Malam sastra bersama Helvy Tiana Rosa

Helvy Tiana Rosa
Siapa yang tidak kenal puan yang satu ini. Seorang srikandi keturunan Aceh. Penerima 35 piagam penghargaan dari tingkat internasional maupun nasional. Penulis puluhan naskah drama. Pendiri Forum Lingkar Pena yang kini telah memiliki lebih dari 100 cabang di seluruh dunia. Penulis lebih dari 50 judul buku.

Salah satu bukunya yang sangat fenomenal adalah Ketika Mas Gagah Pergi. Cerita yang menginspirasi banyak orang. Sarat dengan nilai moral dan bahasa yang mengalun indah membuat pembaca terus lena, candu untuk membaca berkali-kali. Hingga saat ini KMGP telah memasuki cetakan ke 24. Betapa luar biasa antusias sambutan masyarakat terhadap kisah islami yang satu ini. Kini KMGP sedang memasuki tahapan untuk di-film-kan. Hanya menunggu waktu, akan ada gebrakan baru di dunia per-film-an tanah air. 

Penghujung Maret lalu, Bunda Helvy bertandang ke Aceh untuk mengisi beberapa acara kepenulisan. Dimulai dari "Bedah Buku Ketika Mas Gagah Pergi" di Aula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, dilanjutkan dengan Malam Sastra bersama Helvy Tiana Rosa dan Edi Sutarso di geray kopi, Solong Mini - Banda Aceh. Keesokan harinya kembali mengisi seminar pendidikan nasional di Aula Balai Kota Banda Aceh bersama Pak Edi Sutarso.

Malam sastra merupakan sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh FLP Banda Aceh dalam rangka temu ramah, sekaligus memperingati ulang tahun FLP Aceh ke-14. Turut hadir 20 lembaga kepenulisan lainnya, seperti: Jeuneurop, Tikar Pandan. Gaminong Blogger. Rumput Liar. Kanot Bu, dan lainnya. 

Acara dimulai dengan sapaan, sambutan ketua FLP Aceh, Rahmatul Fitriadi. Kemudian diisi dengan serangkaian sastra lainnya. Turut memeriahkan, Nazar Syah Alam dari komunitas Jeuneurop dengan pembacaan hikayah diselingi dengan tiupan suling yang membuat kita terpukau. Kemudian juga penampilan Bang Fuadi, membacakan hikayat dengan selingan biola. Duhai, indah sekali.

penampilan Nazar Syah Alam

Saya juga mengambil sedikit kesempatan untuk membaca kesan tentang negeri ini. Saya tuang konflik batin ke atas sehelai kertas, hanya beberapa kalimat saja. Ini Hanya Puisi, tidak lebih.

Penampilan yang tidak kalah menarik yaitu puisi yang dibacakan oleh Ayu Puspa Nanda. Pemenang lomba baca puisi tingkat nasional itu dapat melarutkan pekatnya malam kedalam cawan cinta. Puisi yang sangat menyentuh dan dibaca dengan semangat cinta yang utuh. Aduh, yang jomblo pada dilambung gelora jadinya. :D 

Tidak sampai disitu, amuk gelombang cinta kian menjadi saat Pak Edi Sutarto membacakan beberapa puisi andalannya. Luar bisa, semangat muda yang ada pada tubuh tegap itu, begitu menggebu. Semua yang hadir menagih lebih dari dua puisinya. Nyaman didengar. Nilai sastranya tinggi dan puisi yang mudah dipahami maknanya. 

Pak Edi sedang membaca puisi

Kemudian, saatnya Bunda Helvy memberikan sapaan. Bunda memberikan banyak motivasi untuk penulis, bahwa menulis tidak hanya difokuskan pada kuantitas, namun juga kualitas. Membaca adalah satu-satunya jalan untuk mencuri trik dari penulis terkemuka, bahkan penulis dunia. Tidak ada penulis yang mampu menyembunyikan teknik keindahan pada tulisannya. 

Terkait dengan keberadaan karya tulis yang terkesan 'merusak' moral, maka cara paling ampuh untuk menangkalnya adalah dengan menciptakan tulisan tandingan. Kita menulis tulisan yang menginspirasi kepada kebaikan, untuk menyainginya.

Jangan sekali-sekali mengutuk karya orang lain. Sebab cacian dari kita justru akan membuat karya buruk tersebut up. Demikian juga mengenai keberagaman komunitas di Banda Aceh,  Bunda sangat apresiatif akan hal itu. Beliau mengusung sebuah gagasan, ide untuk mengadakan Festival Sastra Internasional di Aceh. Dengan berkat sambutan baik dan dukungan dari segenap elemen masyarakat, tentu saja ini bukan hal yang tak mungkin. Kita harus mewujudkan hal itu. 

Ada satu hal yang mencuri perhatian setiap orang malam itu. Betapa tidak, untuk menghempaskan kerinduannya di kampung halaman (Aceh), Bunda Helvi menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Aceh. Lagu yang termaktub dalam salah satu bukunya. Semua takjub, performa yang sangat totalitas. Sayang sekali fasilitas yang tak memadai. Kalau saja acaranya di sebuah pentas dengan standing mike dan pengeras suara serta musik pengiring, beuh! gak pulang-pulang peserta malam itu. Menagih lagu-lagu lainnya. Penasaran. Mari simak rekaman berikut ini, barang bukti.   




2 komentar

Rindu mengikuti acar-acara seperti ini... Malam sastra ataupun pelatihan kepenulisan memang josss untuk menyemangati kita menulis ya Aini.. Semoga Festival Sastra Internasional bisa diadakan di Aceh suatu ketika nanto.. Amin :)

Reply

Iya, Kak Haya. besar sekali manfaatnya. Semoga saja bisa terealisasi. Ini bisa menjadi salah satu bagian dari ajang Visit Aceh tentunya :)

Reply

Posting Komentar