Meulaboh - cepat ataupun lambat, yang penting tiba.

Sejak tahun 2007 saya teringin sekali menginjakkan kaki di kota Meulaboh. Betapa tidak, Meulaboh adalah tanah kelahiran teman terbaik saya di kampus. Perkenalkan; namanya Suci Rahmi binti Mahdi. Anak ketiga dari empat bersaudara ini memiliki rupa yang sangat jelita (:objektif). Wajahnya teduh ketika dipandang, bicaranya sopan, berbusana rapi dan syar'i.  Di kampus kami disebut sejoli, ya, dua yang tak terpisahkan, dimana ada Suci disitu ada saya, dimana ada saya disitu ada Suci. Ets, ada tempat tertentu juga yang tidak mungkin bersama. :D

Ketika musim liburan dan suci pulang kampung, saya sering diajak. Wal hal, saya adalah anak kampung yang susah sekali dapat izin keluar tentunya tidak bisa berbuat banyak dengan jawaban mak
"jeut jak, tapi loen hana seunang (boleh pergi, tapi mamak tidak senang)" begitulah selalu jawaban mak, cukup dengan kalimat itu saya memahami bahwa mak tidak memberi izin.


Hingga disuatu hari, tepatnya, Minggu 10 Agustus 2014, saya bertandang kerumah Abu Syamwil; pendiri dan pemimpin pondok pesantren Darul Muta'allimin (Dayah Turki) - Blangbintang. Saya mendapatkan jawaban atas harapan saya selama ini. Mimi (istri abu) yang berbetulan adalah saudara saya mengajak berkunjung ke Meulaboh. Acara takziah, besan dari pihak adiknya meninggal dunia.

Tunggu apa lagi, bukankah ini saat yang tepat, tidak ada alasan mak untuk menolak memberi izin kalau perginya dengan Abu dan Mimi sekeluarga. Betapa senangnya rasa hati, seperti seorang dara yang sedang jatuh cinta saya pun berkemas kemas.

Jam 11:00 WIB kami berangkat, singgah sejenak di Pagarair untuk takziah juga. Kami dihidangkan makan siang dan setelah beberapa saat terlewatkan, perjalanan pun berlanjut hingga tibalah waktu dhuhur. Abu meminta untuk berhenti di Mesjid Lhoknga dahulu, untuk shalat dhuhur dan sekaligus jama ashar.

Hmm. Sejuk dan tenang, suasana mesjid yang sedang direnovasi itu cukup nyaman untuk istirahat sejenak, sambil menunggu Bang Awi (adik mimi) sekeluarga.  Setelah semua selesai shalat dan yang ditunggu pun tiba, kami melanjutkan perjalanan.

Betapa sebenarnya saya ingin sekali se mobil dengan Dek iklima, Sarah dan Iefa. Apalah hendak di kata Mimi mengajak saya semobil dengannya, yang tentu saja disana ada Abu juga. Tahu sendirikan kalau bersama beliau kita harus jaga sikap. Jadi, katakanlah perjalanan ini tidak akan diriangi dengan nyanyian "naik-naik kepuncak gunung" :D

Sepanjang pesisir pantai barat, saya tidak henti-hentinya takjub dengan keindahan yang tersaji oleh alam. Allah Dzat yang maha mulia telah melukiskan pemandangan yang melenakan mata yang memandang. Laut yang dihiasi dengan riak ombak, berarak-arak ketepian. Sayup sayup daun cemara melambai ditiup angin. Rasanya indah itu ingin kubungkus dalam sebuah paket kemudian kubawa pulang.

Mengabadikan momen di lhok seudu (Achi, Sarah, Iefa dan Aklima)

Perjalanan yang tidak sekedar menghibur mata, tapi juga menghibur hati, sebab Mimi juga menghiasi pejalanan ini dengan berbagi cerita dan nasehat. Sekali bertanya tentang hari-hariku; pekerjaan, keadaan keluarga dan.. ah.. tentang kapan saya akan menghabiskan masa lajang. Saya tidak berkomentar banyak tentang yang satu itu.

 "Indahnya... kan, Mimi kan?" saya mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan panorama laut yang dapat dilihat dari jalan di puncak Gurute.

Perjalanan berlanjut, kami berangkat beriring. bang Awi dan keluarganya paling depan. Disusul dek Reja bersama Achi dan Iefa serta adik-adik lainnya; Muhammad, Ismail, Iklima, dan Humaira. Perjalanan yang sangat menyenangkan dan tak ada kendala yang menghadang.


Saya merasa tidak asing dengan beberapa lokasi yang kami lewati. Betapa tidak, lokasi promosi tersebar disepanjang jalan Banda Aceh - Melaboh. Saya ingat kenal tempatnya lewat dokumentasi yang saya terima. Calang, Babahrot, Patek, saya rasa inilah salah satu dampak positif saya bekerja di Advertising. Sekalipun belum pernah lihat langsung, tetap saja familiar dengan lokasi tertentu.

Jam menunjukkan pukul 16:15 wib. Kami singgah sejenak di rumah makan di Pasar teunom. Melepas lelah sembari mengisi perut yang keroncongan. Anak-anak tertawa riang. Saya yang masih sempoyongan akhirnya ikut melebur tersenyum bersama keceriaan mereka. Setelah merasa cukup segar kembalilah kami melanjutkan perjalanan. Formasi berubah, saya ikut mobil yang dikemudi dek Reja. Lengkap sudah kebahagiaan, semobil anak muda semua, bisa tertawa riang canda dengan adik-adikku sekalian.

Akhirnya, perjalananpun mencapai titik hentinya, "Meulaboh I'm coming"
Bersama dek Reja
Bersama Iklima


Di depan mesjid meulaboh (Nurul, Humaira, Iefa, Sarah dan Iklima)



Posting Komentar