Curhat..!!

Dear ...
Aku ingin curhat. Siapapun yang baca tulisan ini, mohon jangan sampaikan pada yang lainnya ya. Ini catatanku yang sangat tidak penting. Saking tidak pentingnya hingga aku memilih untuk menumpahkannya ke helaian ini saja, supaya tidak lagi mengusik fikiranku.

Aku bernama Dua Cahaya, dari sekian banyak hal yang tidak penting dariku, kurasa ada satu yang penting, yaitu nama. Nama adalah identitas pertama yang diberikan oleh orang tuaku. Nama ada sebelum aku punya akte kelahiran, sebelum ada no KTP, sebelum ada nomor Pasport, dan sebelum ada identitas lainnya. Pada hari disematkan nama itu untukku mereka membuat prosesi yang khitmat.



Hari ketujuh dari kelahiran, di undang seorang pemuka agama di kampung, rambutku dibotaki, ada setalam padi dan beras, aku ditepung tawari (peusijuk) kemudian potongan hati ayam dibolak-balikkan diatas dadaku. Tengku itu membacakan sesuatu, sesekali terdengar kalimat pujian kepada Tuhan, kemudian disertai dengan selawat kepada nabi. Aku tahu ini semua dari Mak yang kerap bercerita ketika mengiring tidur malamku.

Sayangnya hal yang penting ini jadi tidak penting, kenapa? karena Dua Cahaya itu bukan namaku yang sebenarnya. Namaku yang sebenarnya adalah Cahaya Mataku. Jika kalian mulai tidak mengerti dengan catatanku ini, kumohon jangan lanjutkan membacanya. Aku hanya khawatir kalian akan mencelaku,menuduhku menulis dengan kondisi jiwa yang tidak seimbang, atau kalian akan menyangka aku mengigau. Sudahlah, cukupkan saja membaca sampai di sini.

Ku anggap kalian sudah tidak membaca. Aku merasa lebih nyaman bercerita karena sudah tidak ada yang membaca tulisan ini.

Cahaya Mataku. Itu adalah nama yang tercatat di laul mahfudz atas seorang anak perempuan yang terlahir dari rahim seorang wanita terhebat yang pernah ku kenal. Suaminya adalah seorang petani yang kesehariannya hanya menghabiskan waktu di kebun. Wanita itu bernama Rasmi binti Usman sedang suaminya bernama 'Abdul Aziz bin Zamzami.

Banyak yang bilang bahwa anak ke empat bukanlah anak yang istimewa, berbeda dengan anak pertama yang diidam-idamkan setiap pasangan muda, tapi kurasa itu tidak berlaku bagi pasangan ini. Orang tuaku menganggap semua anak itu sama pentingnya, menanti kelahiran adalah saat yang paling mendebarkan. Terlebih lagi ketika itu belum ada layanan USG. Tentunya kelahiran lebih surprise. Ah, untuk apa saya bercerita proses bersalin di lahan curhat yang tidak penting ini.

Lanjut saja, hari berganti nama, senin selasa rabu dan seterusnya. Masa berganti masa, timbul tenggelamnya surya mengubahku secara masiv menjadi seorang anak yang siap dihantarkan kesekolah. Jangan tanya kapan dan kenapa namaku berubah menjadi Dua Cahaya. Karena aku tidak ingin menceritakan semuanya.
Aku baru sadar ternyata, ketika aku sudah menjadi seorang sarjana. Nama yang dahulunya Cahaya Mataku kini telah menjadi Dua Cahaya.

Pada siapa aku harus marah. Pada mak yang sudah memasukkan aku ke sekolah. Tentu saja tidak seperti itu, Mak tidak salah, sama sekali tidak salah. Dia hanya seorang yang tidak bisa membedakan penulisan 'ain dan alif dalam bahasa latin. Lantas, apakah bapakku yang salah karena tidak pernah perhatian pada nama di raporku yang tidak menunjukkan penggunaan( ') pada kata ('aini)
tentu juga itu tidak pantas untuk aku salahkan. Tidak ada yang layak menerima kemarahan dan tidak ada yang harus marah. Tidak ada yang salah yang harus disalahkan.

Dua Cahaya ataupun Cahaya Mataku itu sama saja. Aku bersyukur telah terlahir dari keluarga terhormat. Terhormat karena Mak bukan wanita cerdas penggagas isu kesetaraan laki-laki dengan perempuan. Mak bukan golongan pejuang feminisme. Mak bukan pekerja luar rumah yang pergi ketika hatahari terbit dan pulang ketika matahari hendak tenggelam. Mak bukanlah wanita yang takut kemelaratan karena punya anak lebih dari dua.

Terhormat karena Bapak bukan seorang wakil rakyat yang menghabiskan uang negara demi kepentingan pribadinya. Bapak bukan kontraktor yang berspekulasi dengan menipu proyek pekerjaan sana sini. Bapak bukan seorang pegawai negara yang ketika tidak bekerja tapi tetap dapat gaji. Bukan semua itu.


Posting Komentar