Kado ulang tahun Abi

Adek bingung. Tidak tahu mau memberikan apa sebagai hadiah ulang tahun abi besok lusa. Memperhatikan kakak yang sedang sibuk membungkus karyanya sebagai kado, perasaan adek kian tidak keruan. Adek tidak pandai merangkai bunga-bunga kertas itu. Kakak memang sangat terampil dalam bidang kerajinan tangan.

Merasa tidak bisa berbuat apa-apa, adek kemudian mengeluhkan kesedihannya pada ummi.
"Mi.., adek bingung, sedih !" kata adek sambil berlinangan air mata.
"sedih kenapa dek, adek dijahati sama teman-teman, tidak bisa jawab ujian, atau apa yang terjadi ? ceritalah pada ummi!" kata ummi sambil merangkul adek ke dalam dekapannya.


"adek tidak tahu mau bungkus apa sebagai kado untuk ulang tahun abi besok, sedangkan kakak punya, dia sedang membungkus bunga-bunga kertas yang sudah dirangkainya" keluh adek sambil menggulung-gulung ujung bajunya yang kini sudah kian berkerut.

"hmm..." Ummi tersenyum, ummi menatap wajah adek, lengkung telapak tangannya meraih dagu adek kemudian mengusap lembut pipi adek yang sudah dibanjiri oleh derai air mata.

"adek kan sudah pandai baca Al-qur'an, pun adek bisa berdo'a. Panjatkanlah do'a untuk abi, doa terbaik dari adek akan diijabah oleh Allah. Itu akan menjadi kado yang tidak ternilai harganya." Ummi berusaha memberi ketenangan kepada adek dengan saran yang bijak.

"Boleh begitu mi? jadi hadiah itu tidak harus benda ya?" gegas tanya adek sambil mendongak wajah untuk menyorot tatapan mata ummi,  mengisyarahkan bahwa adek berharap ummi benar-benar dengan apa yang disampaikannya barusan. 

"Tentu saja nak, hadiah itu boleh berupa apa saja !" jawab ummi.

"yeyee,," adek senyum dan kini terlihat wajahnya sangat lega.
--
Keesokan harinya, abi mendapati adek sedang duduk sendiri di sudut ruang belajar di kamarnya. Mulutnya komat kamit, dengan mata yang terpejam diatas hamparan sajadah coklat berbulu halus adek terlihat begitu khusyu'.
Beberapa saat abi hanya memperhatikan saja, setelah kemudian adek mengusap wajahnya, abi mendekat, "adek sedang apa?" tanya abi.

"Sedang membungkus kado untuk ulang tahun abi besok" jawab adek sambil menoleh kearah abi dengan wajah dicerahkan oleh senyum merekah.

Melihat sisi kiri dan kanan adek tidak terdapat benda berbentuk kado apapun, abi bingung, kemudian bertanya lagi "tapi, mana kadonya nak?"

Adek bangkit dari duduk, kemudian meraih tangan abi, menjelaskan perihal yang disampaikan ummi kemarin.

"Kata ummi, kado itu boleh berupa apa saja, tidak harus benda dalam wujud nyata, do'a juga termasuk kado. Tadi adek sedang baca surat al -ikhlas. Ustadzah bilang, jika kita baca Al-ikhlas 10 kali sehari maka kita akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Adek ingin mempersembahkan rumah itu untuk abi sebagai hadiah ulang tahun abi besok. Boleh kan bi?" Adek menunduk mengharap abi tidak kecewa dengan kado abstrak yang diberikannya.

Abi diam, mengangguk, senang sekali rasa hati abi, senyum yang dalam, air matanya kini telah membanjiri ladang wajah hingga menetes satu satu di ujung janggut tipis abi, abi terharu dengan kesungguhan dan ketulusan adek
"Abi bangga padamu nak!" kata abi pelan sambil mengelus kepala adek.

Posting Komentar