Sikap Bijak Menghadapi Problematika Ummat

Cinta kasih karena Allah

Dewasa ini, Islam kerap digoncang dengan banyak badai fitnah antar golongan. Tubuh Islam disulut api perpecahan. Satu sama lain saling tuding; A mengaku dirinya paling benar. B juga demikian. Tidak puas hati dengan pembenaran diri, ditambah lagi serangan ke lawan, sebisa mungkin menyalahkan pihak sebelah; A menghujat B sesat, B menghakimi A kafir. Begitulah seterusnya tanpa berkesudahan.

Mungkin akan ditanya, kenapa demikian, apakah Islam ini salah? Tidak! Itu bukan karena Rasul salah membawa ajaran, bukan! Tapi karena ummat yang kerap keliru mengikuti anjuran

Inilah yang hari ini terjadi di tubuh kaum muslimin. Tidak ada sakinah antara sesama, seakan kita bukanlah bahagian antara satu dengan yang lainnya. Padahal, dulu, seribu empat ratus tahun yang lalu, Rasulullah mempersaudarakan kaum muslimin, dengan persaudaraan akidah. Kal jasadil wahid (bagaikan satu tubuh).

Sudah barang mesti, bila dikatakan satu tubuh, satu bahagian mengalami bad effect, maka akan dirasakan juga oleh seluruh bagian lainnya. Katakanlah mata tidak sehat, bisa jadi kaki akan tersandung saat berjalan, sebab tidak bagus penglihatan. Ketika tersandung, kulit merasakan rangsangan sakit yang dahsyat, kita meringis, bahkan sampai menangis. Efek mengeluarkan air mata, keluarlah cairan di hidung, beringus pula. Ya, kan? Inilah makna bahwa kaum muslimin bagaikan satu tubuh.

Lalu, bagaimana penyelesaian perpecahan ini. Nah, itu pertanyaan yang rumit. Sulit keluar dari kemelut yang telah berkepanjangan. Perpecahan ini adalah cacat bawaan yang pangkalnya bermula saat Rasulullah wafat dan ujungnya adalah saat Allah menyeru Israfil meniupkan sangka kala. Namun, apa yang bisa kita lakukan? Apakah ikut larut, terjun ke medan perang saudara tersebut. Atau duduk di tempat sunyi dan merapal doa-doa agar Allah segera menyudahi semua ini.

Saya pribadi lebih kepada berupaya mendamaikan, sekalipun tidak berimbas besar, tidak mengapa. Kita tidak fokus pada hasil yang akan kita capai. Kita fokus saja pada apa yang kita lakukan. Masing-masing kita berbuat, serta merta untuk menyediakan hujjah di depan Allah. Ketika nanti di Mahsyar ditanya;

”Saat terjadi pertikaan antara A dengan B, kamu di mana?” 

Mungkinkah kita berani menjawab 

”Aku di warung kopi, ya Rabb!” atau 

”Aku like-like status mereka saja, enggak berani komentar, Rabb!”  

Tentu tidak semudah itu memberikan pertanggung jawaban.

Saat ada dua kubu yang bertikai, cobalah melerai. Tidak membenarkan salah satu dan menyalahkan yang lain. Tapi mengajak untuk memikirkan titik temu. Titik persamaan. Ingatlah bahwa setiap tindak tanduk, perbuatan kita, semua tertulis dalam catatan, terekam dalam klip dokumenter ditangan malaikat. Bahwa kelak akan memintai pertanggung jawaban.

Sejatinya perpecahan  ini terjadi bukan karena kita tidak setuju pada perintah Tuhan, tapi lebih kepada fanatisme dan sentimentil antar golongan. Maka kita ajak untuk sama-sama kembali pada perintah Tuhan, sebagai mana tertulis dalam kitab- Nya.


 اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Nahl [16]: 125)

Sudah cukup kebencian dari Yahudi dan Nasrani, jangan tambah lagi kebencian sesama sendiri.

2 komentar

hhihih,, iya betul kak, banyak hal yang terjadi dilingkungan kita seperti yg kak aini gambarkan.. semoga umat Islam tidak mudah dipecahkan lewat gauzul fikri. Amin

Reply

Aamiin. Itu harapan terbesar pada kita semua tentunya. Tyna. :)

Reply

Posting Komentar