Menarik Mulut

kredit gambar; kompasiana.com


Setelah sekian lama menyimpan kebingungan hingga tidak lena tidur malam dan tak kenyang makan siang, akhirnya kemarin saya berhasil menemukan pemuas kegalauan tersebut. Ketika berada di depan hamparan laut luas terbentang, dengan memijak pasir putih dan buih gelombang sahut-sahutan pecah satu persatu, di situ saya menemukan terjemahan sebuah kata yang sulit sekali saya utarakan dalam bahasa Indonesia. 

Ianya adalah "tarek abah". Setelah disepakati bersama seluruh peserta tafakkur di pantai Lhok Me, kamarin, maka kata "tarek abah" jika disebutkan dalam bahasa Indonesia jadilah ia "menarik mulut". Keputusan ini tidak dapat diganggu gugat. Sebab pencetusnya adalah seseorang yang sangat fenomenal di dunia ini. Ia Ferhat Muktar, seorang yang telah teler menjadi teller bank, kini menghabiskan masa lajangnya dengan bersemedi dan memberi arti beberapa kata dari bahasa Aceh yang sulit di indonesiakan. 

Keputusan ini disetujui oleh raja baca, Aula Andhika Fikrullah Al Balad, juga mendapat restu dari beberapa lajnah pemerhati lajang (Hayatul Maulina, Amalia Masturah, Naura, Helka Pratiwi, Astina, Rahmat Aulia, Muarif Rahmat) lainnya. Tidak ketinggalan, dua orang pengamat kita yang namanya sangat diperhitungkan dalam belantika seni dan sastra yaitu Nuril Annissa beserta suaminya Zulhadi Sahputra, sehingga pengukuhan ini benar-benar tidak cacat hukum.

Menarik mulut adalah sebuah kondisi dimana seseorang berbicara asal keluar suara, tanpa memikirkan imbas dari lisannya dapat menyakiti hati si pendengar. 

Berbicara lancang, sekalipun untuk kebaikan tetap saja menyalahi kaidah bersosial. Rasulullah selalu mengajarkan kita untuk bersikap lemah lembut. Jika pun harus menasehati maka sebagaimana yang termaktub dalam Alqur'an, "Ajaklah kepada jalan agama Tuhanmu dengan hikmah dan mau'idhah hasanah." Adalah salah bila seseorang mengkritik sebuah kondisi dengan kalimat-kalimat yang tajam sehingga hilang nilai hikmahnya, justru mejadi sumber laknat. Alih-alih ingin memperbaiki, kita justru telah menyakiti.

Ini sangat penting, mengingat kita sebagai manusia, jangan sampai sebab lisan badan bisa binasa. Maka dari itu postingan ini dipublis untuk mengingatkan kita semua bahwa bicara lancang dapat menarik kita ke neraka. Bahwa bijak dalam bicara merupakan sebuah kunci agar kita diterima dimana pun kita berada. Langit tidak mengutuk, bumi tidak memeluk, hati senang, kubur lapang. 

Terima kasih, salam sapa untuk seluruh pembaca yang budiman.


4 komentar

Beretuuusss postingan akak nyo.....

Reply

Rahmat Aulia. Saya mah apa atuh? :D

Reply

haha...akak...!!!

Reply

Astina, Adikkk..!!

Reply

Posting Komentar