Satuan (alat ukur) Takaran Aceh.

Aktivitas dara aceh;  beut nulong (mencabut benih padi) untuk ditanam.

Sebagai seorang sarjana pertanian, saya kerap merasa malu ketika berhadapan dengan masyarakat. Betapa tidak, kadang ilmu yang telah saya pelajari di bangku kuliah, sedikit sekali dapat diterapkan ketika terjun langsung ke sawah. 

Saya mengambil konsentrasi bidang pasca panen. Terkait pengeringan pengemasan dan proses paska panen lainnya. Sedang segi pengolahan tanah, pembentukan bedeng dan proses pra panen lainnya tidak begitu saya kuasai.

Pun demikian, saya tidak pernah merasa ilmu saya tidak berguna. Adakalanya yang kita tahu tidak diketahui oleh orang lain, dan yang mereka tahu tidak kita ketahui, maka dari itulah terbentuk interaksi sosial. Saling berbagi ilmu.

Saya merasa terhormat ketika bisa berbaur dengan para petani. Sebab, latar belakang keluarga saya juga petani. Saya memanfaatkan waktu luang untuk ikut membantu keluarga mengolah lahan pertanian. Sawah dan kebun juga. Hal yang paling menyangkan dari menjadi seorang petani adalah ketika menuai hasil. Ya, rasanya peluh berbayar. Lelah berganti dengan suka cita. 

Khusus untuk petani padi, suatu kepuasan batin ketika mereka mendapati hasil panennya mencapai nisab ( kadar tertentu ) untuk mengeluarkan zakat. Satuan takar yang menjadi rujukan adalah yang digunakan oleh orang arab. Yaitu sha’mud. dan lainnya.

Mudd adalah ukuran literan (volume/isi) Madinah sepenuh kedua isi tangan bila dipertemukan. Mudd sendiri secara bahasa artinya “isi kedua tangan”. 4 Mudd diperkirakan 3 s.d 3.1 liter ukuran sekarang menurut pandangan madzhab Syafi’i. Artinya diperkirakan adalah 2.67 s.d 2.76 kg.

Imam Nawawi dalam kitab Raudhah menambahkan, berkata sekelompok ulama, “Satu sha’ sama dengan empat kali cidukan kedua telapak tangan, dari tangan orang yang pertengahan/sedang” (Jilid 2, hal. 301-302) . Namun demikian, satuan takar ini tidak lazim digunakan di daerah kita (Aceh). Sebab tetua dahulu telah mengkonversikannya kedalam satuan lokal. Takaran lokal telah ditetapkan sebagai 'urf (adat), dijamin kesesuaiannya dengan takaran arab berdasarkan pernyataan para alim ulama Aceh.

Adapun konversi satuan tradisional tersebut adalah sebagai berikut;

1 nie = 2 jempet
1 belakai = 2 nie
1 kai = 2 belakai
1 cupa = 2 kai
1 kato = 6 ons
1 are = 2 cupa
1 gantang = 2 are
1 are = 6 mok
1 naleh = 16 are
1 gunca = 10 naleh
1 kuyan = 10 gunca
1 are = 2 liter
1 naleh = 16 are
1 gunca = 10 naleh
6 gunca = nisab zakat padi
.

Apabila padi hasil panen telah mencapai 6 gunca, maka dikenakan zakat sebesar 10 % jika sawahnya dialiri dengan air tadah hujan/ irigasi. Lain halnya jika sawah dialiri semata dengan pompa, dikenanak zakat 5 % saja. Tidak heran jika banyak orang tidak mengetahui hal ini, bahkan warga aceh sekalipun. Sebab, kebanyakan dari kita sudah tidak bergelut dengan pertanian.

*Mohon maaf belum bisa saya lampirkan gambar alat takarannya. Akan saya lengkapi lagi dilain waktu. Insya Allah.


7 komentar

Nalei, cupa, jempet, nie nyan peu ?
Hana muphom loen

Reply

nyan alat takaran lokal. Sulit tajelaskan meuseu hana gambar. Sekarang sudah sulit kita temukan alat ukur seperti ini.

Reply

Terimakasih infonya kak, sangat bermanfaat

Reply

Btw, klau untuk zakat fitrah dalam satuan takaran Aceh berapa yaa ?

Reply

Zakat fitrah per orang 2 are, Tgku.

Reply

MENYO SI ARE PADUP KILO BEK LITER

Reply

Posting Komentar