Bang Romli dan Dek Romlah

Siang ini cuaca masih sangat panas, hujan tak kunjung turun selama sebulan terakhir. Baru saja aku selesai mandi, setelah sebelumnya mencuci seember baju kotor, milikku sendiri dan sepotong dua lainnya milik kakak dan mamak. Biasanya mereka yang mencuci punyaku, hari ini karena libur maka aku yang kena giliran. Lelah sekali rasanya. Aku masuk kamar kemudian menghidupkan radio. Biasanya jam segini ada acara request lagu di radio Seulaweut.  Lagu-lagu yang diputar sangat menyentuh, secara aku memang menggemari lagu jenis ini, ya.. lagu bernuansa syiar dan syair islami. Sangat cocok mendengarkannya sebagai pengantar ke alam tidur siangku.

Tiba-tiba saja, datanglah seorang pemuda rupawan. Badannya tegap, rambut tersisir rapi, wajahnya bersih. Aku melihat di sisi atas dahinya ada bahagian yang berwarna agak lebih gelap. Ini semacam bekasan kulit yang mengeras karena sering terkena lantai sujud, sangkaanku begitu. Pemuda ini berasal dari kota sebelah. Tujuannya kemari adalah untuk menjajakan dagangannya berupa kerupuk muling. Baru kali ini aku melihat pemuda yang benar-benar tekun dan bersahaja. Tidak hanya rajin berusaha, ternyata pemuda ini juga sangat memperhatikan hubungannya dengan Allah. Dia menjaga waktu shalatnya. Dia mampir di rumahku semata-mata hanya untuk numpang tanya. “adakah meunasah di seputaran sini buk,” begitu tanyanya pada ibuku yang sedang menjemur padi di halaman rumah.

“Oh,, ada neuk. Lurus saja, nanti di depan sana, sekitar 50 meter, sebelum pengkolan itu ada meunasah,” jawab ibuku dengan santun seraya menunjuk ke arah sebelah kanannya. “Terimong gaseh buk,” balasnya dengan diiringi senyum ringan.

Dia telah berlalu meninggalkan halaman rumahku. Sekarang telah sampai di meunasah yang ia tuju. Dilepaskannya sepatu dan diganti dengan sandal, barang-barang bawaan semua ditinggalkan di dalam mobilnya. Hanya ada jam tangan saja sebagai pengingat waktu yang tetap melekat di badan, ini yang jarang sekali ditinggalkan. Dia menuju ke kulah, guna mengambil wudhu sebagai syarat utama untuk menunaikan shalat.

Suasana di meunasah sepi, hanya ada Bang Din dan Apa Basyah yang sedang terkulai lena dalam tidur siangnya. Waktu dhuhur telah berlalu setengah jam yang lalu, para jamaa’ah shalat dhuhur sudah kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Bang Din adalah bileu sedangkan Apa Basyah adalah tetua di kampung ini, beliau sudah tidak bekerja, hari-harinya hanya dihabiskan untuk membantu-bantu Bang Din membersihkan meunasah.

Pemuda tadi masuk, Menggelarkan sajadahnya diatas hamparan keramik bercorak bintik bintik. Dia perhatikan posisi berdirinya, sudah benar-benar bersejajar dengan arah kiblat dan mulailah ia takbir untuk shalat. Setelah mengakhiri shalat khusyuknya dengan salam kemudian dia meneruskan dengan zikir dan do’a.

Suasana didalam meunasah memang lebih sejuk dari tempat lainnya, entah kenapa bisa demikian, mungkin karena meunasah terletak berpapasan dengan bentangan sawah yang luas, dipinggir jalan. Sirkulasi udaranya lancar, angin yang berhembus dari sawah dapat leluasa masuk melalui jendela sekelling meunasah yang memang tidak pernah ditutup, kecuali ketika hujan.

Selesai ritual ibadahnya, pemuda tersebut melipat sajadah dan menggantungkannya kembali ditempat semula. Karena masih ingin merasakan sejuknya meunasah ini, dan diluar sana cuaca pun masih cukup menantang, pemuda tersebut merebahkan badannya, sejenak untuk beristirahat melapas lelah.

Hanya sekitar lima belas menit saja dia lena dalam pejam. Kemudian terbangun kembali karena mendengar suara Apa Basyah yang batuk-batuk. Melihat Apa Basyah sedang duduk di teras, pemuda itu juga kemudian bangun dari tidurnya, menghampiri Apa Basyah. “Salam ‘alaikum pak nek,” sapanya santun. “Wa’alaikum tsalam,” jawab Apa Basyah, dengan jawaban yang tidak lagi mengena akan makna, sebab Apa Basyah sudah sangat tua dan giginya sudah tiada, maka sulit sekali untuk menyesuaikan mahrajul huruf.

“Dari pane gata aneuk muda?” Tanya Apa Basyah. “Dari Pidie pak nek.” Jawab pemuda tersebut. Tiba-tiba lewatlah dek Romlah, ia hendak kembali ke dayah. Dengan mengenakan payung merah jambu, dek Romlah memakai sarung bercorak batik dan baju lengan panjang, kerudung labuh terhulur menutupi badan hingga pinggang. Wajah pemuda itu langsung beralih pandang ke dek Romlah yang sedang berlalu dihadapannya. “So nan sinyak dara nyan pak nek?” Tanya pemuda itu. Nyan nyak Romlah hai neuk, man gata so nan?” Apa Basyah balik bertanya. “nan uloen Ramli, pak nek.” Jawab pemuda itu sambil tersenyum.

Pemuda itu masih sangat terkenang dengan dek Romlah. Sebenarnya ini bukan terpesona pada pandangan pertama. Tapi ada hal lain yang dia merasa janggal. Sebab begini, rupanya dalam tidurnya yang tidak lama tadi, dia bermimpi telah menikahi seorang wanita di meunasah ini, dan wanita tersebut persis wajahnya seperti dek Romlah yang baru saja berlalu dihadapannya. ini benar benar serba aneh dan serba kebetulan.

Bang Din kini sudah bangun juga, menghampiri Apa Basyah dan Ramli yang sedang duduk dipelataran teras meunasah. Melihat Ramli yang terdiam bengong memperhatikan sisi-sisa langkah Romlah,  Bang Din kemudian bertanya, “pu na hai aneuk muda?.” Apa Basyah segera nyelutuk menjawab. ”meuno hai Din, nyak Ramli nyo tanyeong so nan i dara nyan, loen peugah nyan nyak Romlah aneuk imum meunasah.” Ramli pun tersenyum kepada Bang Din, tanda menyetujui apa yang telah disampaikan oleh Apa Basyah.

Tidak mampu menahan kegamangan hatinya, akhirnya Ramli bercerita pada dua orang bapak ini. Bahwa dalam tidurnya tadi, dia bermimpi telah menikah dengan Romlah dalam meunasah ini. Dengan mahar 20 mayam emas. Bang Din dan apa Basyah tertawa lebar, ngakak sejadi-jadinya. Merasa sangat lucu cerita Ramli tersebut. Tetiba saja datanglah Abu Suman, beliau adalah ayah Romlah, tengku yang sudah menjabat sebagai imum meunasah semenjak enam tahun yang lalu. Di gampong ini sebenarnya banyak orang lain yang lebih layak darinya, hanya saja yang lain tidak bersedia dinobatkan sebagai pejabat imum meunasah, namun demikian mereka selalu aktif dalam setiap prosesi keagamaan di gampong.

“Hai pu ka nyan raya that khem leuho-leuho uro?” Tanya Abu Suman. Karena merasa hal ini lucu dan konyol, maka Bang Din dan Apa Basyah segera bercerita hal yang disampaikan Ramli, bahwa baru saja dia bermimpi telah menikah dengan Romlah di meunasah ini, dengan mahar 20 mayam emas. Mendengar hal ikhwal mimpi tersebut, Abu Suman naik darah, merasa telah dilecehkan, kemudian menuntut Ramli untuk benar-benar membayar 20 mayam tersebut sebagai pertanggung jawaban atas aib mimpi. Dia bertanya pada Ramli, “apa yang kau lakukan terhadap putriku didalam mimpimu itu,”. “Aku tidak berbuat macam-macam Abu, hanya mengecup keningnya saja yang kuingat.” Ramli benar-benar polos dan jujur, menjawab sekenanya sesuai dengan mimpi.

Abu suman bertambah marah, tidak hanya meminta Ramli membayar mahar tersebut, namun juga bersikeras merampas semua harta perbendaharaan Ramli untuknya. Ini untuk mengganti rugi atas aib yang telah dibuat oleh Ramli, sebab telah bermimpi menikah dan mengecup dahi anak gadisnya.

Ramli tertegun, duduk manyun sendiri di pelataran teras meunasah. Tidak tahu harus kemana dan harus berbuat apa, hari sudah menjelang senja dan dia masih bingung dengan keadaan yang menimpa dirinya.

Ternyata hal ikhwal Ramli telah sampai kepada Abu syik, tetua gampong ini yang tentunya jauh lebih disegani oleh masyarakat. Disamping umurnya yang sudah sepuh, beliau juga dikenal sebagai orang yang selalu bijak dalam menilai dan bertindak. Abu syik kemudian datang ke meunasah, menjumpai Ramli dan hendak menolongnya.

Hari sudah menjelang magrib. Bang Din mengumandangkan azan. Jama’ah magrib didirikan, kali ini Abu Syik yang bertindak sebagai imam. Abu Suman tidak hadir ke meunasah, entah sebab merasa malu dengan sesuatu yang dianggapnya aib tadi, atau justru sedang larut dalam senang karena telah berhasil memilki semua harta Ramli yang lumayan besar jumlahnya.

Setelah selesai shalat, lanjut wirid dan do’a. Kemudian Abu Syik berpidato. Menceritakan hal ihwah Abu suman yang telah dhalim terhadap Ramli. Abu Syik meminta pertolongan semua jama’ah untuk sama-sama ke rumah Abu Suman. Semua jama’ah diminta untuk membawa apa saja yang dapat digunakan untuk menggali lubang. Tanpa banyak bertanya masyarakat pun serta-merta terjun memberi bantuan. Berangkatlah mereka semua ke rumah Abu Suman.

Abu syik memerintahkan semua yang hadir untuk menggali lubang di sekeliling rumah Abu Suman. Semua masyarakat pun menurut saja. Abu Suman bersama istrinya yang sedang sibuk mengkalkulasikan harta yang baru dirampasnya dari Ramli sontak terkejut, mulai sadar ada keriuhan diluar rumahnya.

Serta merta mereka berdua lari dari kamar keluar berhamburan ke teras rumah. “heeii.. pu ka nyo?. Pu piasan?, so yang ka pungo yak kuh rumoh loen?” Katanya kasar, dan dengan suara yang lantang. “Loen,” kata Abu Syik pelan dan dengan melempari senyum. Abu Suman mulai merasa segan, “man pu na bhan Abu neuk kuh rumoh loen?” tanyanya pelan. “Sebab begini, buklam loen meulumpo di meuyup rumoh gata na saboh peuto. Asonyan intan dan berlian, karena leumponyan deuh bakloen, maka benda nyan adalah ata lon, jino leon keuneuk jak cok,”  jawab Abu Syik sekenanya.

“Man pane na ‘oe ile meunan  Abu. Lumpo kan hanya bunga tidur. Lom pih pane yak hukum keu ata Abu sesuatu yang na bak tempat loen hanya semata karena lumpo”. Jawabnya dengan nada yang lebih santun.

Abu Syik mulai mendekat. “Lantas apa beda dengan yang dialami oleh Ramli. Apakah mimpinya bukan bunga tidur, sehingga engkau menghukumi segala yang ada padanya menjadi milikmu sebagai ganti atas aib, karena dia bermimpi menikahi anakmu.” Tanya Abu Syik tegas. Abu Suman menunduk malu dan semua masyarakat menyorainya. “Huu,,” kata mereka, suara semakin ribut. Ramli hanya diam dan menunduk. “Kembalikan semua yang telah engkau rampas dari Ramli,” kata Abu Syik tegas.

Tiba tiba hujan turun.. menitik diwajah,, kian lama rasanya hujan semakin lebat saja, seakan mengguyur hingga sudah basah ke leher.. “kain,,, kain,, hujan.. jemuranku basah..” Teriakku.

“Jemuran apa,” kata mamak. “Shalat ‘asar sudah? Anak dara tidur siang macam kuli lelah, sudah jam setengah lima tahu, sana mandi, ambil wudhu terus shalat ‘asar.” Kata mamak sambil berlalu dengan menentengi gayung yang sudah tidak lagi berisi air di tangannya. Aku senyum sendiri dan rasanya bahkan ingin tertawa lebar. Ternyata pemuda tampan yang bernama Ramli itu hanya mimpi belaka.



Posting Komentar