melihat kebahagian pada tempat yang kita tidak ada disana

matahari semakin menanjak, hampir tegak lurus dengan kepala, dengan menentengi sebuah rantang dan satu cerek air Saudah berjalan di pematang sawah mendekati sebuah balai kecil,  balai dengan ukuran sangat kecil hanya muat untuk tiga  atau empat orang sahaja. Ali yang melihat kedatangan istrinya segera saja berhenti dari membajak sawah, membersihkan lumpur pada lengan nya dan menghampiri balai untuk beristirahat.

Saudah membuka rantang, dengan wajah dihiasi senyum sumringah. Saudah menuangkan air kedalam gelas, menyudukan nasi kedalam pinggan dan kemudian menambahkan beberapa potong tempe, lauk nya sangat sederhana, hanya kangkung tumis, kembung goreng dan tempe sambal. dengan wajah penuh senyum pula Ali menyambut sepinggan nasi dari tangan istrinya,, Alhamdulillah berucapnya.

Ali mulai menikmati makan siang nya bersama Saudah, sesuap demi se suap hingga isi pinggan  hampir habis, tiba tiba matanya beralih ke arah jalan, ada sebuah mobil mewah melintas di jalan, jarak nya tidak terlalu jauh dengan sawah Ali, nampaknya ada sedikit kendala pada mobil ini (ujar Ali pada Saudah), saudah mengangguk, "iya bang. jawabnya...!! laju nya sangat pelan dan akhirnya berhenti.

si pemilik kendaraan akhirnya keluar dari mobil untuk memastikan apa yang terjadi.. dan benar saja ternyata ban mobilnya kempes, ada lubang menganga pada tepi pinggir ban belakang, mungkin ini karena kondisi jalan dengan kerikil yang sangat tajam, pun memang bunga ban mobilnya sudah agak tipis, rentan untuk bocor. ada apa pa (tanya istrinya dari dalam mobil).. kempes mi (jawab suaminya)..

menyaksikan keadaaan ini, Ali yang memang peramah dan berbudi baik langsung saja menyapa,! berbasa basi dan menunjukkan keprihatinan nya, "bengkel masih sangat jauh dari sini pak, mari singgah dulu di balai biar saya usahakan montir untuk datang kemari, tawar Ali.

Miki dan Ayu (pasangan suami istri pemilik mobil mewah yang sedang kempes tadi) akhirnya singgah di balai Ali, menunggu montir, Saudah yang berkepribadian ramah dan santun, menawarkan minum dan makan, namun Miki dan Ayu menolak dengan baik dan santun pula.

setelah hampir sejam menunggu dan akhirnya ban mobil pun selesai di ganti oleh montir yang dibawa oleh Ali, Miki dan Ayu mengucapkan terimaksih banyak, dan sangat kagum pada kebaikan Ali dan Saudah,  segera saja Miki merogoh kantongnya, meraih dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang, yang iya tidak menghitung jumlahnya, Miki menggenggamkan uang tersebut pada Ali, namun Ali serta merta menolak, "tidak apa pak, saya melakukannya ikhlas, semata mata ingin membantu tanpa berharap imbalan pak",  terimalah pak,, (Miki memelas)..  "bapak sudah berbuat baik terhadap saya dan izinkan saya berbuat baik pada bapak, dan Ali pun dengan wajah menunduk tidak lagi menolak pemberian dari Miki, sebuah kesalahan jika aku  mengecewakan orang yang hendak berbuat baik (bisik Ali dalam hati)

Miki dan Ayu akhirnya melanjutkan perjalanan sedang Ali kembali ke balai sawahnya, duduk rehat sebentar untuk kembali beraktivitas. "senang sekali mereka bang, kata Saudah, hidup serba mewah dan segala kebutuhan nya terpenuhi dengan mudah, memiliki banyak fasilitas dan bisa jalan jalan menikmati liburan, sedang kita, kita saban hari kesawah, membajak, menanam padi, memberi pupuk, panen, dan kemudian garap lagi, penuh jerih dan peluh, kadang hujan membasahi, terik memanggang, huuff,, Saudah menggerutu dan Ali hanya diam,

disana ternyata, didalam mobil mewah tadi, Ayu pun berceloteh pada Miki. "bahagianya mereka ya bang, saban hari bersama, makan bersama, saling bercengkrama, bercerita diatas balai kecil dilahan sawah, dengan tiupan sepoi angin yang sejuk, sekalipun dengan lauk sedehana, tapi mereka selalu bisa bersama, sedang kita, kita sibuk dengan urusan masing masing, pagi hari berangkat dan menjelang senja kembali, hari berganti hari, berganti minggu dan bulan selalu begitu, dari seminggu hanya satu hari untuk ngumpul bersama, itupun kalau abang tidak ada tugas keluar kota, Ayu terus membebel sedang Miki hanya diam saja.

inilah potret kita, selalu melihat kebahagiaan pada tempat yang kita tak ada disana, Ayu melihat saudah yang bahagia, sedang saudah justru melihat kondisi Ayu jauh lebih bahagia dari nya, dengan sibuk melihat kebahagiaan pada tempat lain maka secara sadar kita telah mengabaikan rasa bahagia pada tempat kita berada, kita sibuk melihat kebahagiaan pada sisi lain, sedang bahagia pada sisi kita kita lupa mencicipinya.

ingatkah,,? dulu, semasih di SD, kita jenuh karena menulis dengan pencil, pelajaran nya hanya tulis dan baca, kita melihat anak anak dengan seragam SMP jauh lebih senang dari kita, mereka sudah menulis dengan pulpen dan beberapa alat praktikum sudah mereka kuasai, kemudian ketika di SMP kita melihat lagi si Putih abu abu, seakan menjadi anak SMA itu jauh lebih menyenangkan dari pada SMP, kemudian lagi setelah SMA kita menganggap Kuliah jauh lebih menyenangkan karena tidak terikat dengan jam belajar yang monoton, tidak terikat dengan seragam yang itu itu saja, dan ternyata setelah kuliah juga kita tidak merasa bahagia, kita melihat orang yangsudah bekerja itu jauh lebih bahagia, dan ternyata stelah bekerja pun kita selalu melihat pekerjaan selain dari yang kita kerjakan jauh lebih membahagiakan

Dulu ketika masih kecil, kita merengek minta ikut jika kakak atau mamak ingin pergi kesebuah perhelatan atau pesta, sekarang ketika sudah banyak undangan kita kembali mengeluh, tidak ada waktu jeda. serba repot, malas keluar dan sebagainya.

Allah.. Allah,, betapa jiwa yang serakah pada kebahagian telah menutupkan pandangan batin pada bahagia itu sendiri, kita sibuk mendefenisikan kebahagiaan, bukan mencoba untuk membuka mata dan menyentuh kebahagiaan itu sendiri,

marilah wahai jiwa, cintai apa yang kita miliki dan syukuri apa yang telah Allah beri, maka kita akan merasa ternyata bahagia itu sederhana, sesederhana kita terjaga dipagi hari, membuka mata, menyingkap selimut dan melihat indahnya matahari dari jendela.


#siang yang penuh kantuk

Posting Komentar