Selamat Milad ke - 14. FLP Aceh Adalah Keluarga Cinta

Lagi-lagi rasa senang tak terbendung. Ini kali ketiga saya terlibat dalam kepanitian acara yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena Aceh. Genap setahun saya menjadi anggota salah satu lembaga kepenulisan terpopuler di Indonesia ini. Rasa seperti seorang anak yang baru lahir, namun tidak sebagai bayi, tapi sebagai remaja. Saya bisa terus belajar merangkak tanpa harus dibedong dan digendong terlebih dahulu. Semua senior menuntun jalan, memberi kesempatan untuk kami menempa diri. 

Kemarin acara seminar pendidikan nasional bersama Helvy Tiana Rosa dan Edi Sutarso. Temanya: Sastra Membangun Bangsa. Saya dipercayakan menjadi MC (master of ceremony) pada perhelatan tersebut. Sekalipun berbicara di depan umum bukan lagi hal yang baru, tetap saja ada rasa canggung, demam panggung. Betapa tidak, yang di depan kita sekarang adalah orang-orang yang luar biasa. Para pemeluk sastra, bahkan pembicaraan mereka tentang makan dan minum saja bernilai sastra, konon lagi puisi, buku, cerpen dan novelnya. Beuh, luar biasa!




Semua berlangsung meriah, sekalipun kita tidak pernah mendapati kesempurnaan dari manusia, namun ketika segala hal dilakukan dengan ruh/cinta, tidak akan ada yang menolak untuk mengakui bahwa acara kemarin sangat sukses. Berkat seluruh kerja keras panitia dan semua yang terlibat, kita dapat mendulang banyak ilmu dari kucuran dua pemateri. Teko yang berisi dengan susu akan mengeluarkan susu saat dituang. Rasanya 'teko' Mbak Helvi dan Pak Edi, isinya bukan lagi setaraf susu, tapi lebih dari pada itu. Pemaparan sarat stimulan, motifasi, inspirasi dan segala hal yang dibicarakan bernilai kebaikan. Sambutan dari para peserta pun cukup memuaskan, penuh antusias.


Sedekat ini dengan Mba' Helvy bukan lagi mimpi, jika engkau berada di Forum Lingkar Pena


Benarlah bahwa setiap pertemuan kita bukan karena spontanitas. Tidak ada kebetulan bagi orang-orang yang mengimani Tuhan. Saya berjumpa dengan FLP atas skenario Allah. Bermula dari aktif di media sosial (akun facebook atas nama Aini Aziz Beumeutuwah) saya mengenal satu dua anggota FLP. Mengikuti perkembangan status dan informasi yang mereka share, hingga pada sebuah kesempatan Open Reqruitmen, saya mendaftarkan diri. 

Tanpa rasa ragu, penuh percaya diri, saya mendaftar. Lulus seleksi administratif kemudian lanjut dengan tes wawancara. Setidaknya ada tiga pos yang harus dilewati dalam tahapan wawancara ini. Pos Kepenulisan, Saat itu Fikri Fadhilah yang menjadi pewawancara. Saya menjawab pertanyaan demi pertanyaan tentang kepenulisan. Lanjut kemudian pos keagamaan, di sana ada Fanny Tasyifia Mahdi. Saya pun dapat menjawab pertanyaan darinya dengan penuh percaya diri. Jawaban harus percaya diri, salah dan benar kita perbaiki nanti. Itu trik menutupi ketidakmampuan :D

Pos ketiga adalah pos yang paling menentukan. Pos tentang keorganisasian. Di sana ada saudara kembar. Eh, sepertinya tidak kembar. Terlihat dari posturnya tidak seragam. Ternyata itu adalah saudara abang-beradik yang sangat kompak. Siapa lagi kalau bukan Ferhat Muchtar dan Ariel Kahhari. Suatu keberuntungan bisa berjumpa dengan dua orang yang super inspiratif ini. 

Mulailah saya ditanyakan tentang keorganisasian yang pernah saya ikuti. Pertanyaannya terasa seperti candaan, tapi bermakna. Ketika ditanya "Kenal FLP sejak kapan dan dari mana"" Spontan saya jawab dari Kak Eky (Fardelyn Hacky Irawani dan Bang Rahmat (Rahmatul Fitriadi). Seakan saya sudah akrab sekali. Padahal saya hanya kenal kedua orang hebat ini di fb. Jumpa saja belum pernah kala itu. Itu trik saya. 

Sebulan kemudian pengumuman hasilnya dan saya salah satu dari 33 peserta yang dinyatakan lulus, mengeliminasi ratusan orang lainnya. Kemudia kami mengikuti Inougurasi selama tiga hari di Lubuk Gapui. Ceritanya pun cukup menyenangkan. Ada banyak kegiatan di sana. Pembekalan/ materi mengenai dunia kepenulisan dari beberapa penulis nasional maupun lokal. Ada Kak Beby Haryanti Dewi, Ustaz Rahmat Idris (RH. Fitriadi,) Bang Muhadzdzier M. Salda. Bang Ariel Kahhari, Bang Ferhat Mukhtar. Nuril Annisa, Riza Rahmi dan Ade Oktaviari juga tentunya. 

Tidak hanya itu, kami juga diberi pendidikan mengenai pentingnya menjaga kesehatan oleh almukarram Riazul Iqbal Pauleta (-_-). Ini hal yang tak kalah seru dari permainan Fear Factor yang pernah tayang di stasiun TV. Saya bahkan menceritakan kronologisnya dalam sebuah tajuk "Serius ni? Kalau serius kita buat!". Super luar biasa. Kami juga disuruh meresensi sebuah novel, atau antologi cerpen setidaknya. Benar-benar digembleng dalam tiga hari itu. Bahkan Saya dan teman-teman sekamarku hanya tidur 30 menit saja pada malam terakhir. *Huft sekali

Kasih terpahat pada dinding waktu. Tentang Lissa Bella, Hilwa, Naura, Intan. Liza Rizky. Sanah, Helka, Cut Atthahirah, Hayatul Maulina, Laili Hijrati. Mauli, Nouva, Rahmat Aulia, Ruslan, Azhar Ilyas, Reza Fahlepi, dan semua teman seangkatan yang tak luput dari ingatan.

Setelah selesai di Inougurasi, tidak ada yang berhenti dari perjuangan ini. Kami kembali diberikan pelajaran. Setiap minggu mengikuti kelas menulis di Rumah Cahaya, jelajah budaya ke Taman Putro Phang, dan lainnya. Bahkan hingga saat ini aktifitas itu tidak berkurang. FLP benar-benar wadah cinta, Semakin masuk kedalamnya semakin hanyut dalam cinta. Hingga saya menjadi pemenang juara ke-2 Surat Cinta untuk FLP pada Mubes 2014 lalu.

Terima cinta untuk semua senior. Nuril, Husna, Isni, Riza, Naris, Siti, Ayi, Nita, Tina, Syuhada, Aslan, Adit, Arif, Bang Ibnu, Bang Rahmat, Khalis, Ira, Aula, Kak Cut Januarita, Kak Liza, Kak Beby, Kak Aini, Bang Ferhat, Bang Ariel, dan semua yang tak tersebut nama di sini. 

Ini adalah catatan blog saya yang ke- 100. Angka yang spesial untuk hal yang spesial. Sengaja saya tulis tentang ini, sebab FLP adalah hal paling istimewa. Selamat Ulang Tahun ke-14 untuk Forum Lingkar Pena Aceh. Aku, kamu adalah kita. Mari menulis cinta dengan pena.

Foto bersama; Panitia Seminar Pendidikan Nasional "Sastra Membangun Bangsa"






7 komentar

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Masuk FLP ada proses saringan juga ya Aini? Bergabung dengan komunitas dan organisasi yang sesuai minat kita memang selalu menarik ya... berbagi ilmu juga saling menyemangati. ^^.

Jadi ingat dulu zaman SMA paling suka dengan puisinya mbak HTR judulnya Bahasa Reformasi... juga cerpennya yang judulnya Jaring-Jaring Merah, cerpen tentang konflik Aceh..

Selamat Milad FLP Aceh, semoga makin kompak dan jaya dengan prestasi :)

Reply

Iya, Kak Haya. Harus ikut seleksi terlebih dahulu. Karena banyak sekali peserta yang mendaftar, jadi harus bersaing ketat. Aini juga sangat mengagumi bunda HTR. Saat malam sastra di Solong Mini, Bunda menyanyikan lagu "Hai Inong Aceh." Terharu kita dengarnya.

Reply

hebaaat.. dulu saya juga sempat di ajak ama kak eki dan kak cut intan, tapi karena ada tes, yaaa sayanya nggak jadi hihihi :D

Reply

Aini, Aini.... senangnya baca tulisanmu. Hehehe.

Reply

Kenapa nggak jadi, Bang. Jadi saja lah.. Makin ada tes makin keren malah. Kita bisa tertantang oleh adanya persaingan. Lewati para pesaing itu sebuah prestasi, kan gitu kan ya. ckckckkck

Reply

Kak Aini.. hehee.. Aini senang juga kalau kakak senang. ;)

Reply

Posting Komentar