Malaya. Im coming

Berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda jam 11;00 WIB. Saya bersama dua rekan dari Aceh dan tujuh orang lagi adalah teman dari negeri Jiran. Mereka study mengaji di Aceh. Empat orang perempuan mengaji di Darul Muarrifah; dayah tradisional tempat saya ikut belajar. Sedang tiga orang lagi belajar di Darul Muarrif. Masih dalam satu naung kepemimpinan. Hanya dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Mereka pulang kampung dalam rangka liburan paska ujian, sedang kami, ingin berlibur ke sana menyaksikan pesona Malaysia sebagaimana yang sering mereka kisahkan.


Siang yang benar benar cerah, matahari seakan menjadi penontonton utama keriangan ini, ketika saya turun dari pesawat dengan wajah sumbringah. Wajah dengan gurat bahagia yang utuh ini melongok ke kiri dan kanan. Memperhatikan tempat asing yang belum pernah terjamah dalam mimpi sekalipun. Alhamdulillah saya mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Bersama para rombongan.

Landasan Udara yang begitu luas, dengan maskapai penerbangan yang beragam, tentunya berbeda jauh dari Lapangan Blang Bintang yang hanya di singgahi oleh beberapa mas kapai saja. Pun luasnya itu benar-benar membuat saya berhenti sebentar menarik nafas dalam dalam dan melepaskannya. Takjub..!

Keluar dari Bandara setelah menyelesaikan semua prosedur kedatangan -setelah menunaikan shalat zuhur serta jama' asar juga tentunya- kami bergegas menacari rumah makan. Tuntutan biologis, perut keroncongan kalau sudah siang. Kami singgah di sebuah restoran yang tidak jauh dari lingkungan Bandara. Hanya dengan berjalan kaki sekitar 100 meter saja.

Aneka ragam makanan, tapi saya tetap tertarik pada satu saja. Nasi Minyak. Pernah sekali waktu Jannah, Amira, Wina dan Athirah mengundang saya ke bilek (kamar) meraka di Dayah. Dalam acara syukuran atas Milad Jannah mereka memasak makanan khas Malaysia. Saya suka, tapi mereka bilang itu tidak seberapa enak, mereka tidak terlalu pandai memasak, pun bumbunya tidak selengkap yang biasa digunakan di Malaysia, sekarang saya temukan originalnya.

Nasi minyak khas Malaya




hmm, sedap, sedap, sedap! Puji saya sambil menunjukkan jempol. dua rekan saya yang dari Aceh lainnya juga memilih menu yang sama. Hanya minuman kami yang berbeda jenisnya.

Kenyang menyantap makan siang di resto ini, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang masih panjang untuk sampai ke kampung halaman mereka. Tempat yang jauh dari Kuala Lumpur.
Adalah Kuala Terengganu yang akan menjadi tujuan perjalan kami. Dari Bandara harus naik Bus menuju ke Stasius Bus utama di Kuala Lumpur.

setelah mengamati beberapa Bus yang berjejar di jalan tidak jauh dari rumah makan yang kami singgahi tadi, akhirnya kami sepakat untuk menumpangi salah satu darinya. Bus yang terlihat nyaman, dengan kernetnya yang ramah. Bus ini dua lantai. Kami sengaja memilih lantai atas untuk lebih nyaman.

Saya duduk bersama Jannah, sedang Athirah dan Amirah duduk di deretan belakang kami. Wina, Dia sudah terpisah dengan kami sejak di Airpot tadi. Wina di jemput langsung oleh kakaknya yang sedang studi di Kuala Lumpur.

Teman serombongan yang laki-laki duduk di deretan depan. Ada Ashabul Makwa, Waliyudin, Naim, Tgku Ihsan dan Tgku Ibnu. Meraka nampaj begitu nyaman mendengankan musik melalui earphonenya masing-masing.

Setiba di Kuala lumpur kami turun dari Bus, singgah di salah satu surau di sebelah hotel Sri. Kami istirahat melepas lelah semabri menunggu masuk waktu untuk menunaikan shalat magrib. Suasana di Surau ini sangat sejuk, bersih dan tatanannya rapi.

ternyata di Hotel Sri sedang ada musabaqah tilawatil Qur'an. Athirah mengajakku untuk masuk sebantar sekedar untuk melihat-lihat saja. Luar biasa ternyata. Suasana di dalam Hotel ini cukup wah untuk kapasitas seorang yang jarang melihap gemerlap dunia seperti saya. Anak kampung ini benar banar takjub dengan kemegahan seisi hotel. Lampu LED yang dipasang menjuntai-juntai bagai air terjun yang turun. Ah,, sudahlah,, saya tidak akan menumpahkan kampungan saya di catatan ini. Pun ketika di sana saya bisa bersikap sewajarnya, tidak kemarok pokoknya, rasa kagum itu saya simpan saja dalam hati.

Begitu mendengar suara azan, kami langsung kembali ke surau. Amirah, Jannah dan teman-teman serombongan lainnya sudah mengambil wudhu. dan kami pun sudah juga tentunya. Kami wudhu di kamar mandi di lobi Hotel Sri. Shalat magrib dan jama' isya.

Saatnya makan lagi,, :D makan malam.

setelah makan, kami melanjutkan perjalanan. dari Kuala Lumpur menuju terminal. kali ini menggunakan kereta bawah tanah. monorel. Dikereta ini pun cukup sejuk, dengan fasilitas Aircond. (AC) dan Televisi cukup membuat setiap penumpang nyaman.

Di dalam monorel saya berkenalan dengan seorang penumpang yang kebetulan duduk berdampingan dengan saya. namanya Nurfauziannah Bachtiar. Beliau peramah, dengan sedikit empati langsung bisa jadi teman.

bersama kak Ana





Setelah beberapa saat, tibalah kami di stasiun Bus Antar Negeri. Di sini begitu ramai, sesak dengan para calon penumpang dan bawaan masing-masing. Entah berapa ratus dan bahkan ribuan bus lalu lalang melewati lintasan ditengah stasius. kami sudah beli tiket dan menanti datang nya Bus yang akan kami tumpangi. Bus yang akan membawa kami ke Negeri Kuala Terengganu.

Sekitar tiga puluh menit kami menunggu di ruang lobi, sambil membeli bebecarapa cemilan untuk makan di Bus.

Ah, sudah dulu. Capek ngetik. lanjut besok ya.
:D

Posting Komentar