh dan ingin, itu dua hal yang berbeda signifikan. Kita butuh makan; kita ingin makan. Mari saya jabarkan lebih rinci. Sehari kita butuh makan tiga kali. Sekali makan, satu porsi. Nasi sepiring, plus dua potong lauk, sayur, segelas air putih, atau jus boleh juga. Kenyang sekali, bukan? Lalu, karena ingin, kita akhirnya membeli satu cup es krim, ngopi, roti, dan buah potong juga. Itu ingin, saudara-saudara.

Selain itu, tentang pakaian, juga demikian. Seseorang mengenakan dua atau tiga set pakaian sehari, standarnya begitu. Bahkan ada yang satu pasang dipakai dari pagi sampai malam. Katakanlah kita harus memiliki empat belas helai pakaian, untuk dipakai selama seminggu (tujuh hari). Nyatanya, setiap kita nyaris memiliki satu lemari berisikan baju, penuh. Tak teringat berapa jumlah helainya, tidak mudah dikira karena memang banyak. Benar demikian? Coba sekarang ingat-ingat, berapa helai kerudung sahabat, berapa lembar baju, berapa potong rok? Terusan/gamis/jubah, ada? 

Selanjutnya, sandal. Baik, kita butuh sepatu, untuk ke kampus, ke sekolah, ke kantor. Sebenarnya kita hanya butuh satu sepatu. Baiklah, dua saja. Satu sepatu high hels untuk acara resmi, satu lagi sepatu biasa saja. Tapi, nyatanya, berapa pasang sepatu kita di rak? Kita ingin sepatu dengan warna yang seragam dengan tas dan baju. Nah, tas kita ada berapa pcs? Nyatanya kita hanya butuh satu atau dua, kan? 

Kita ingin tampil maching. Ingin, bukan butuh. Seringnya, yang membuat kita tertekan, tidak bahagia, gelisah adalah banyaknya keinginan. Ingin ini dan itu, di luar kebutuhan. Jika ingin mengurangi tekanan hidup, mulai sekarang, perkecil ruang ingin. Fokus terhadap butuh. Sepakat, sahabat?

Anyway, mohon maaf untuk gambar yang tidak mach dengan konten postingan. Saya rasa itu tidak begitu penting. Hehehehe

Kajian Variasi Fermentor dan Lama Fermentasi terhadap Kualitas dan Kuantitas Minyak Simplah dan Minyak Pliek U



Majalah Warta Unsyiah beserta Surat Ucapan Terimakasih 

Alhamdulillah. Jika ingatan saya tidak keliru, ini artikel saya ke 11 yang dimuat di Warta Unsyiah. Hal pertama yang harus disyukuri adalah anugrah kemampuan menulis yang Allah titipkan kepada saya. Semestinya kemampuan itu harus saya kembangkan, tingkatkan, manfaatkan, sebagai wujud syukur. Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah.

FYI. Artikel ini merupakan rangkuman dari penelitian saya, karya ilmiah yang mengantarkan saya ke gerbang sidang, memeroleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian dalam rentang waktu study 3 tahun 11 bulan. Di ruangan sidang, penguji dan pembimbing bersatu menjadi 5 orang yang "seram", berusaha mematahkan semangat anak kampung. Namun demikian, panas terik sudah kita rasa, hujan rintik sudah biasa. Akhirnya, anak kampung mampu memenangkan hati mereka. Mengantongi nilai sidang 91,4. Skripsi saya diberi nilai A 

 Demikian selengkapnya


Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Minyak Simplah dan Minyak Pliek U

Kelapa merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak kegunaan. Masyarakat tradisional Aceh sering memanfaatkan daging buah kelapa yang sudah tua sebagai bahan baku pembuatan minyak. Pengolahan yang dilakukan oleh masyarakat Aceh dengan cara yang sederhana, yakni pengolahan Pliek U. Pengolahan ini dapat menghasilkan tiga produk sekaligus, yaitu minyak Simplah, minyak Pliek U serta Pliek U itu sendiri, yang kerap dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan baku utama masakan khas Aceh.

Masyarakat umumnya melakukan pengolahan minyak Pliek U secara tradisional tanpa adanya acuan baku mengenai proses yang baik. Hasil yang diperoleh dari pengolahan yang tidak baik kerap sekali mutunya rendah, kondisinya cepat tengik dan warnanya tidak jernih, sehingga mengakibatkan rendahnya tingkat ketertarikan konsumen.

Adapun hal utama yang harus diperhatikan pada pembutan Pliek U adalah kondisi fermentor. Fermentor -atau lebih dikenal juga dengan nama bioreaktor- merupakan tempat atau wadah yang mampu menyediakan sebuah kondisi biologis, dapat membantu terjadinya penguraian dari bahan baku menjadi bahan yang diinginkan. 

Selain itu, yang tak kalah penting pula ialah jangka waktu yang dibutuhkan untuk fermentasi. Lamanya proses fermentasi tentu saja memberi pengaruh tersendiri terhadap kualitas dan kuantitas minyak. Oleh karena itu, Saya melakukan pengamatan terhadap pengaruh lama fermentasi dan kondisi fermentor terhadap bahan pembuat Pliek U, sehingga dapat menghasilkan minyak Pliek U dan minyak Simplah yang berkualitas.

Saya melakukan percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) faktorial 3 x 3 yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor kondisi fermentor (F) dan lama fermentasi (L). Faktor kondisi fermentor (F) terdiri atas tiga taraf yaitu: F1= fermentor tertutup rapat, F2= fermentor tertutup pelepah pinang, dan F3= fermentor terbuka. Faktor lama fermentasi (L) terdiri atas tiga taraf yaitu: L1= selama 6 hari, L2= selama 8 hari dan L3= selama 10 hari. Dengan demikian terdapat 9 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Pengujian hasil yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA = Analisysis of Variance).

Tahap pertama,  Pembuatan Pliek U

Kelapa tua (berumur ± 12 bulan, 4/5 bagian kulit kering, berwarna coklat, kandungn air berkurang dan bila digoyang berbunyi nyaring) dikupas kulit luarnya guna membuang sabut, kemudian dibelah tanpa terbuka untuk dibuang airnya. Setelah itu disimpan selama dua hari pada suhu ruang. Kemudian, kelapa dikukur dan dimasukkan ke dalam fermentor masing-masing sebanyak 2 kg kelapa kukur basah. 

Diamkan selama waktu penyimpanan tertentu untuk fermentasi. Apabila terdapat minyak pada kondisi wadah tertentu setelah beberapa hari fermentasi maka diambil sebagai sampel yang akan diuji, minyak tersebut disebut minyak Simplah.

Tahap kedua. Penjemuran dan pengepresan Pliek U

Itu yang sedang menjemur Plie U, Saya. Sesungguhnya, Saya! Saat-saat "mengerikan" sepanjang penelitian. 2010

Pliek U basah yang dihasilkan dari fermentasi daging buah kelapa tersebut kemudian dijemur pada sinar matahari. Apabila Pliek U sudah terasa hangat maka dilakukan pengepresan untuk diambil minyaknya, pengepresan dilakuakan oleh satu orang untuk setiap perlakuan agar tekanan pengepresan yang diberikan dapat diasumsikan seragam. Setelah pengepresan, Pliek U dijemur kembali untuk pengepresan selanjutnya, proses ini dilakukan secara berulang-ulang hinggá didapati kondisi Pliek U tersebut kering. Minyak yang diperoleh dari hasil ekstraksi ini disebut minyak Pliek U.

Rendemen dihitung untuk mengetahui banyaknya minyak Simplah dan minyak Pliek U yang diperoleh dari hasil ekstraksi Pliek U. Rendemen ditentukan dengan menghitung bobot minyak yang dihasilkan lalu dibandingkan dengan bobot bahan baku yang digunakan.

Rendemin minyak Simplah

Dari masing-masing dua kilogram daging buah kelapa yang difermentasi, jumlah rendemen minyak Simplah tertinggi terdapat pada perlakuan fermentasi 10 hari dalam fermentor terbuka. Kondisi fermentor terbuka mengakibatkan fermentasi aerob berlangsung baik karena ketersediaan oksigen yang cukup. 

Berbeda halnya pada perlakuan fermentor tertutup rapat, terjadinya kekurangan oksigen pada bahan mengakibatkan fermentasi aerob diperhambat, sehingga selama proses fermentasi berlangsung tidak diperoleh minyak Simplah. Perlakuan lama fermentasi 6 hari juga tidak terdapat minyak Simplah akibat singkatnya lama fermentasi. Nyatanya, semakin lama proses fermentasi maka rendemen minyak Simplah yang dihasilkan semakin tinggi. Hal ini terjadi karena enzim terus bekerja memecah protein, merusak sistem emulsi dalam daging kelapa hingga emulsi habis. 

Rendemen minyak Pliek U

Rendemen minyak Pliek U tertinggi terdapat pada perlakuan fermentasi 10 hari dalam fermentor tertutup rapat yaitu 26.410%. Hal ini terjadi karena pada perlakuan fermentor tertutup rapat tidak terdapat minyak Simplah, seluruh potensi minyak pada bahan yang kita gunakan diperoleh pada minyak Pliek U. 

Rendemen Minyak Total

Rendemen minyak total adalah keseluruhan rendemen minyak yang diperoleh dari bahan baku yang digunakan untuk tiap-tiap perlakuan pada percobaan, yakni dua kilogram daging buah kelapa. Jumlah rendemen minyak total tertinggi terdapat pada perlakuan lama fermentasi 10 hari dalam fermentor terbuka yaitu 27.800 %. Kita menyadari bahwa, secara kuantitas, semakin lama difermentasi maka semakin banyak rendemen yang diperoleh, namun tentu harus kita perhatikan lagi sisi kualitasnya. Oleh karena itu, dilakukan uji Organoleptik terhadap seluruh sampel hasil percobaan.

Uji Organoleptik (uji deskripsi) merupakan penilaian sifat sensori yang menggambarkan keseluruhan sifat minyak Pliek U dan minyak Simplah. Uji deskripsi juga dapat digunakan untuk menilai tingkat pengembangan kualitas produk dan sebagai pengukuran pengawasan mutu. Adapun uji organoleptik terhadap minyak meliputi aroma dan warna. 

Rata-rata panelis memberikan tanggapan bahwa aroma minyak Simplah yang dihasilkan dalam percobaan ini tidak tengik. Berbeda dengan minyak Pliek U, beberapa diantaranya sudah sangat tengik, terutama yang diberi perlakuan tertutup rapat. Bau tengik pada minyak terdapat secara alami. Hal terjadi karena pembentukan asam-asam yang berantai sangat pendek sebagai hasil penguraian pada kerusakan minyak yang dapat mempengaruhi aroma minyak. 

Demikian pula halnya dengan warna, kondisi fermentor tertutup rapat dan lamanya proses fermentasi mengakibatkan minyak keruh. Perlu diketahui bahwa, semakin lama difermentasi maka kadar air minyak Simplah dan minyak Pliek U untuk setiap kondisi fermentor semakin meningkat. Hal ini akan mengakibatkan asam lemak bebas dan bilangan peroksida juga semakin lama semakin meningkat. 

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengujian Organoleptik dan pengolahan data dengan ANOVA, tolak ukur: kadar air, bilangan peroksida, total rendemen, maka dapat disimpulkan bahwa minyak Simplah terbaik diperoleh pada perlakuan lama fermentasi 8 hari di dalam fermentor tertutup pelepah pinang. Sedangkan minyak Pliek U terbaik diperoleh pada perlakuan lama fermentasi 6 hari di dalam fermentor terbuka. Semoga ini bermanfaat bagi masyarakat Aceh tradisional yang melakukan pengolahan Pliek U, agar dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas minyak Simplah dan minyak Pliek U, sehingga meningkatkan nilai jual produk itu sendiri. 

Tulisan ini dimuat di Warta Unsyiah 

Sikap Marah-marah Hanya akan Membunuhmu

Artikel ini pernah dimuat di Warta Unsyiah, Edisi 192/ Oktober 2015


Manusia adalah makhluk spesial yang diciptakan oleh Allah. Makhluk dengan bentuk yang paling sempurna, bahkan lebih sempurna dari penciptaan Malaikat. Malaikat hanya ditugaskan untuk patuh pada apa-apa yang ditetapkan, tanpa memiliki ranah ikhtiyar. Oleh karena Malaikat tidak diberi nafsu. Lain pula dengan hewan yang tidak dilengkapi dengan akal, hewan hanya mengandalkan naluri agar lestrari. 

Allah memberikan potensi akal kepada manusia, namun juga menyematkan nafsu padanya. Akal merupakan serangkaian proses berpikir yang terdiri dari empat komponen: fakta, indra, otak dan informasi sebelumya. Fakta yang diamati dengan indra, kemudian disalurkan ke otak dalam bentuk sinyal listrik, kemudian otak menerjemahkan suatu kesimpulan atas apa yang diamati tersebut berdasarkan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. 

Adapun fungsi akal yaitu menentukan mana hal yang terbenar untuk dilakukan dan mana yang semestinya ditinggalkan. Akal harus mampu menundukkan nafsu di bawahnya. Akal bertugas mengkaji aturan-aturan yang telah Allah tetapkan, bukan menciptakan aturan-aturan berdasarkan kehendaknya. Satu simpul permasalah besar yang harus dipecahkan oleh akal adalah tentang: dari mana manusia berasal, di kehidupan ini apa yang harus dilakukan, dan akan kemana setelah manusia melewati kematian.

Selain potensi akal, Allah juga memberi kita naluri. Potensi yang tak kalah pentingnya. Naluri pada manusia secara garis besar bisa diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok besar. Pertama, naluri mensucikan sesuatu. Setiap manusia menyadari bahwa dirinya lemah. Sejatinya setiap yang lemah membutuhkan sesuatu yang kuat sebagai tempat bersandar, bergantung. Sesuatu yang lebih besar itu kemudian diagungkan, disucikan, dan disembah. Inilah naluri yang menjadikan setiap orang butuh beragama. Bahkan atheis, meskipun mereka mengingkari tuhan, namun mereka menjadikan Karl Marx, Lenin, dan Stelin sebagai sosok yang diagungkan. 

Kedua, naluri mencintai. Ikatan kasih sayang yang terbentuk baik antara ibu dengan anak, suami dengan istri, guru dengan murid, sesama sahabat, rekan dan handai taulan merupakan perwujudan dari naluri mencintai. Naluri inilah yang menjadikan manusia lestari. Menikah, mengayomi, rasa kemanusian, saling tolong menolong merupakan bentuk dari naluri mencintai. 

Ketiga, naluri mempertahankan eksistensi diri. Ini adalah puncak terjadinya permasalahan dalam masyarakat. Setiap manusia memiliki potensi untuk senantiasa menunjukkan kemampuannya. Kecenderungan ingin dihargai, disanjung, mendapatkan kekuasaan di atas yang lainnya. Tidak jarang terjadinya perpecahan dalam sebuah lembaga karena tarik ulur kepentingan, egoisme dan rasa igin menang sendiri.

Ketiga naluri di atas harus bisa tunduk di bawah akal, yakni dengan kembali kepada tuntunan yang telah Allah tetapkan, teladan yang telah dibawa oleh Rasulullah. Menyembah dengan cara yang benar. Mencintai dengan cara yang benar. Dan mengelola amarah juga dengan cara yang benar. 

Terkait amarah, harus diakui ini perkara yang lebih rumit dari kedua hal lainnya. amarah merupakan pangkal dari segala masalah. Sombong, tinggi hati, membanggakan diri, menghina orang lain, suka perdebatan, melakukan perkara-perkara yang sebenarnya tidak bermanfaat, ambisi untuk harta, kedudukan yang lebih, dan lain-lain.

Seorang muslim dianjurkan untuk menjauhi akhlak-akhlak yang tercela dan mendidik dirinya dengan akhlak-akhlak yang mulia. Melatih jiwa dengan akhlak yang terpuji: sabar, lemah lembut, tidak tergesa-gesa dalam segala hal, tidak mudah marah. Rasulullah saw. berkali-kali mengingatkan bahwa kita harus mampu menahan diri dari marah. Sebab marah itu dapat mengundang kemurkaan Allah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Sa’id bin Musayyab menyatakan, "Pernah suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya, lalu ada seorang laki-laki yang mencaci dan menyakiti Abu Bakar, tetapi Abu Bakar diam saja. Kemudian ia menyakitinya yang kedua kali, tetapi Abu Bakar masih diam saja. Lalu ia menyakitinya yang ketiga kali, lalu Abu Bakar membalasnya. Maka Rasulullah saw. berdiri ketika Abu Bakar membalasnya, lalu Abu Bakar bertanya, 

"Apakah engkau marah kepadaku, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. bersabda, "Tadi Malaikat turun dari langit seraya mendustakan apa yang ia katakan terhadapmu, tetapi setelah engkau membalasnya, setan lalu duduk di situ, maka tidaklah pantas aku duduk karena setan duduk di situ."

Dalam riwayat lainnya, suatu ketika, saat kaum muslimin dilanda krisis pangan, Rasulullah berhutang 20 zak gandum pada seorang musyrikin yang bernama Zaid bin Sa’nah, untuk dibagikan kepada kaum muslimin. Zaid bin Sa’nah mendatangi baginda untuk menagih hutang padahal kala itu belum jatuh tempo. Sikapnya sangat kasar. Dia menghina Rasulullah dengan menyebutkan leluhur. 

“Wahai Muhammad, engkau ini keturunan bani Muthalib. Sudah terkenal bahwa bani kalian itu adalah golongan yang selalu terlambat membayar hutang.” Hardiknya.

Melihat keadaan ini, Umar bin Khatab yang saat itu tengah berada di sisi Rasulullah dilanda marah. Ia sangat berang melihat Zaid. Katanya, 

“Jika bukan karena aku khawatir kepada masalah yang lebih besar, sungguh akan aku pisahkan kepalamu dengan badan. Berani-beraninya engkau bicara begitu kepada Rasulullah,” Tegas Umar kepada Zaid. 

Sementara Rasululah, tidak ada sedikit pun rona amarah di wajahnya. Baginda menghadapinya dengan senyum dan sabar. Bahkan, dalam hal ini Rasulullah justru menegur Umar atas tindakannya menghardik laki-laki tersebu. Rasulullah berkata: “Hai Umar, aku dan dia tidak membutuhkan sikap seperti itu. Lebih baik engkau menyuruhku melunasi hutangku dan menyuruhnya menagih hutang dengan baik.” 

Setelah itu, beliau melunasi hutangnya, sebanyak 20 zak dan ditambah lagi 20 zak sebagai imbalan atas gertakan yang dilakukan oleh Umar. Akhirnya sikap Rasulullah saw. ini menjadi penyebab Zaid bin Sa’nah memeluk islam.

Seorang muslim hendaklah memiliki akhlak yang terpuji, berhias dengan kesabaran dan rasa malu, berpakaian tawadlu’ dan sayang kepada sesama. Dalam dirinya terpancar tanda-tanda keberanian, mampu menahan segala beban, berusaha untuk tidak mencelakai orang lain, pemaaf, penuh kesabaran dan mampu menahan emosi. Wajahnya senantiasa berseri-seri dalam keadaan apa pun. Maka dari itu, jangan marah!

Setiap manusia dianugrai potensi yang sama. Semestinya sama-sama bisa mengelola potensinya dengan cara yang benar, sebab setiap manusia sama-sama diberi akal. Harus kita akui, tak ada manusia yang luput dari dosa. Adakalanya Allah lenakan kita sejenak dalam maksiat, agar kita rasakan manisnya taubat. Melakukan kesalahan adalah tabiat, maka kembali kepada kebenaran adalah tuntutan syari’at. Sebagaimana yang tersurat dalam firman Allah,

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafqahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [QS. Ali 'Imran : 133 - 134]



Urgensitas Orangtua Sadar Pendidikan (Opini)

Opini saya yang dimuat oleh Warta Kota

Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Dian Sastro, bahwa: "Entah ingin menjadi wanita karir atau hanya Ibu rumah tangga, yang jelas, seorang wanita harus pintar. Sebab ia akan berperan menjadi guru pertama bagi anak-anaknya." Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan dalam agama, bahwa: "Al-ummu madrasatul ula (Ibu adalah sekolah pertama). 

Namun demikian, bukan berarti semua tanggung jawab pendidikan terhadap anak dipundakkan pada Ibu. Itu keliru. Setidaknya ada tiga komponen yang berperan dalam hal ini. Penanggung jawab atas pendidikan anak adalah: Ayah, Ibu dan lingkungan. 

Di kampung, saya melihat banyak hal-hal yang tabu masih kental dianggap tabu. Tidak serta-merta dijadikan layak. Perubahan zaman tidak menjadikan orang tua berubah standar. Tetap saja anak gadis dilarang berkeliaran di luar rumah setelah magrib, kecuali atas alasan yang mendesak ('udhor). Demikian juga dengan lingkungan, masih kentara dengan kontrol sosial. 

Masyarakat masih peduli jika ada ketidakwajaran yang terjadi, semisal interaksi non mahram. Melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma dan agama, seperti berpacaran dan sejenisnya akan menjadi buah bibir di masyarakat. Seorang laki-laki berkeliaran dengan mengenakan celana pendek (di atas lutut) dipandang sinis oleh masyarakat. Saya menganggap hal ini pantas dan penting, masyarakat berperan sebagai social control.

Di lain sisi, bukannya saya tidak memihak pada lingkungan kota. Diakui atau tidak, di lingkungan kota, peran orang tua harus jauh lebih besar, sebab lingkungan kerap sekali acuh. Barangkali sebagaimana yang saya sampaikan tadi, perubahan zaman mengakibatkan terjadinya perubahan standar. Jika seseorang terlalu fundamental dalam menyikapi agama, kerap sekali dianggap tidak berkembang. Tidak gaul. Makanya, orang tua harus berupaya ekstra untuk mencerdaskan agama kepada anak-anaknya.

Bicara tentang pendidikan, orang tua dan lingkungan kota, saya pernah menulis sebuah opini yang dimuat oleh Warta Kota Banda Aceh. Demikian selengkapnya. 

##

Urgensitas Orangtua Sadar Pendidikan

Pendidikan dasar dimulai dari keluarga. Pembentukan karakter hingga persiapan kedewasaan semua berawal dari ruang lingkup paling sederhana, yakni keluarga. Pendidikan bahkan telah dimulai sejak anak dalam kandungan, lanjut kemudian, dalam buaian. Semua orang tua adalah guru pertama untuk anak-anak mereka. Bagi siapa pun, Madrasah tempat mula-mula mereka menuai ilmu ialah Ayah dan Ibu. 

Sebagaimana yang kita ketahui tentang masyarakat Aceh, bahwa pola hidup dalam keseharian kentara dengan nilai-nilai moral dan agama. Kebiasaan yang telah menjadi budayanya pun tidak terlepas dari esensi syariat Islam. Bahkan, dalam lullaby, mereka menyisipkan ajaran agama bagi anak-anaknya.

Saya ingat betul bagaimana orang tua kita men-doda-idi (senandung pengantar tidur) anak-anaknya, semasa kecil. Mereka mengajak kepada ketauhidan. Syair-syair yang dibacakan berupa seruan untuk menyembah Allah yang Maha Esa, ajakan kepada perjuangan membela agama, sebagaimana halnya Hikayat Prang Sabi. 

Meskipun anak-anak yang mendengarkan senandung ini belum mengerti -sebab masih bayi- dan belum paham bahasa, namun upaya ini bukan tidak berarti sama sekali. Justru ucapan-ucapan penuh makna dari orang tuanya ini tertanam kuat dalam brain storming mereka, yang kelak akan menjadi pangkal pemahamannya, saat beranjak tumbuh menjadi dewasa.

Tidak terhenti sampai di situ, pendidikan terus berlanjut. Sebagai makhluk sosial, tentu saja setiap keluarga membutuhkan keluarga lainnya. Kesatuan interaksi anggota keluarga dalam sebuah lingkungan inilah yang akan membentuk masyarakat. 

Dalam intraksi itu, tiap keluarga tentunya berangkat dari latar belakang yang berbeda, sehingga berbeda pula pola didikannya. Segala kemungkinan bisa terjadi saat orang tua melepaskan anaknya ke lingkungan. Pengaruh pemikiran luar dalam interaksi sosial tentu saja berdampak besar bagi anak. Bisa berupa nilai baik, maupun buruk. Anak-anak juga menyerap pelajaran dari interaksinya dengan lingkungan.

Lingkungan yang baik akan memberi pengaruh baik. Sebaliknya, lingkungan yang buruk akan memberi dampak buruk bagi anak. Oleh karena itu, orangtualah yang bertanggung jawab memilih lingkungan yang layak bagi anak.

Dalam hal ini, harus kita akui, lingkungan kota cenderung rentan terkena pergeseran nilai-nilai norma, mengingat di sana tempat berlangsung interaksi dengan berbagai latar belakang, bahkan dengan para pendatang yang memiliki entitas budaya yang beda. Kota merupakan tempat berkumpulnya banyak orang, beragam suku dan bahasa, serta kebudayaan. Sudah semestinya masyarakat kota ekstra peduli terhadap pendidikan anak, guna menangkal pengaruh bebas.

Tidak heran bila kita mendapati masyarakat kota lebih sadar pendidikan. Banyak orang tua mengisi waktu luang anaknya dengan memberikan pendidikan tambahan, selain sekolah. Beberapa orang tua mendatangkan guru privat ke rumah. Sebagian yang lain mengantarkan anak-anaknya ke tempat kursus belajar. 

Memberikan pendidikan secara terus menerus tentu saja bukan bentuk diskriminan, namun justru upaya untuk mengatasi pengaruh buruk lingkungan. Dari pada mereka dibiarkan bermain ke lingkungan bebas, lebih baik diberi didikan sambil belajar. Dengan demikian, dapat memperoleh dua keuntungan: ilmu dan keceriaan. Bermain sambil belajar di bawah pengawasan guru asuh tentu akan berdampak baik bagi anak.

Tidak hanya mengenai pendidikan formal, bahkan hal yang paling ditekankan bagi anak-anak adalah pendidikan agama. Di Banda Aceh, kita mendapati puluhan Masjid mengadakan program pendidikan agama, baik TPA maupun TPQ. Salah satu di antaranya Masjid Baitush Shalihin, Ulee Kareng. 

Proses belajar dimulai setelah istirahat siang, menjelang sore. Bapak dan ibu antusias mengantar anaknya untuk mengaji. Beberapa kesempatan saya menunaikan shalat Asar di sini. Terlihat ratusan anak-anak sedang mengikuti pendidikan Alquran bersama guru ngajinya. Duduk berlingkar dalam majlis. Anak-anak berbusana muslim, rapi. Di hadapannya rekal terbuka, tempat meletakkan Alquran maupun Iqra. 

Materi pelajaran yang diberikan cukup vairatif, sesuai dengan usia anak. Untuk pemula, terlebih dahulu pengenalan huruf hijaiyah. Apabila telah mumpuni, baru dikenalkan lagi ejaan Arab, baris dan tanda. Setingkat di atasnya diajarkan mengenai tajwid, membetulkan bacaan hingga program tahfiz (menghafal alquran). Selain itu, sebagai pelengkap, juga diselingi pelajaran mengenai tata cara ibadah (fiqh) dan akidah akhlak. Tentu saja ini pemandangan yang sangat menarik.

Tidak hanya di Masjid Shalihin Ulee Kareng, bahkan banyak titik lainnya, diantaranya: TPA di Masjid Raya Baiturrahman. TPA di Masjid Lampineung, TPA di Masjid Lambhuk dan banyak sekali lainnya. Hampir seluruh Masjid mengadakan pendidikan semacam ini. Tenaga pegangajarnya juga dari warga sekitar Kota Banda Aceh. 

Tenaga didik yang andal akan memberikan asupan ilmu yang baik kepada anak-anak. Kunci utama kesuksesan belajar adalah guru, baik itu orang tua maupun guru di sekolah, serta guru di tempat pengajian. Dalam hal ini, kita tahu bahwa Aceh mempunyai banyak pemuda dan pemudi yang menguasai pendidikan agama. 

Orang tua yang sadar pendidikan tentu saja akan memberikan didikan terbaik kepada anak-anaknya. Dengan pendidikan dari rumah, ditambah lagi pendidikan dari sekolah, dilanjutkan pendidikan di tempat pengajian, kita berharap dapat terwujudnya generasi kota yang unggul. Generasi yang berkualitas. Sebab, sebagaimana yang kita sampaikan di awal, bahwa dasar kebangkitan bangsa dimulai dari keluarga sebagai kelompok masyarakat paling kecil, dan orang tua memegang peran utama.

##

Terima kasih telah mampir. Nikmati juga postingan terkait orang tua dan pendidikan terhadap anak. Saya tulis dalam bahasa lokal: Teks Pidato Cilik dalam Bahasa Aceh: Gaseh Salah Meuphom

Meuseuraya. Masyarakat Babah Jurong bersama Mapesa.

Masyarakat Babah Jurong

Satu dan lain hal membuat saya tidak begitu aktif di Facebook dalam beberapa minggu belakangan. Harus saya akui, banyak sekali informasi yang terlambat saya ketahui. Seumpama surat kabar, Facebook berperan penting bagi saya, untuk memeroleh informasi mengenai hal-hal yang terjadi di sekitar, saban hari. Tidak mengakses social media menyebabkan saya ketinggalan berita. Salah satunya, kegiatan Meuseuraya di Gampong Babah Jurong. 

Meuseuraya ialah istilah lokal untuk kegiatan gotong royong. Dalam Hal ini, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) kerap sekali melakukan meuseuraya, guna menyelamatkan situs-situs sumber sejarah baku, yang sering diabaikan oleh masyarakat pada umumnya. Kali ini, Mapesa melakukan gotong royong untuk membersihkan area pemakaman bersejarah di Gampong Babah Jurong. Menata kembali nisan-nisan yang mengandung banyak informasi mengenai zaman di mana mereka berasal. 
Team Mapesa sedang menata kembali  nisan yang tumbang di Babah Jurong

Walhal, Gampong Babah Jurong bersebelahan dengan Gampong Lambaed - daerah kediaman saya. Sayang sekali, saya mengetahui kegiatan meuseuraya di sana, dua minggu setelah acaranya usai. Kalau saja saya tahu lebih awal, tentu saya berniat untuk hadir juga. Setidaknya, keterlibatan kita merupakan bukti nyata bahwa kita mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh teman-teman Mapesa. Bukti bahwa team Mapesa tidak berjuang sendiri.

Sebagai penebus kealpaan, saya berusaha mengumpulkan informasi untuk ditulis, terkait kegiatan meuseuraya di Gampong Babah Jurong. Sebagaimana anjuran sekjen Mapesa (Ayi AL Yusri), saya menghubungi Ketua Mapesa (Mizuar Mahdi Al – Asyi), untuk memeroleh beberapa keterangan. Beruntungnya beliau sangat antusias berbagi informasi.

Bapak Hasballah. Pemilik lahan pemakaman bersejarah di Cot Peutano. Beliau juga Kadus di Babah Jurong

Berdasarkan keterangan dari ketua Mapesa, kegiatan meuseuraya di Gampong Babah Jurong ini berawal dari kegiatan meuseuraya di Gampong Cot Peutano. Saat itu, Sekjen Mapesa hendak mengurus surat izin untuk meuseuraya di sana. Ternyata, pemilik lahan pemakaman di Cot Peutano merupakan salah seorang Kepada Dusun di Gampong Babah Jurong. Beliaulah yang mengabarkan bahwa masih ada komplek pemakaman yang lebih luas dan tak terurus lainnya, di Gampong Babah Jurong. 

Setelah mendapatkan kabar dari Kadus tersebut, keesokan harinya Sekjen Mapesa bersama Ketua Mapesa melakukan observasi ke lapangan, untuk memastikan keberadaan area pemakaman tersebut. Pada 16 Oktober, team Mapesa melakukan meuseuraya di Gampong Cot Peutano. Setelah shalat zuhur, saat meuseuraya di Gampong Cot Peutano selesai, dilanjutkan di Gampong Babah Jurong yang bersebelahan dengan Cot Peutano. Keadaan saat itu tengah hujan. Meuseuraya dilakukan hingga jam 17:30, petang. 

Kondisi nisan yang tumbang.

Area pemakaman bersejarah Di Gampong Babah Jurong ini sangat memerihatinkan. Nyaris semua nisannya telah tumbang. Pepohonan rindang dan semak belukar menjadikan area pekuburan ini tak ubahnya rimba. Berdasarkan keterangan dari warga, bahkan tempat ini telah menjadi sarang babi. Di malam hari, ada belasan babi mendiami tempat ini. Angkanya bisa sampai 15 ekor, agaknya. 

Masyarakat setempat tidak ada yang berani memasuki area pemakaman ini. Selain karena keadaannya sudah menjadi hutan belantara, juga ada kepercayaan (mitos-mitos) yang berkembang, bahwa berbagai macam hal akan terjadi bila memasuki area pemakaman ini. Oleh karena itu, kebanyakan mereka hanya menyaksikan saja kegiatan team Mapesa, tidak ingin terlibat. Hanya dua orang yang ikut serta membantu kegiatan ini.

Kondisi area pemakaman yang telah rusak parah, hingga tidak bisa diselesaikan dalam satu hari, oleh karena itu dilakukan meuseuraya lanjutan di Gampong Babah Jurong, pada tanggal 23 Oktober. Kali ini disambut lebih hangat oleh masyarakat. Dimulai dengan membaca doa bersama, yang dipimpin oleh Teungku Gampong Babah Jurong. Kemudian menikmati kenduri bersama, yakni makan Bu Leukat (ketan) yang dimasak oleh masyarakat setempat. Setelah itu, barulah masyarakat berani memasuki arena pemakaman ini. 
Doa bersama sebelum memulai kegiatan, diiringi dengan makan ketan.

Meuseuraya dilakukan bersama-sama, hingga selesai siang hari. Berdasarkan inskipsi yang tertera pada nisan, dapat diketahui bahwa komplek makam tersebut sebagian besar dari abad ke 10 Hijriah, atau 16 Masehi. Pada salah satu nisannya masih dapat dibaca terang, bertuliskan tahun wafatnya tokoh yang dimakamkan, yakni 997 Hijriah, atau 1589 Masehi. Selain itu, pada sebahagian besar nisan yang terdapat di sana, terpahat kalimat "La Ilaha illallah, Muhammadarrasulullah". Hal ini menjadi bukti tertulis, yang menggambarkan keyakinan masyarakat pada waktu itu, kaya akan nilai-nilai ketauhidan.  

Demikianlah sederetan informasi singkat yang saya peroleh dari Ketua Mapesa. Dalam hal ini, terima kasih banyak, Bang Mizuar.

Ketua Mapesa. Mizuar Mahdi Al-Asyi dalam kegiatan meuseuraya di Gampong Babah Jurong

Saya di pihak orang-orang yang meyakini bahwa nisan dapat berbicara. Memang bukan dengan vokal, melainkan dengan nota yang tertera padanya. Tulisan pada nisan merupakan sumber sejarah yang tak dapat dibantahkan. Hanya saja sedikit sekali yang peduli dengan hal ini. Bahkan menganggapnya hal yang sia-sia. Bersama Mapesa, masyarakat Babah Jurong telah menunjukan kepeduliannya, peka pada sejarah.

Lalu, jika ada yang bertanya; 

“Untuk apa kita peduli pada masa lalu?”

Jawablah! “Agar kita tidak dikelabui oleh masa depan.”

Demikian.





Ayah, Ibu, Anak dan Lingkungan

Ilustrasi

Tadi siang, selepas shalat zuhur saya berangkat ke Rumcay Flp Aceh, ada agenda rapat kepengurusan. Kira-kira berjarak dua kilometer dari rumah, di jalan, saya dihadapkan dengan seseorang yang tak wajar. Bukan dia-nya yang tak wajar, tapi keadaan. Walhal, seorang balita berusia belasan bulan (taksiran saya, barangkali dia baru genap setahun) dengan tertatih-tatih menguasai jalan di mana saya berkendara. Seorang saja. 

Saat itu jarak kami sudah dekat. Saya sadar betul, balita itu pasti keluar dari pintu gerbang rumah yang jaraknya tak jauh dari tempat kami berjumpa. Balita malang itu terus saja berjalan ke arah saya, dengan tangannya menunjuk ke depan, seakan penuh harap, seseorang di ujung jalan sana mendengar seruannya. Saya tidak tahu persis siapa orang itu, yang jelas dia telah jauh berlalu. Saya hanya bisa melihat sisi punggungnya, dari gerak-gerik dapat dipastikan itu seorang laki-laki.

Saya menepi, menghentikan kendaraan. Sedangkan ia kini berada tepat di tengah jalan. Syukurlah ini jam istirahat siang, jalanan lengang, sepi sekali kendaraan yang lalu lalang. 

Ilustrasi. Diperagakan oleh model

"Ho meujak, Neuk? (mau ke mana, Nak?)" Tanya saya, sambil meraih bahunya. Ingin mengangkat badannya untuk saya gendong. Dia seperti hendak menangis.

Anak itu menjawab gagu-gagap, memang belum pandai berbahasa. Bunyi yang kusimak dari buka-tutup mulutnya hanya, "Yah! Ayah!" Sembari mengelus-elus kepalanya, saya terus saja mengajak bicara, nada panik, dengan harapan agar terdengar ke rumahnya. 

"Allah.. Aneuk loen!" 

Seseorang melongok dari balik pagar besi. Sejurus berlari kencang ke arah kami berdua. Bola matanya berkaca-kaca. Terlihat para penghuni rumah itu berhamburan ke jalan. Wajah penuh kecemasan. Ia menyesali ketidaksadarannya, bahwa anak itu telah berada di tengah jalan. Dia sangat terkejut. Tergopoh-gopoh lari seperti orang yang ingin menyelamatkan diri dari putus asa.

Ibu itu mendekap anaknya erat. Saya hanya senyum, diam, kemudian berlalu. Terlihat matanya menakung butiran bening yang sebentar lagi akan jatuh. Jauh lebih dalam dari pada itu, saya yakin, dalam relung hatinya menangis sedan, penuh penyesalan. Setelah itu, sepanjang jalan saya berpikir, siapa yang akan kusalahkan atas keadaan yang menimpa anak itu. Ayahnya yang abai, atau ibunya yang lalai? 

Tidak, tak patut saya mencari-cari siapa di antara dua orang itu yang bersalah atas keadaan semacam ini. Sebab, saya tahu sebenarnya, yang bersalah bukanlah mereka berdua, tapi keadaan. Keadaan yang menjadikan Si Ayah tidak menoleh ke belakang, sebab tidak tahu anak itu mengikutinya. Si Ibu tidak menyadari entah kapan anak itu telah berlalu darinya. Saya lah, yang kebetulan ada di sana, adalah penanggung jawab atas keadaan ini. Kali ini keadaan itu menimpa mereka. Bukan tak mungkin, esok atau lusa justru menimpa saya.

Kita mengakui bahwa manusia adalah makhluk sosial. Hubungan interaksi terus terjalin sepanjang siklus hidup tetap berlanjut. Akan terjadi hal baik atau buruk, dan kita terlibat di dalamnya. Kita semua adalah pelakonnya. Pengawasan pertama memang terletak pada orangtua, dalam hal ini Ibu dan Ayah. Terlepas dari keduanya, kita adalah bagian dari lingkungan. Sebagai lingkungan, kita mengambil tanggung jawab social control. 

Lingkungan bertanggung jawab atas seseorang, saat seorang tidak bersama kedua orang tuanya. Ini berlaku dalam keadaan apa pun. Tidak hanya pada balita, namun juga pada gadis bahkan janda, saat mereka "tersesat" di jalan." watawa shaubil haq, watawa shaubish-shabr.

Harap membaca sekali lagi paragraf terakhir di atas. Semoga ending dari status ini mudah dipahami, ke mana arahnya. Itu!