Laut Tawar

Ada seorang teman saya yang bilang bahwa,  satu hal yang dia salut dengan orang Aceh adalah yang penting ada barang, soal berapa harga itu belakangan. Ah, saya sepertinya tidak percaya itu. Sebab begini, sebulan lalu seorang teman saya juga, dia melamar seorang gadis di daerah sebelah sana gunung, ternyata mahar yang ditetapkan oleh pihak si perempuan terlalu tinggi, merasa tidak sepadan dengan status sosial si perempuan, akhirnya terjadilah tawar menawar mahar, hingga kemudian turun 20 persen.

Saya lebih setuju kalau dikatakan bahwa orang Aceh itu pandai tawar menawar. Terbukti, Laut Tawar pun luas sekali di Kota Takengon. Saya pernah berlibur di sana beberapa hari. Menyisir tepi Laut Tawar yang sejuk, dengan riak-riak kecil, ada boat yang disewakan untuk para wisatawan yang ingin menyusuri laut lebih leluasa, tapi saya tidak ikut, sebab takut tenggelam. Pemandangan dari belakang Hotel Renggali cukup indah, ada bunga berwarna ungu sedang mekar waktu itu. Nanggro Aceh memang Indah sekali.


Selain keindahan alamnya yang menghipnotis kita sehingga candu untuk kembali, juga budaya yang berbeda membuat kenangan tersendiri yang sayang jika tidak dituliskan dalam catatan ini. Ada yang menarik dari budaya masyarakat Gayo pada perhelatan tung linto. Saya belum pernah menyaksikan penyambutan seheboh ini sebelumnya.

Mereka menyambut kedatangan linto baro dengan tarian tareng kuping. Begitu rombongan samapai di hadapan rumah mempelai wanita (dara baro) langsung saja linto baronya di gaet dan diajak ke pentas. Mereka menari riang gembira di iringi lagu gayo yang saya tidak mengerti sama sekali liriknya.

Sedikit yang saya ingat dari bahasa gayo.
ulak artinya pulang
bengi artinya sejuk
mempelai pria disebut aman manyak
sedang mempelai wanita disebut inen manyak
Tuan rumah disebut empu disinte
Gerebeteh artinya saya tidak tahu :D
laut Tawar, View dari sisi kanan Hotel Renggali



Posting Komentar