Rawat Siklus Hidrologi, Selamatkan Bumi.

Dahulu, waktu masih kecil. Saya sangat bahagia saat hujan turun. Betapa tidak, bisa tertawa lepas saat mandi hujan di halaman rumah adalah hal yang tak tergantikan keceriaannya. Sekali pun harus demam-pilek setelah itu, saya tidak mahu tahu. padahal Mak selalu melarang. Tapi yang namanya anak-anak, geutham lage geuyu (dilarang seperti disuruh). Bandel. Ini hanya salah satu dari sekian banyak kesalahan kecil anak-anak. Masih banyak kesalahan besar lainnya. Tidak saya tulis di sini. Nggak keren juga buka aib sendiri, kan? Apalagi buka aib orang lain. Lebih nggak keren lagi. 

Okey, kembali ke tema. Semula saya menyangka air yang turun dari langit itu sebab ada tangki raksasa di atas sana. Kemudian sejenis spayer dibukakan katup nozzle-nya. Terjadilah hujan yang berbentuk butiran-butiran kecil nan lembut, bukan bongkahan. Kebayang kan kalau hujan itu seperti bongkahan batu giyok, pada rusak semua atap rumah, mati kodok tertimpa hujan, kan?

Saya tidak tahu kenapa berpikir begitu, rasaya tidak mungkin ada air yang menggantung tanpa tangki. Maklumlah pemikiran anak-anak. Lambat laun setelah belajar Ilmu Alam di sekolah, saya akhirnya tahu bahwa itu salah total. Hujan merupakan bagian dari siklus hidrologi. Air di permukaan laut menguap (evaporasi), dan air hasil fotosintesis pada tanaman hijau juga menguap (transpirasi), kemudian angin membawanya ke atas hingga pada tekanan udara tertentu akan terjadi kondensasi (pengembunan). Akibat perbedaan suhu udara akhirnya terjadi petir dan kilat, hujan turun kembali. Sebahagiannya diserap tanah, tanaman dan sebahagian lagi mengalir ke sungai hingga ke laut. Demikian seterusnya.

 Siklus Hidrologi; Pict dari Gugel


Ternyata, seribu empat ratus tahun silam, sebelum pakar ilmiah menuliskan ensiklopedinya tentang hujan, Allah telah lebih dahulu menjelaskan siklus ini dalam Alqur'an. Bunyinya:




Artinya: Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. (Q.S Ar Ruum; 48). 

Pernah membacanya, kan? Tentu saja kita semua pernah membacanya, tapi kadang sebab tidak tahu arti, makanya kita tidak menyadari bahwa itu suatu hal yang sangat mengandung pelajaran. 

Siklus merupakan sebuah rantai, yang apabila satu rangkain dari penyusun rantai itu terputus, maka siklus akan terhenti. Terjadi kerusakan pada sistem; dalam hal ini bumi. Jika tidak ada lagi tanaman, hutan gundul, lahan serap semua telah dilapisi semen, tapak gajah atau bangunan lainnya. Maka hujan akan menjadi bahaya. Air menjadi bencana. Banjir adalah hal yang sangat ditakuti. Tapi kita lupa dari memikirkan apa penyebab banjir itu sendiri.

Hanya karena enggan merapikan rumput di halaman, kita melapisi lahan dengan semen, dengan tapak gajah. Karena malas membawa sampah ke tempat pembuangan yang relatif jauh, kita melemparkannya ke sungai, kita menguburkannya ke tanah. Padahal sampah plastik itu tidak terurai bahkan hingga si pengubur sampah itu menjadi sampah (jenazah). 

Mulai hari ini, mari kembali berbenah. Jangan hanya menghujat pemimpin; presiden, gubernur dan bupati saat banjir. Sebab, bukan mereka yang menyebabkan banjir, tapi kita. Kita yang menebang hutan, kita yang membuang sampah sembarangan, kita yang tidak peduli pada diri sendiri. Kitalah yang mengundang banjir itu. Bukankan Allah juga telah mengingatkan kita, bahwa kerusakan di langit dan di bumi itu atas ulah tangan manusia.

Selamat hari bumi. Mari mencintai diri sendiri dengan mencintai bumi. Menanam pohon, bukan menebang. Alam ini bukan warisan, tapi titipan. Jagalah!



Posting Komentar