MIMPI

Aku teringat tentang cerita Pakwa. Ceritanya menyerupai keadaan yang aku rasakan. Hampir setiap memejam mata untuk lena, selalu saja aku menemukan diriku telah berada di alam lain. Alam yang aku tidak tahu di mana tempatnya. Kadang tempatnya tidak asing, tapi tetap saja aku tidak mampu mengaitkannya dalam kehidupan nyata.

Ya… benar!, alam itu adalah alam mimpi. Mimpi bukanlah hal yang asing, kurasa tidak hanya aku, semua orang selalu merasakannya. Hanya saja sangat sulit untuk kita menuangkan mimpi itu kedalam bentuk tulisan. Sebab kronologis, baik tempat dan pihak-pihak yang terlibat dalam mimpi pun bukan sesuatu yang sudah disetting, sebagaimana adegan didalam film.

Siapapun itu, kurasa belum ada yang mampu memprogramkan mimpi sesuai dengan keinginannya. Aku setuju dengan pendapat Pakwa yang menyatakan demikian.


Satu lagi tentang keajaiban mimpi adalah rentang waktu yang menakjubkan. Dalam satu mimpi aku seakan telah melakoni sebuah peran dalam durasi yang sangat lama, pergantian jam, pergantian hari bahkan sampai mingguan, sedang tidur itu sendiri barangkali hanya lima sampai lima belas menit saja.

Aku ingat, barangkali ini adalah sebuah gambaran tentang kebenaran informasi mengenai hari kiamat. Ini tentang perbedaan waktu dunia dengan padang mahsyar. Membandingkan waktu dunia dengan akhirat dalam skala signifikan. Satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia. Pernyataan tersebut sangat logis, pembuktiaannya bisa dilakukan sekarang. Dengan mengkaji perbandingan waktu nyata dengan waktu yang kita lewati di alam mimpi. Ini tentunya akan menjadi bahan renungan untuk menambah keimanan seseorang.

Dari sekian mimpi, aku ingat satu mimpi yang paling menakjubkan. Bukan mimpi kalau tidak meninggalkan kesan.


 ***
Aku berkuasa disebuah pulau di tengah laut. Pulau ini sangat indah. Luas pulaunya hanya beberapa puluh hektar saja, bahkan aku bisa mengelilingi seluruh pulau dalam perjalanan satu hari. Pulau yang sangat damai ini tidak ramai penghuni. Hanya ada beberapa keluarga, beberapa binatang peliharaan, selebihnya adalah tetumbuhan dan hewan liar.

Di pulau ini tidak ada teknologi canggih semisal yang aku punya sekarang. Tidak ada televisi, tidak ada radio, tidak ada handphone dan tentunya tidak ada laptop dan gatget jenis lainnya. Konon lagi jaringan internet, tentu saja tidak ada yang semacam ini. Masyarakat di negeri yang aku pimpin ini tidak mengenal akun facebook, tidak paham twitter, tidak punya blog juga tentunya.

Mereka tidak paham dengan dunia maya. Hanya saja, aku mengakui mereka lebih unggul dalam satu hal, mereka mampu berkomunikasi dengan telepati, satu sama lain saling memahami. Saling tahu informasi berdasarkan bisikan hati. Kasih sayang antara mereka terjalin erat. Bila ada sanak saudara yang sakit, tanpa diberi kabar pun saudaranya yang lain segera datang, seakan udara adalah media yang mampu menjadikan suara hati si fulan dengan si fulen bertautan.

Sebagai penguasa yang baik, tentunya aku ingin mengenalkan kepada mereka semua yang aku punya di dunia nyataku. Aku ingin pulau ini juga merasakan canggihnya perkembangan zaman. Beruntungnya, Aku punya kekuatan super. Aku mampu mewujudkan segala sesuatu yang aku inginkan. Aku memiliki sebuah kantong ajaib, katakanalah seperti yang dimiliki oleh Dora Emon. Ada sedikit perbedaannya, kantong Dora Emon terletak di bagian depan dada, setentang dengan perut. Sedang punyaku terletak di bagian punggung. Jika aku ingin mengambil sesuatu dari dalammnya, aku harus menggunakan tangan kiri, sedang tangan kanan harus kutengadahkan keatas setentang dada. Ini sangat indah.

Mimpiku saling mengikat antara magic dan bantuan Zat lain. Sebab sandi untuk mewujudkan magicku adalah do’a yang kupanjatkan, dimulakan dengan mengucap basmallah. Jika ingin mewujudkan sesuatu, aku harus memanjatkan doa kepada Tuhan. Tidak ada permintaan yang gagal. Semua diberikan oleh Tuhan.

Baiklah, kali ini aku ingin semua orang punya gadget, bentuk apa pun itu disesuaikan dengan keinginan masing-masing. Semua masyarakat penghuni pulau sudah aku undang ke Padang Utama. Ini lapangan tempat kami membuat selebrasi adat maupun agama, pengumuman dan perhelatan penting lainnya. Sedari awal sudah kusampaikan rencanaku pada mereka, untuk mengajarkan mereka menikmati kecanggihan teknologi akhir zaman.

Mereka semua setuju, tertarik dengan ideku. aku pernah bercerita bahwa dengan internet semua orang bisa keliling dunia. Bisa berinteraksi dengan banyak orang yang jauh entah dimana. Yang paling membuat mereka tertarik adalah mereka bisa punya akun Facebook. Ini sangat menarik perhatian, aku bilang bahwa di negeri Facebook kita bisa menjadikan diri kita sebagai apa saja. Seseorang boleh membelah diri bak kian santang, bukan membelah berkeping badan, melainkan membelah menjadi banyak. Satu orang bisa menjadi tujuh orang atau bahkan lebih.

Tujuh akun dikuasai oleh satu orang. Di akun pertama dia bisa menjadikan dirinya perempuan, akun kedua dia bisa bersikap seperti laki-laki. Akun ketiga barang kali kalau ingin pasang poto tupai itupun dibenarkan. Yang ke empat dia bisa melakoni dirinya sebagai bunga, bunga yang mampu meng-update status, membalas komentar. Akun berikutnya dia bisa menjadi selembar poster yang bertuliskan pesan motifasi atau quote tentang cinta. Bayangkan saja, selembar kertas dapat menulis kalimat di status, qoute yang menulis quote. It’s amazing!

Bismillahirrahmanirrahim...” Aku memulai do’aku

 “Ya Ghani… Ya Ghani… loen neuk peu makmu aso nanggro. Neu jok keu ureung nyo gadget saboh sapo. Neu izin keu kamo beuna cit wifi. Supaya kamo jeut online bak Ef-bi” 

Like magic show…! Doa terkabul. Semua orang yang hadir di lapangan ini kubagikan satu persatu gadget yang aku ambil dari kantong ajaibku. Semua mendapatkannya. Paket doa yang lengkap. Jaringan wifi pun sudah bisa digunakan.

Aku berpidato di depan mereka, mensosialisasikan cara membuat akun, cara update status, cara bunuh diri (non aktif) dan cara membunuh orang (blokir) di FB. Semua memahami dengan mudah. Tak hanya orang dewasa, anak-anak muda bahkan remaja pun cepat memahaminya. Satu yang aku bingung, bahkan balita dalam buaian ibunya pun ikut belajar cara mengunakan FB.

Aku ingin protes dengan keadaan ini. Ini tidak normal, mana mungkin balita bisa paham dengan gatget dan internet. Ini tidak masuk akal. Ah, aku ingat, inikan hanya mimpi. Gila…! bahkan dalam mimpi aku ingat bahwa aku sedang mimpi, ini benar benar meuchokolo.

Hari-hari pun berlalu, semua semakin terbiasa menggunakan gadget. Hingga sebulan kemudian permasalahan mulai bermunculan. Aku mendapatkan laporan dari seorang istri, mengeluhkan kelakuan suaminya yang berubah, sekarang suaminya cemburu buta, suaminya mencurigai ia menjalin keakraban dengan seorang laki-laki lain di FB.

Persoalan kedua tidak jauh beda, seorang suami melaporkan istrinya kepadaku. Istrinya sudah dua hari merajuk, tidak mau bicara, sebab suami tersebut tidak menuruti keinginannya untuk berlibur ke Singapura. Dia punya kenalan baru di dunia maya, kenalan itu mengundangnya untuk berhadir dalam sebuah pesta. Sang suami bingung, dia sendiri tidak tahu Singapura itu dimana, bagaimana dia bisa mewujudkan permintaan istri. Aku benar-benar bingung dengan kondisi ini.

Persoalan ketiga. Seorang perempuan remaja, dia datang kepadaku, mengadu bahwa dia sedang jatuh cinta pada seorang teman FB-nya. Laki-laki itu sering sekali mengirim inbox untuknya, tentang puisi cinta yang menggugah, rayuan romantis picisan, sehingga remaja ini pun terpikat. Setelah dia jatuh cinta ternyata laki-laki itu bukan typical yang setia. Laki-laki itu mengaku bahwa dia melakukan hal yang sama kepada semua perempuan. Betapa hancur hati remaja tersebut, dia menangis galau di hadapanku. Aku bisa melihat derita cinta dari sorotan matanya.

Lanjut lagi persoalan berikutnya. Balita, yang tadinya aku ingin menggugat mimpiku. Dia sedang bermasalah. Karena belum paham norma, dia sering meng-uploud foto bugilnya. Permasalahannya sekarang adalah dia menjadi korban pedofil, ini sedikit tidak nyambung. Aku semakin bingung dengan mimpiku yang tidak wajar, “bagaimana perlakuan pedofil terjadi tanpa persentuhan fisik, itu kan hanya interkasi di dunia maya.” tanyaku dalam hati.

Aku sangat tidak menyangka semua akan seperti ini.

Laporan terkahir yang aku terima hari ini adalah puncak perkara. Ini tentang cinta segi tiga. Oh tidak, cinta segi empat.

Asri jatuh cinta pada si Bentir, ternyata Bentir mencintai Clara, sedang Clara justru berharap Dedi yang mencintainya. Bagai benang kusut, buhul-buhulnya tidak saling mengikat. Masalahnya adalah ke empat orang yang terkait dalam gumpalan benang kusut tadi adalah orang yang aku kenal. Aku menjadi penimbang rasa.

Asri bercerita padaku tentang Bentir, laki-laki itu begitu berarti baginya, foto tampannya dan status-status motifasi yang di postkan oleh Bentir mampu menundukkan hati Asri. Lanjut, Bentir juga mengadu padaku tentang perasaannya pada Clara, dara asal Aceh Ghayeuk itu telah menjadi penyejuk hati dan pencerah pandangannya. Yang senatiasa mendamaikan jiwanya. Bentir berharap cintanya kepada Clara akan bertaut, terwujud dalam wadah yang suci. Oh, Tuhan… !

Clara adalah sahabat baikku di FB. Dia juga bercerita padaku tentang sosok Dedi yang selalu memberi perhatian padanya, hanya saja dia tidak tahu perhatian itu adalah bukti cinta atau hanya sekedar perhatian biasa sesama saudara. Clara galau dengan sikap Dedi, ia hanya berharap jika itu yang terbaik maka semoga Tuhan menyatukan mereka.

Aku pusing…! ini masalah yang aku timbulkan di dalam negeriku sendiri. Aku adalah pemasok bencana di pulau ini. Penguasa macam apa aku ini. Aku megutuk diriku sendiri atas kegagalan ini. Aku benar-benar tidak menyangkan akan seperti ini. Rakyat di negeriku sudah berubah, hanya berlalu waktu dua bulan dari sejak pertama aku membagikan gatget kepada mereka. Sejak aku mensosialisasika cara mengunakan FB, semuanya merubah kehidupan pulau ini. Kekuatan Telepati musnah. Udara sudah tidak mampu menjadi media untuk menyampaikan komunikasi hati, ini pengaruh dari signal wifi.

Semua sibuk dengan gatget masing-masing. Bahkan, aku pernah memperhatikan ketika dua orang sedang duduk di taman, yang terlihat dari mereka bukan senda tawa berdua, melainkan senyum simpul atau muram wajah terhadap muka gadget masing masing, sekalipun ketika berbicara mereka tidak saling menatap. Masing-masing sibuk dengan teman di dunia mayanya. Aku panik. Aku cemas, bagaimana aku mempertanggung jawabkan keterpurukan ini. Ini semua karena ulahku.

Aku menghujat batinku sendiri, betapa aku telah gagal menjadi pemimpin yang baik. Alih-alih aku ingin membahagiakan mereka, justru negeriku hancur porak poranda. Aku duduk pasrah di hamparan ladang yang kini telah ditumbuhi ilalang, tidak ada yang mengurus ladang ini. Kemudian kubaringkan badan diatas ilalang yang sudah kering, dengan tangan membentang, aku ingin menjerit sekuat mungkin. Aku ingin memberitahukan pada langit bahwa aku menyesal.

Lantas, aku ingat. Aku punya kekuatan. Aku bisa menggunakan kekuatanku untuk mengembalikan keadaan negeriku kepada sedia kala.

“Eh, tunggu dulu, bukankah ini mimpi?” ingatku. Untuk apa aku pusing dengan mimpi. Aku ingin terbangun dari mimpi ini dan berharap di kehidupan nyata aku tidak menemukan kejadian semacam ini. Tapi aku tidak bisa memaksakan diri untuk terjaga. Kekuatan yang aku punya tidak bisa membuatku menghentikan mimpi. Mimpi ini harus aku jalani.

 Tiba-tiba terdengar nyanyian seorang perempuan yang mengalun indah, hanya saja aku sedikit terganggu dengan volume benyanyi begitu keras di telingaku. Suaranya menimbulkan getaran. Entah bagaimana ini bisa terjadi.

 “aku rapoopoo mas,, aku raaapopo”

 Aku terbangun dari mimpiku. Ring tone lagu terbaru dari Julia Perez telah membangunkan aku. Perasaanku sekarang bercampur aduk. Seharusnya aku lega karena tidak harus bertanggung jawab atas kehancuran yang telah kubuat di negeri mimpiku. Tapi aku tidak bisa melupakan kesan mimpi itu, aku telah menciptakan kehancuran di pulau itu.

Posting Komentar