Esensi Ramadhan. 'Puasa' Ular atau Ulat?

Ulat bulu menjadi Kupu-kupu

Tidak hanya manusia, binatang juga mengalami perubahan-perubahan dalam hidupnya. Bagi pecinta alam, saat berjalan di hutan maupun di pematang sawah, tentu saja pernah menyaksikan selongsong kulit ular. Ya, sarung ular yang telah terkelupas dari badannya. Ini bukan berarti ular tersebut sudah tidak berkulit, bukan begitu. Melainkan kulit lama terkelupas sebab berganti dengan kulit yang baru. 

Adapun sebab bergantinya kulit adalah karena pertumbuhan. Sebagaimana pakaian, bila badan sudah lebih besar tentunya kita butuh baju lain yang lebih besar pula. Ular akan berdiam diri, menyepi dan tidak makan dalam beberapa saat. Kemudian ia mengimpitkan badannya pada celah batu atau kayu. Dalam keadaan terhimpit itu, dia terus berjalan dan menggerak-gerakkan badannya. Gesekan antara kulit dengan batu akan membuat kulitnya mudah terkelupas

Lain ular, lain pula ulat. Ulat tidak pernah berganti kulit. Ulat justru ditakdirkan untuk berganti wujud. Setelah hidup sebagai ulat dalam jangka waktu tertentu, ia akan mengalami kelanjutan proses metamorfosis (perubahan bentuk). 

Memasuki tahap menjadi kepompong, ulat sudah tidak makan apa-apa lagi. Ia bergantung diri pada dahan. Hingga jangka waktu tertentu dan perubahannya telah sempurna, cangkang kemompong itu akan terbuka. Perlahan ia keluar dari pertapaan itu, dalam bentuk yang jauh lebih indah. Iya, Kupu-kupu!

Lalu, apa makna dari perubahan-perubahan ini. Tentu saja ada makna, bila kita mau mengambil pelajaran. Perubahan pada ular. Ular berpuasa sejenak, kemudian berganti kulit/ sarung yang baru. Namun, perubahan ini hanya tampilan luar. Just about cover. Tabiat ular tetap seperti sebelumnya. Ia tetap hewan berbisa, memangsa, identik dengan bahaya.

Beda halnya dengan ulat. Ketika ia telah berubah menjadi kupu-kupu, perubahan itu tidak hanya pada bentuk fisik, namun juga kepribadiaannya. Ulat adalah hama; perusak tanaman, pemakan daunan, menggerogoti buah. Ulat meskipun tidak mengerikan, namun melihatnya membuat kita geli, bahkan jijik. 

Namun, ketika ulat telah berubah menjadi kupu-kupu, betapa itu indah untuk dipandang. Ia menyajikan panorama yang menarik, bahkan bermafaat bagi penyerbukan bunga. Perubahan fisik dan thabiat sekaligus.

Bukankah perubahan pada ulat dan ular ini diselangi oleh fase 'puasa'. Lalu, mari melihat ke diri kita masing-masing. Manusia, ada masa jeda. Allah wajibkan kita berpuasa selama sebulan lamanya, setelah sebelas bulan lainnya kita menghabiskan waktu menyantap apa yang kita suka. Jeda ini sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Tahap regenerasi sel, tahan rehat bagi organ pencernaan. Tentu saja kita tidak berharap perubahan bersifat fisik saja seperti ulat, namun juga psikis sekalian. 

Bagi orang yang berpuasa tanpa melibatkan ruh (idra' shila billah), yang terjadi padanya hanya perubahan fisik. Bisa jadi lebih kurus, lebih gemuk, lebih cerah wajahnya, atau bisa juga lebih suram air muka. Berubah tampilan; mengenakan koko, peci dan sarung sepanjang bulan Ramadhan. 

Siang hari berpuasa, malamnya kembali kepada kemaksiatan. Siang hari tidak bergosip, takut batal pahala puasa. Semenit setelah berbuka, kembali thabiat mengumpat, menghujat, caci maki dan kekejian lainnya. Atau bahkan siang hari pun ia berbuat demikian. Eksistensi puasa hanya sekadar menahan haus dan lapar.

Namun, bila seseorang berpuasa dengan melibatkan kesadaran akan hubungannya dengan Allah, berpuasa atas dasar keimanan, maka akan ada perubahan psikis. Dia akan menjadi lebih tawadhu'. Menjadi pribadi yang bertambah ketundukannya kepada Allah. Bertambah bijak sikapnya terhadap sesama. Sekarang kembali kepada diri kita. Ingin esensi puasa seperti puasa ular yang hanya merubah cover, atau sebagaimana kupu-kupu yang berubah fisik dan kepribadian menjadi lebih baik.




Posting Komentar