"Bila Waktu" sebutlah itu "Ajal"


Apabila telah tiba ajal seseorang maka iya tidak akan pernah mempu menundanya walau hanya satu saat. Bukan hal asing lagi ketika kita mendapat kabar seseorang yang tadinya masih berasama sama kita. Kini iya telah tak lagi bernyawa, “baru tadi pagi lho kami shalat jama’ah bareng di mesjid sono”, “baru tadi malem kami nongkrong di warung kopi, beliau tertawa riang seperti tidak sakit apa apa” semua serba tiba tiba dan tanpa pemberi tahuan sebelumnya. inilah rahasia Allah, tidak ada satu manusia pun yang mengetahui kapan tiba ajal, bila telah tiba masa boleh jadi hanya dengan tersandung batu, hanya karena tertusuk duri menjadi sebab atas tercerainya jasad dengan nyawa.
Adalah kematian itu laksana sebuah safar (perjalanan jauh), seseorang berjalan menuju sebuah tujuan,  dalam safar tentunya kita dihadapkan pada banyak hal, baik itu berupa tanjakan turunan, jalan datar, perubahan cuaca, terkadang hujan, petir menyambar, terkadang terik, cahaya mata hari memekik, maka dengan demikian sejatinya kita harus membawa banyak perbendaaan sebagai bekal. Harus ada payung untuk berteduh manakala hujan, harus ada air manakala dahaga melemahkan kita dalam perjalanan, harus ada makanan agar kita tetap bertenaga dan menyangga perut yang lapar. Semisal ini lah safar kematian, hanya saja bekal yang kita bawa tidaklah berupa perbendaaan melainkan amal perbuatan yang bernilai ibadah.
Bekal yang kita bawa menentukan kemana tujuan perjalanan, tujuan hanya pada dua tempat kembali yang telah disediakan oleh Zat Azza wajjalla, yakni surga dan neraka. Bila bekalan kita adalah bentuk ‘ubudiah maka layaklah Allah Zat yang maha pemurah menyediakan surga untuk tempat kembali, jika amalan yang kita lakukan semasa di hidup hanyalah kemaksiatan, maka neraka adalah tempat yang layak untuk kembali.
Agar amal perbuatan itu bernilai ibadah tentunya kita harus tahu tata cara pelaksanaannya, rukun dan syarat sah nya, syarat dan apa apa yang membatalkan nya, apa apa yang mengggugurkan pahala nya, satu satunya jalan untuk memahami ini semua yakni dengan dengan menuntut ilmu, ilmu lah yang akan menuntun seseorang untuk mengenal siapa kita dan siapa yang kita sembah, darimana berasal kita dan kemana akan kembali. Imam Al Ghazali menuturkan bahwa “lmu adalah apa apa yang dengan mempelajari nya dapat menambah ketaqwaan seseorang kepada Allah”.
Mari mempersiapkan diri untuk sebuah moment yang kita tidak tahu pasti kapan terjadinya, dimana tempatnya, dan bersama siapa kita akan menghadapi nya, cukuplah dengan menyaksikan peristiwa kematian saudara saudara disekitar kita, menjadi pelajaran bahwa kita adalah lemah, sekuat apapun besi dia lebur jika dihadapkan dengan api, sekuat apapun api maka dia akan padam jika dihadapkan dengan air, dan sekuat apapun air dia akan binasa ketika dihadapkan pada anggin, sekuat apapun angin dia akan ditaklukkan oleh gunung, setinggi apapun gunung, maka manusia mampu memijaknya, sekuat apapun manusia dia tidak akan mampu melawan ajal nya.

Posting Komentar