Pasar di Gampong

Sebagaimana kita ketahui didalam konsep ekonomi, pasar merupakan tempat bertemunya antara pembeli dan penjual. Jual beli dapat kita katakan sebagai interaksi tukar menukar. Tukar barang dengan barang, barang dengan jasa, juga jasa dengan uang.

Pada umumnya orang mengenal pasar dengan lokasi fisik tertentu. Sebenarnya, penyebutan pasar tidak sesempit itu. Tidak hanya Pasar Ulee Kareng, Pasar Lambaro atau Pasar Peunayong yang layak disebut pasar. Setiap tempat dimana terjadi interaksi jual beli maka layak disebut pasar.

Tadi pagi, terciptalah pasar dadakan di depan rumah saya. Interaksi jual beli antara mak saya dan beberapa ibu-ibu lainnya dengan seorang penjaja gerabah. Gerabah yang saya maksud di sini bukanlah tembikar untuk pajangan interior selayak guci keramik atau marmer lainnya. Bukan itu, sebab kami orang kampung dengan kapasitas rumah sederhana tentunya tidak membutuhkan perbendaan tersier semacam itu.

Gerabah yang dijajakan oleh penjual itu adalah jenis perlangkapan dapur. Ada kanot, beulangong, dan pine. Kanot adalah wadah untuk menanak nasi. Dahulu, sebelum adanya rice cooker, panci stainlees dan alumunium, orang Aceh menggunakan ini untuk perlangkapan dapur mereka. Bentuknya  menyerupai guci dalam ukuran kecil dan dilengkapi dengan penutup.

Sedang beulangong adalah wadah untuk memasak kuah maupun lauk lainnya.  Lain halnya dengan pine, pine bentuknya seumpama piring, yang biasa digunakan untuk mengulek bumbu masakan. Daerah saya menyebutnya pine, sedang teman-teman dari daerah Pidie menyebutnya cuprok.

Menjelang bulan puasa, permintaan pasar terhadap benda-benda seperti ini memang meningkat, mengingat di Aceh ada tradisi meugang. Khusus di kampung saya, setiap orang mempersiapkan beulangong untuk masak sie ruboh. Masakan khas Aceh yang satu ini memang akan lebih nikmat kalau dimasak di dalam beulangong.

Menanak nasi dan memasak kuah atau lauk didalam kanot dan beulangong memberi cita rasa tersendiri. Ada aroma yang khas dan rasa yang berbeda, apalagi kalau dimasak dengan menggunakan kayu bakar. hmm.. enak sekali (ini pendapat saya!)

gerabah dari tanah liat

Menarik memang, melihat hasil kerajinan tangan yang unik-unik seperti ini. Dari dahulu sebelum saya lahir telah ada dan sampai saya sudah sebesar ini masih tetap diproduksi. Masyarakat pun masih tetap menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Yang lebih unik dari pasar dadakan tadi pagi adalah transaksinya. Jual beli tidak menggunakan uang, melainkan menggunakan barang. Barter gerabah dengan padi. Jadi, harga untuk satu gerabah adalah sejumlah padi yang di isi penuh kedalam gerabah tersebut. Begitulah jual beli sudah berlangsung secara turun temurun di daerah saya.

Tidak hanya gerabah yang dijual dengan cara seperti ini, garam juga demikian. Kita menukar padi dengan garam dalam jumlah takaran yang sama. Jika acuannya adalah baskom, maka satu baskom padi ditukar dengan sebaskom garam. klasik sekali bukan?


Selain pedagang gerabah dan garam, banyak pedagang lainnya yang menciptakan pasar di halaman rumah saya. Para pedagang dari berbagai wilayah tentunya. Ada yang menjajakan pisau dapur, ada yang jual tembakau untuk nenek-nenek dan kakek-kakek di kampung. Ada yang bawa anyaman tikar pandan, itu biasanya dari Pidie. Ada yang jual minyak keumeunyan dan lainnya.


Dalam satu hari nyaris sampai sepuluh orang mencipkan pasar di gampong saya.
masing masing pedangang punya yel-yel tersendiri untuk menarik antusias pelanggan.
Sampil memelankan laju kendaraan, mereka berteriak dengan iringan klakson seperti pedendang tembang Bollywood

"Eungkot... eungkot...!" kata penjual ikan
atau
"siraaa... wareeh...!" teriak penjual garam

Demikianlah budaya kami di Aceh Ghayeuk.

Aini Aziz, melaporkan dari Gampong Lambaed, Kecamatan Kuta Baro.

2 komentar

itu beulanga bisa bikin sie reuboh kan kak? hehe

mutar2 cari artikel, eeeh nyasar kemari hehe

Reply

Bisa, Bang. Dengan itulah biasanya dimasak Sie Reuboh. Khas :)

Reply

Posting Komentar