Jangan tanyakan lagi "Kapan Nikah?"

Gambar Ilustrasi by bukansuperman[dot]com

Kali ini aku benar-benar ingin curhat. Kalian tahu? tidak menyenangkan sekali rasanya saat selang satu detik kita kembali disodorkan pertanyaan yang sama. Apalagi hal yang ditanyakan merupakah hal yang sensitif, mengenai personal, menyentuh perasaan. Entah bertanya sekedar empati, peduli, entah nyinyir, dan semuanya tentu butuh tanggapan, walau pun tidak memberi solusi. 

Well, kita boleh-boleh saja mengabaikan. Tapi yang namanya interaksi sosial, 'kurang ajar' kesannya bila kita menganggap orang yang bertanya itu "Anjing menggonggong, kafilah berlalu." Sebab sebahagian dari mereka bisa jadi bertanya karena perhatian. Maka jawablah, meskipun kadar pahitnya seperti menelan sekilo Pariya. Kalian tahu kenapa pahit? Sebab mereka bertanya urusan hati, di tepi hati itu ada empedu. Nah, salah-salah, pertanyaan yang menohok itu kerap menyerempet kantung empedu. (apasih, dah ngelantur aku) :D

Begini! Analogi. Katakanlah tentang seorang mahasiswa yang tak urung selesai kuliahnya, banyak kendala. Entah karena minim biaya, penelitian yang rumit, atau ada sekelumit sangkut-paut dengan akademik. Apalagi jika disebabkan oleh kemampuan intelektualnya kurang, pasti sedih sekali saat ditanya "Kapan sidang?"

Begitulah, hal serupa terjadi kepada seorang lajang. Saat usianya telah mencapai titik optimal untuk berganti status. Melangkah setapak kedepan, mempersiapkan babak baru dalam kehidupan. Ya, berkeluarga! Itu tema yang sedang ingin kukupas, biar tumpah ruah di sini. Di lamanku sendiri.

Entah berapa ratus kali pertanyaan itu ditujukan kepadaku. Wajar saja, usiaku sudah mencapai seperempat abad. Sebagai perempuan, katanya inilah saat yang ideal untuk tidak lagi berstatus lajang. Dan ratusan jawaban beragam pula sudah aku lemparkan ke mereka. Dengan sepotong senyum yang kukulum, tentunya. 

Berbicara tentang pernikahan, siapa sih yang tidak berkeinginan menggenapkan imannya. Mengikuti sunnah Rasulnya. Mencetak generasi yang memengang tali estafet perjuangan, merengkuh izzatul Islam? Tidak ada! Bila ia seorang muslim dan muslimah tentunya ini merupakan hal urgen dalam hidupnya. Lalu, kenapa kemudian masih menunda menikah? Bukankah menyegerakan kebaikan adalah kebaikan. Menyegerakan sunnah adalah sunnah?

Ada banyak hal yang harus dicermati. Menikah bukan perkara siapa yang paling cepat, dia juara. Menikah bukan lomba, bukan pertandingan untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Menikah adalah sebuah fase melengkapi yang kurang. Menjumpai sisi kurang pada diri kita kemudian mencari padanannya. Menemukan sisi kurang pada yang lain, kemudian berazam untuk melengkapinya. 

Rasul memang menyuruh agar tidak ditunda-tunda. Namun, jangan lupa, ada point utama yang harus diperhatikan. Ada pilihan-pilihan. Agama dan akhlak adalah point utamanya. Masing-masing hendaklah memantapkan diri dan memantaskan diri. Sebab menikah adalah memanggul tanggung jawab. Hak dan kewajiban pada zauji (pasangan), pada zurriyat (anak), yang semuanya akan ditanya di yaumul akhirat.

Nah, inilah yang terkadang rumit bagi sebagian orang, termasuk aku. Tentunya kita tahu, puzzle hanya akan terhubung bila menemukan padanannya. Aku beralibi bahwa, aku belum menemukan kepingan itu. Maka jangan tanya lagi kapan, doakan saja semoga Tuhan memberi jalan. Bertanya tidak akan membawa kita pada titik temu. Sedangkan doa adalah mantra yang paling ampuh. Sekalipun dalam nyata kita jauh, namun dalam do'a kita utuh. 

8 komentar

Yg jelas penanya hanya ingin berbasa-basi, atau sekedar nanya. Maunya kedepan jangan lagi nanya kapan, tapi sodorkan langsung memeluknya....

Reply

Itulah, Abi Naila :D
Yang parahnya, sekarang tanya-tanya saja. Pas diundang malah nggak datang. :/

Reply

mau sekalian bantuin isi talam dan beliin mahar :D

Reply

Tanya-tanya tapi abis itu gak datang. Aseeeekkk... hahahaaa

Reply

Iya, Kak Eky.
Palis kali yang nanya. Sah kita cubit sekali tu orang? ;)

Reply

Sihhy.. Baik kali bang Asrok. Senang kita. :D

Reply

Semoge segera dijemput sesuai yang disematkan lewat doa. Amiin. :)

Reply

Allahumma aamiin. Jazakillahu khair, Dek Chan meutuwah. :) Untukmu juga demikian!

Reply

Posting Komentar