Aku tentangmu, Mimosa Pudika.


Mimosa pudica
Setangkai puisi ini kupersembahkan untuk sahabat. Semoga rahmat Allah menaungimu, kawan!


Tuhan tidak hanya menciptakan siang, namun juga malam. Gelap. Manakala matahari dikulum oleh ufuk, pengap. Saat itulah dedaunan hijau alpa dari cahaya. Lemah tanpa daya. Aku melihat Pudika, daunnya layu. Tentunya bukan karena ia ingin mati. Hanya saja ia ingin menenangkan diri. Aku menisbahkan tamsilan ini padaku. Akulah Pudika itu.

Maka begitu pun aku. Aku lebih memilih berteduh di bawah pekat jubah hitam. Menunggu keajaiban. Bukan karena aku takut engkau. Tapi aku takut pada diriku sendiri. Aku malu.

Seutuhnya menanti pagi. Adakah kau ingat, saat dari Terengganu hingga Kuala Lumpur? Bahkan hanya engkau yang kukenal kala itu. Aku tak berani menatapmu, sebab aku malu. Kau bercerita panjang lebar tentangmu. Aku hanya diam. Tak ingin kudengar. Hingga kau tertidur lena, sedang aku terjaga. Tidak! kau tak ingat apa-apa. Akulah yang mengingatmu.

Di Taman Istana Raja, Aku bilang, "Ini tempat yang indah untuk sebuah acara." Kau hanya menganguk "Iya!" Tidakkah kau tahu itu kumaksudkan untuk kita. Tidak, kau tak tahu apa-apa. Akulah yang tahu kamu.

Di Mesjid Cristal, di Mesjid Putih, mesjid tua di tengah kota. Aku berada di sana. Engkau juga. Itu saat paling bahagia bagiku. Tapi, bagimu biasa saja. Aku biasa bagimu yang istimewa bagiku.

Aku adalah Pudika, aku bahagia, jika aku adalah kamu.


Aku adalah Pudika.
Tentang rasa yang tak akan pernah kuungkapkan,
Kukembalikan saja pada Tuhan.
Sebab satu,
Sebab Aku malu. 




Posting Komentar