Penikmat Kopi Pahit; Ketika cinta harus bersabar

Seluruh persendian terasa lepas, tubuh lemas. Aku tidak berdaya bahkan untuk bangkit duduk dari posisi baringku. Napas kuhela satu-satu. Agak berat terasa. Sepertinya bulu hidungku kian lebat saja, celahnya sangat sempit. Tidak banyak yang dapat kuucapkan. Pandangan remang-remang, aku hanya bisa mendongak sedikit, di sana ada Mak, Abang, Kakak dan Adikku.

Inikah hari kesudahan. Ketika aku akan meninggalkan segala yang pernah kupunya. Mengucapkan salam perpisahan pada kehidupan. Aku terus menerus berfikir tentang titik jenuh kehidupan. Ya, kematian. Bulir bening yang tadinya berlinang-linang di dua telaga, kini mengalir membasahi ladang pipiku yang pucat pasi. Terasa tangan yang tak seberapa lembut mengusap, itu tangan Mak.



" Minumlah sedikit nak"
Mak menyodorkan sesendok air yang telah diemulsikan gula kedalamnya. Aku meneguknya, kembali Mak menciduk sesendok lagi dan kemudian hingga beberapa sendok telah aku telan. Kondisiku masih sangat lemah. Abang mangusulkan untuk dibawa kerumah sakit, tapi aku menggeleng. Aku memang sangat tidak suka dengan gedung putih yang setiap ruangnya berhiaskan dengan tiang dan selang-selang infus. Aku takut disuntik dan enggan minum obat kimia segala jenisnya.

Setelah kondisiku sudah lebih membaik, aku diberi obat-obatan herbal. Entah beberapa macam daun-daunan segar yang ditumbuh, ditambah lagi kunyit segar yang telah diekstrak. Aku menelan setengah gelas minuman pekat, kelat, yang diberi nama "obat." Ya, tentu tidak ada brand nama atas produk ini. Sebab bukan produk sebuah perusahaan medis. Itu hanya ramuan tradisional yang cocok untuk orang yang phobia medis sepertiku.

Sekelumit masa sulit telah lewat, aku kini kembali sehat. Lima hari sudah berlalu, aku berdiam diri, tidak ke kantor, bahkan tidak keluar rumah. Aku yang tadinya tepar karena diserang maag, kini kembali menggeliat bugar. Lambai tangan pada tamu lama yang sudah tidak pernah kurasakan lagi kehadirannya. Semoga dia tidak pernah kembali.

Aku sadar, ini semua karena sedikitnya kesadaranku untuk makan tepat waktu dan larangan untuk tidak banyak ngopi yang kuabaikan. Kini aku harus taat, tidak boleh kuulangi lagi.

Kalau tentang makan tepat waktu, kurasa itu tidak berdampak besar. Sebab, sepanjang waktu di sela sarapan, makan siang dan makan malam, aku tetap mengisi perut dengan makanan. Kurasa ini serta merta karena aktivitas ngopi yang kelewatan. Nyaris dalam sehari aku bahkan ngopi sampai tiga kali. Untuk orang lain mungkin hal ini masih wajar, tapi tidak untukku yang punya riwayat maag.

Aku harus bertaubat, harus berimsak sejenak dari kopi dan makanan-makanan kaya asam dan lemak. Kumanjakan dulu bahagian paling lunak dari tubuh ini untuk bermanja. biar lambung dan usus berhura-hura dengan bubur beberapa saat. Nanti, bila telah sembuh aku akan kembali mencintai kopi.
Aku menulis catatan ini sembari menyeruput secangkir hot chocolate original. Memang rasanya tidak senikmat kopi, tapi anggap saja ini cinta pelarian, dari pada tidak punya cinta sama sekali.


Posting Komentar