Aceh akan Merdeka?

Postingan ini ditulis sejenak setelah membaca informasi di laman yang terlampirkan berikut;
http://www.acehkita.com/2015/07/perempuan-ini-diperkosa-selompok-pemuda/

Miris, hal tragis ini terjadi di tanah Serambi Mekkah. Di negeri yang digadang-gadangnya warisan aulia, tempat bersarangnya 1001 pesantren, Sekolah dan Universitas bertebaran sepanjang jalan. Betapa tidak mampu diterima logika.

Apa yang keliru dari kita, hingga di bulan Ramadhan nan mulia ini, seorang gadis telah dirampas perawannya. Siapa yang ingin kita jadikan sosok yang paling bersalah dalam hal ini. Apakah orang tua yang telah melahirkan anak-anak manusia, atau pihak aparat penegak hukum yang tak benar-benar mampu menjaga ketentraman warga, atau kualitas pendidikan kita yang tak mampu mencetak generasi bermoral? atau, Siapa? Siapa?

Sejenak, behentilah mengambing hitamkan siapa pun. Kita kembali pada diri masing-masing. Jangan-jangan kita juga terlibat dalam mata rantai pembuat segala kerusakan di bumi. Kita tanya pada diri masing-masing, "Apakah saya telah benar-benar ridha mengikuti anjuran Tuhan?"

Allah menyebutkan dalam firmannya; Surat Al Maidah ayat 44 bahwa, ketika kita tidak berhukum dengan hukum Allah maka kita menjadi kafir. Kafir dalam artian ingkar. Keingkaran inilah yang akan membawa kita pada kerusakan.

Saya ingin manganalogikan hal ini kedalam bentuk yang lebih sederhana. Katakanlah ada suatu produk elektronik. Ketika kita membeli produk tersebut, tentunya dilengkapi dengan buku petunjuk. Sudah semestinya kita membaca buku petunjuk sebelum mengaplikasikan alat tersebut. Meskipun hanya sekedar untuk tahu di mana tombol ON - OFF. Bila buku petunjuk untuk produk A diganti dengan buku petunjuk produk lainnya, tentu saja ini akan berujung pada ketidaksesuaian prinsip kerja, dan barang elektronik kita akan rusak.

Nah, jika produk elektronik cilet-cilet saja harus ikut aturan pembuatnya, konon lagi kita. Produk lengkap dengan potensi akal dan nafsu, tentunya lebih perlu pada buku petunjuk. Tidak lain dan tidak bukan petunjuknya adalah aturan Syara', termaktub dalam Al - Qur'an dan Sunnah Rasul.

Allah telah menyatakan agar tidak mendekati zina (tidak boleh pacaran), pezina harus dicambuk 100 kali dan dirajam, pencuri (laki-laki atau pun perempuan) harus dipotong tangannya, serta seluruh ketentuan hukum lainnya, maka hendaklah serta merta harus kita jalankan secara sadar. Sebab itulah petunjuk yang dapat menyelamatkan kita dari kerusakan. 

Hukum Allah bersifat mengikat, memaksa dan mengancam, bukan untuk Allah, tapi untuk kita. Pelaku kejahatan mendapatkan efek jera, orang lain yang menyaksikan hukuman akan mawas diri agar tidak terkena ganjaran serupa. Sehingga tingkat kriminalitas akan berkurang dengan sendirinya.

Masalah kita sekarang adalah: kita tidak merdeka. Maksud saya di sini buka merdeka untuk memisahkan diri dari negara induk, membentuk negara baru. Tidak! Merdeka dalam artian tidak bisa menerapkan aturan Allah sebagaimana yang dikehendaki oleh Syara'. Pelaksanaan hukum secara parsial. Qanun dijadikan semacam proposal yang harus diajukan terlebih dahulu kepada badan hukum negara. Disesuaikan dengan ketentuan hukum negara yang entah dari mana sumbernya. Dicocokkan dengan hajat akal manusia akhir zaman. 

Inilah penjajahan yang sebenar. Ketika kita menundukkan Syara' dibawah hajat. Semestinya hajatlah yang harus tunduk di bawah Syara'. Sekali lagi, Tuhan tidak butuh pertolongan agar tetap kekal. Sebab Tuhan Maha kekal. Tapi kitalah yang butuh pertolongan. Tolonglah diri kita dengan mengikuti anjuran Tuhan, agar kita lestari.

Posting Komentar