Democrazy: Apa Nawah Vs Abu Nawas

Alkisah di negeri bebek, masih di dunia ini. Akan diadakan pesta rakyat yang dilakukan setiap lima tahun sekali. Namanya pesta democrazy. Pesta ini diikuti oleh berbagai kalangan. Tidak peduli apa latar belakang dari seorang kontestan. Setiap orang berkesempatan untuk mencalonkan diri dalam audisi. Setiap yang mengikuti audisi berkesempatan untuk menjadi wakil rakyat bebek.

Wakil rakyat adalah orang orang yang akan mewakilkan rakyat. Mewakilkan kebahagiaan rakyat untuk dirasakan olehnya. Disebut negri bebek karena rakyatnya selalu membebek pada kebiasaan lama. Rakyat sudah sangat terbiasa dengan audisi ini. Jika periode pertama wakilnya tidak bisa membagi sejumput kebahagiaan, maka periode berikutnya rakyat akan menyanjung kandidat yang lain, ini smacam trial and error. Sayangnya di negri bebek ini selalu error. Kandidat satu digantikan oleh kandidat yang lain setiap pergantian periode. Penggantinya selalu menjadi wakil yang gagal membahagiakan rakyat.

Betapa tidak, menjadi wakil atas kebahagiaan tentunya sangat menggiurkan semua orang. Kekayaan rakyat yang berjumlah triliyunan dinikmati sejumlah besarnya oleh wakil dan kemudian disalurkan kepada rakyat sebagai bentuk aspirasi. Apa Nawah adalah salah satu kandidat yang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ikut audisi. Periode ini Apa Nawah kembali mengikuti audisi dalam pesta rakyat, ini kali kedua Apa Nawah mencalonkan diri.

Diperiode sebelumnya, tepatnya lima tahun yang lalu, Apa Nawah gagal memperoleh dukungan. Jumlah pendukungnya tidak mencapai kuota yang ditetapkan oleh panita audisi. Apa Nawah hanya memperoleh beberapa suara saja. Sedangkan biaya yang dihabiskan untuk kampanye sudah sangat besar. Apa Nawah telah kehilangan sebuah mobil mewah, dua buah ruko dan tiga petak tanah sawah warisan orang tuanya. Tentunya kehilangan ini bukan karena dicuri oleh pihak tertentu, melainkan karena telah habis untuk mendanai kampanye dan pencitraan dalam audisi dipesta democrazy.

Menjelang pesta democrazy, kampaye adalah hal urgen yang dilakukan oleh para calon di negeri bebek. Ada banyak cara yang ditempuh. Hal yang paling berpengaruh untuk menarik simpati rakyat bebek adalah dengan menggelontorkan sejumlah bantuan materil. Karena masyarakat lebih tertarik kepada sesuatu yang ril dan bersifat segera. Katakanlah bantuan itu berupa  pembangunan meunasah gampong, atau penyediaan lapangan sepak bola bagi pemuda gampong. Lebih dari itu pembagian sandang dan pangan  langsung ke rumah-rumah, selayak bagi-bagi sarung, kerudung, sirup, gula dan minyak goreng.

Meskipun sudah banyak merugi sebelumnya, Apa Nawah tetap berambisi untuk kembali mencalonkan diri dalam audisi kali ini. Apa nawah berharap akan memperoleh kemenangan, sehingga berkesempatan untuk meraup kembali keuntungan dan mengembalikan modalnya periode lalu. Apa Nawah tidak cilet-cilet mempersiapkan diri. Sekarang dia sudah mengantongi selembar ijazah setingkat Master. Ijazah yang dibelinya dari sebuah universitas swasta. Tentunya ini adalah bahagian dari branding. Rakyat bebek akan lebih yakin untuk memilihnya, melihat pada titel yang menunjukkan bahwa seakan-akan Apa Nawah adalah orang yang berpendidikan tinggi.

Tidak hanya selembar ijazah, Apa Nawah juga telah menyiapkan dana sejumlah ratusan juta untuk mendanai kampanye. Biaya ini diperoleh dengan meminjam uang dari Bank. Anggunannya adalah sertifikat rumah. Sertifikat tiga rumah, rumah peninggalan orang tua, rumah mertua dan rumah yang ditempatinya sekarang. Ini sudah atas kesepakatan keluarga besar. Karena Apa Nawah sudah berjanji akan mengembalikan kembali uang paska kemenangannya. Apa Nawah juga menjanjikan posisi pekerjaan tertentu bagi para sanak famili paska dia menjabat nanti.

Pesta akan berlangsung beberapa hari lagi, Apa Nawah sudah mulai merasakan kegelisahan. Dana yang sudah disiapkan kini sudah sangat menipis. Sudah dibagikan untuk beberapa konstituen dan sudah disalurkan kepada tiap kampung, guna menarik simpti masyarakat. Sebelumnya Apa Nawah merasa sangat senang, karena rakyat bebek selalu menyambut baik kehadirannya, seakan memberi dukungan penuh untuk pemenangan Apa Nawah. “Kali nyo pasti meunang, idro kuh meubacut hana goyang.” Acapkali bisikan ini menguatkan ia dan seakan mengangkat bahunya kian tinggi, kian jumawa.

Hingga pada H -10 Apa Nawah mulai cemas. Kecemasan ini bermula di saat kampanye terbuka. Ternyata rakyat bebek yang selama ini menyambutnya dengan baik juga memberi sambutan yang tidak kalah baik untuk kandidat yang lain. Ini sangat mengancam dan bagai palu godam yang menghantam. Rakyat bebek mengebiri dan mengangkanginya.

Rakyat bebek adalah rakyat yang cerdas, mereka menerima bantuan dari semua kandidat, memberikan janji setia kepada setiap kandidat. Setidaknya kecerdasan rakyat bebek ini berimbang dengan kecerdasan para kandidat yang hendak mengelabui mereka. Ini istilah lainnya bisa diaktakan “untung sama dibagi rugi sama ditanggung.”

Kecemasan Apa Nawah semakin bertambah tambah, ia tidak ingin gagal kali ini. Sebab kegagalan kali ini dapat mengantarkannya ke Jalan Kakap. Jalan yang biasa di gunakan untuk mengantarkan seseorang ke tempat rehabilitasi akibat gangguan kejiwaan. Ini kerap terjadi di negri bebek. Ketika seorang kandidat kalah dalam audisi democrazy, kepribadiannya menjadi kacau, jiwanya guncang, dan kegilaan pun akhirnya melanda.

Betapa pikiran sehat mereka tidak mampu menghadapi kenyataan, bahwa mereka telah rugi besar. Bak kalah judi mereka menjadi orang yang terseok-seok jatuh miskin dan kadangkala juga dililit oleh hutang.

Rakyat bebek yang menyaksikan kegelisahan Apa Nawah, sembari lewat melemparkan senyum dan berkata, “mudah mudahan beumeunang kalinyo Apa, meuseu hana meunang bek susah neuh, tanyo tetap syedara, tetap loen  jak saweu.”

Nun jauh disana, diamasa yang telah lalu, di negri yang telah tak lagi ada. Negri yang makmur yang termasyhur, negri yang pernah kita dengar ketersohoran pemimipinnya. Masa kekuasaan Khalifah Harun Al rasyid. Pusat pemerintahannya di negri Bagdad. Negeri kaum muslimin yang selalu tunduk pada perintah Allah. Hukum negaranya berdasarkan Firman dan sunnah.

Adalah seorang qadhi yang terkenal kesalihannya, ialah qadli  Maulana. Qadhi adalah sebutan untuk hakim yang menghukumi perkara rakyat dengan kembali kepada Alqu’an dan Hadits. Haba ube but dan but ube na. Mengutamakan keadilan tanpa memihak. Tidak pernah mendahulukan emosi dan selalu mampu berfikir dengan bijak. Keadilannya sudah sangat masyhur dikalangan rakyat Bagdad dan khilafah Islam. Ia juga memiliki padepokan pengajian, jumlah muridnya melebihi ratusan.

Hingga tiba pada suatu hari, datanglah dua orang wanita yang mengadukan perkaranya. kedua wanita ini  berselisih tentang kepemilikan harta benda. Keduanya masih muda belia. Salah seorang dari mereka memiliki rupa yang sangat cantik, berkulit bersih dan pandai sekali dalam menyusun bahasa dalam berbicara. Ia adalah Si kaya, yang hendak merebut harta Si miskin, yang sekarang telah bersamanya menghadap qadhi.

Karena Si kaya lebih bisa menyakinkan qadhi bahwa ia adalah pemilik harta. Maka qadhi Maulana pun akhirnya telah mengambil kesimpulan yang salah, qadhi Maulana telah membenarkan Si kaya atas kepemilikan harta tersebut. Ini adalah kali pertama dalam seumur hidupnya sebagai qadhi ia melakukan keputusan yang memihak. Tidak sesiapapun tahu bahwa qadhi telah mengambil kesimpulan yang salah, melainkan qadhi dan Allah saja.

Tidak lama masa berlalu, qadhi Maulana mengalami kondisi yang buruk, ia jatuh sakit. Dalam kondisinya yang semakin melemah terbesit dihatinya bahwa ini adalah pertanda telah tiba ajalnya, bahwa barangkali Allah hendak mengutus Izrail untuk menjemputnya.  Inilah kelebihan orang berilmu, dia selalu mengingat bahwa kematian adalah hal yang paling dekat dengannya.

Qadhi Maulana memiliki seorang anak. Pemuda tampan dan bijaksana. Cerdas dalam perkara agama. Pemuda yang tidak kalah masyhur dari Ayahnya. Masyhur karena kebaikan dan kecerdasan. Masyhur karena kesalihannya. Pemuda tersebut dikenal dengan nama Abu Nawas.

Kondisi qadhi Maulana semakin melemah. Ia memanggil Abu Nawas dan hendak mewasiatkan sesuatu. Mengetahui bahwa Ayah sedang memanggilnya, Abu Nawas tidak berlama-lama, segera saja ia menghampiri sang Ayah. “Wahai anakku, firasat mengatakan bahwa ini telah tiba saatnya kita berpisah, ingin aku sampaikan padamu satu peringatan, cobalah ikuti perintahku, dekatkan hidungmu ke telinga kiri dan kanan Ayah, dan sampaikan apa yang kau cium darinya, sampaikan sejujur-jujurnya.” Demikian kata qadhi Maulana pada Abu Nawas.

Segera Abu Nawas mematuhi perintah Ayah, dia mencium telinga kiri ayahnya. Tiba-tiba muka Abu Nawas mengusut, dahinya mengerut, seakan hendak muntah, ia mencium bau yang sangat asing, bau yang tidak sedap, seakan bau bangkai yang sangat busuk dan menyengat. Kemudian Abu nawas beranjak lagi, mendekatkan hidungnya ke telingan kiri ayah. Wajah Abu Nawas berubah menjadi cerah sumringah, bibirnya melengkung dan menggambarkan keceriaan. Abu Nawas seakan sedang mencium aroma wewangian yang sangat harum, yang tidak pernah dicium olehnya sebelum ini.

Qadli Maulana mengatakan “sampaikan padaku apa yang engkau cium wahai anakku”. Abu Nawas pun kemudian menyampaikan sebagaimana yang sebenarnya. Bahwa ia mencium bau busuk pada telinga kiri dan aroma yang sangat harum pada telinga kanan Ayah. Ia begitu heran dengan keadaan ini. Abu Nawas sangat ingin tahu sebenarnya apa yang menyebabkan Ayahnya demikian.

“Ingatlah olehmu wahai Anakku, bahwa Rasul pernah menyatakan bahwa; jika kita mengadili sesuatu dengan adil maka balasan bagi kita adalah surga, sedang bila kita tidak adil maka Allah akan membalas kita dengan neraka. Beberapa waktu yang lalu, aku pernah diadatangi oleh dua orang perempuan yang berselisih dalam kepemilikan harta. Aku telah memihak pada Si kaya.  Ini adalah kehendak Allah atas ku. Jadikan pelajaran bagimu.  Aku khawatir sepeninggalku maka engkau akan menjadi penggantiku dalam urusan ini, maka carilah alasan untuk meyakinkan Khalifah bahwa engkau tidak layak menjadi qadhi. Berjanjilah bahwa engkau tidak akan menjadi qadhi wahai anakku.”

Demikianlah kata qadhi Maulana pada Abu Nawas. Abu Nawas telah berjanji tidak akan menerima jabatan yang diberikan oleh Khalifah, ia tidak akan menerima jabatan sebagai qadhi. Setelah itu, qadhi Maulana pun berpuang ke hadapan Allah. Benar saja bahwa Khalifah Harun al Rasyid memberitakan bahwa Abu nawas adalah yang paling layak untuk menggantikan posisi qadhi Maulana. Penentuan ini bukan karena nasab melainkan karena Tsaqafahnya yang juga tidak kalah baik dan soleh sebagaimana Ayahnya.

Abu Nawas mulai berfikir cara untuk meyakinkan khalifah, bahwa dia tidak layak menjadi Qadli. Keluarlah ide konyolnya, yaitu dengan berpura-pura gila. Ia mengikatkan pelepah pinang di pinggangnya, seakan menunggangi kuda, daun pinang merah itu bagaikan ekor kuda yang menjuntai juntai.

Abu Nawas berlari keliling pekan, berpura-pura menunggangi kuda dengan berdandan demikian. Setiap orang yang menyaksikan keadaan ini, langsung mengira bahwa Abu Nawas sudah gila. Mereka melaporkan keadaan ini pada khalifah. Mengetahui bahwa Abu Nawas gila maka Khalifah membatalkan pernyataannya hendak mengangkat Abu Nawas sebagai qadli. Khalifah mengira bahwa abu menawas benar benar gila kerena depresi atas meninggalnya sang ayah. Akhirnya memilih orang lain untuk menggantikan posisi ynag semestinya dijabat olh Abu Nawas. Abu Nawas lega atas keputusan Khalifah.

Abu Nawas dan Apa Nawah adalah dua orang yang berbeda, beda masa dan beda taraf keimanan. Jika Abu Nawas berpura pura gila karena warasnya. Maka Apa Nawah adalah yang berpura pura waras atas kegilaannya. Kegilaannya pada harta dan jabatan yang menggiurkan di negara bebek.

Posting Komentar