sepenggal kisah

Pagi nan cerah ceria didesa ku, matahari terlihat begitu lantang menyibak awan awan yang menutupi puncak gunung Seulawah yang dapat terlihat jelas dari jendela kamar ku. suara sirine pertanda akan adanya pesawat yang mendarat dan pesawat yang akan tinggal landas adalah sesuatu yang sudah menjadi hiasan simphoni pagi bagi telingan warga sekitaran blang bintang, suara cicit cicit burung pagi pun tidak mau ngalah menjadikan suasana semakin syahdu bagi seseorang yang menanti nanti kedatangan tamu.



ya,, hari ini dia akan hadir dan rindu akan terobati, dulu kami hanya berinteraksi lewat media, mengisahkan apa yang terjadi pada masing masing sebagai luapan rasa ingin berbagi terhadap sesama saudara. dia adalah teman masa kecil yang selalu bersama sama ku menjajaki pematangan sawah menuju sekolah, setiap pagi kami berangkat sekolah dengan berjalan kaki seperti kejar kejaran dengan matahari yang kian meninggi, dia adalah sahabat yang selalu khawatir terlambat sampai disekolah karena jalan ku sangat pelan. Dia yang selalu khawatir aku akan jatuh ke sawah karena kindisiku yang lemah dan mudah latah, siangnya kami pulang sekolah bersama melalui jalan yang telah kami lewati dipagi hari, dan seperti setrikaan ini terulang setiap hari nya selama kami sekolah di madrasah ibtidaiyah. Dia selalu menoleh kebelakang mengkawatirkan aku dan sesekali menyeka keringat manakala kami lelah,  membagikan air dari persediaan nya ketika bekal ku habis.
masa bersama dalam keindahan bermain kanak kanak seakan dirampas oleh kebijakan orang dewasa, orang tuanya mendapat kesempatan untuk menyekolahkan anaknya keluar negri yang segala biaya akan ditanggung oleh perusahaan orang tuanya sampai sarjana,
sepuluh tahun yang lalu kami berpisah dan sekarang dia akan kembali, aku ingin mellihat wajahnya yang sudah tak sama, mata bulat nya sekarang sudah besar tak sekecil dulu, dan rambut lurusnya yang hitam dan indah sudah berbungkus kan kerudung yang membuatnya semakin cerah, gambarnya aku peroleh dari beberapa foto yang dikirimkan untuk ku dari jejaring sosial.  owhh... mawaddah,, 
aku bergegas menuju ke kamar dan mengambil sehelai kerudung dan jaket, kuambil kunci kereta dan berlari lari kecil menuruni tangga rumah, ibu menyeru.. "hai Cahaya kenapa terburu buru dan engkau akan kemana? ibu bertanya keheranan melihat aku yang terburu buru.. "sebentar bu, saya izin sebentar ke bandara ya, mawaddah pulang hari ini, suara sirine pesawat tadmembuatku berfirasat bahwa itu pesawat yang ditumpanginya",, aku menjelaskan pada ibu sambil tergesa gesa mengambil kaos kaki dan sepatu,,  ibu menggeleng geleng kepalanya melihat tingkah ku seperti orang yang kalang kabut ingin menjemput kebahagiaan, "iya cahaya, ibu izinkan tapi jangan tergesa gesa begitu dan hati hatilah dijalan, ya nak ya!" seru ibu "iya bu" aku menjawab perlahan..

keretapun kulalukan dengan hati hati aku ingat pesan ibu dan penuh keinginan yang memuncak untuk cepat sampai ke bandara. sedikit terjadai perubahan pepatah dan membatin dalam asa ku "biar cepat asal selamat" hee,, senyumpun merekah  dalam hati..

posisi bandara yang tidak terlalu jauh dari rumah membuat aku tidak terlalu lama menghabiskan waktu untuk sampai disana,, hanya butuh waktu lima belas menit untuk melewati hamparan sawah nan narai dan beberapa belokan saja, pepohonan rindang di pematang dan pinggiran bagaikan para penyambut tamu yang siaga, daun daunnya yang ditiup angin  bagai lambaian tangan yang begitu lembut, mereka seakan merasakan kebahagiaan ku, dan satu belokan lagi,, naaa.. sampailah aku digerbang bandara dan aku mengikuti prosedur untuk parkir kendaraan lebih dahulu dengan rapi agar tidak kena tegur petugas keamanan.

setelah dari parkir aku bergegas menuju lobi tempat para penjemput tamu dan para pendarat berhamburan, ada banyak sekali orang disini, dengan koper koper besar, sebahagian dari mereka adalah yang barusaja mendarat tanah rencong dan sebahagian lain adalah yang akan lepas landas berangkat meninggalkan lapangan udara iskandar muda. dari kejauhan di tengah lorong mataku menatap seseorang yang tak asing pada perasaan sekalipun wajahnya tak dapat seksama kulihat,
dia mengenakan jubah hitam bersulam silang silang dengan benang warna kuning emas, mengenakan selendang hitam yang melilit kepalanya dan sebahagian selendang menutupi dadanya, indah dan begitu indah dengan purdah yang menutupi wajahnya, aku hanya dapat melihat tatapan matanya dan mata yang berbinar binar itu,, "ya,, aku mengenal mata itu,, itu mata mawaddah",, aku membatin dan mengharu biru,,



sesaat kemudian dia menyadari bahwa yang dihadapannya sekarang adalah Cahaya 'silemah dan latah" yang dahulunya menghabiskan banyak waku bersamanya, dan terburu buru langkahnya ingin menghampiri ku, tanpa sadar aku telah melinangkan butiran butiran bening disudut mata, entah ini ungkapan kebahagian atas perjumpaan atau luapan kesedihan yang telah lama dipendam untuk sebuah perjumpaan. karena gergopoh gopoh tanpa sadar tasnya terjatuh dan sesorang dibelakang nya memungut dan mengembalikannya,, dan berita besar,, ternyata laki laki berbadan kekar itu adalah saiful teman lama kami yang dahulu sekelas dan ikut belajar ke sudan,, ternyata mereka sudah jadi suami istri, WOW,,, ini berita besar dan dua kebahagian bercampur aduk... 

****akhirnya kami pulang beriringan dan ada banyak cerita yang akan kami tagih masing masing diepisode berikutnya

Posting Komentar