Banda Aceh Ini Kota Madani, Bukan Kebun Binatang

Human Park

Sesungguhnya Allah adalah zat yang maha sempurna, menciptakan manusia dengan sebagus-bagus bentuk dan rupa (khalaqnaakum fi ahsani taqwim). Perhatikan bagaimana Allah meletakkan mata di depan, mulut di depan, agar kita bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan sopan. Nggak keren banget kan, kalau bicara sama orang, sedangkan kita membelakangi lawan bicara. Makna filosofisnya juga demikian. Allah melarang kita berbicara "di belakang" (meng-ghibah hukumnya haram).

Lihatlah! Bahwa Allah menciptakan telinga kita sepasang; kiri dan kanan. Ini merupakan sebuah pertanda bahwa dalam hidup ini kita tidak hanya akan mendengar berita baik, melainkan berita buruk juga. Kita tidak hanya mendengarkan pujian, melainkan cacian juga. 

Lihatlah! Bagaimana Allah meletakkan hidung di wajah, di antara mata dan mulut. Sehingga saat hendak makan, kita terlebih dahulu bisa mengendus aroma, nikmat atau bau basi, supaya lebih mawas sebelum mencicipinya. Coba saja sekiranya Allah letakkan hidung itu di punggung, bahagian bawah, dekat dengan anus, (*maaf cakap). Nah, nggak nahan banget kan setiap ke tandas kita menghirup oroma tak sedap. Konon lagi kalau sering buang angin. 24 jam kepala diserang polusi udara, pusing. Atau lebih parahnya, geger otak. Hayyo!

Kemudian lagi, Allah tempatkan hati di rongga dada, jauh lebih tinggi dari perut. Ini pertanda bahwa hendaklah kita mendahulukan nurani, sekalipun dilanda lapar, tidak menjadikan segala hal layak dilakukan, semua pantas dimakan. Tidak sikut kiri dan kanan agar perut kenyang. Tidak makan besi dan semen untuk pembangunan mesjid, tidak makan komputer dan UPS, dll. Itu makanan keras semua. 

Satu dari sekian banyak keindahan penciptaan lainnya, yang paling utama pada manusia adalah potensi akal. Ini yang membedakannya dengan binatang. Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk berpikir. Membedakan yang baik dan buruk, mengendalikan hawa nafsunya, memilah antara haq dengan bathil. Sebab adanya akal inilah maka manusia dilengkapi dengan seperangkat aturan. Akal mampu memahami aturan tersebut.

Allah menganjurkan kita untuk menutup aurat. Sebab apa? sebab mengumbar aurat dapat menghilangkan keistimewaan. Aurat itu mengundang nafsu, nafsu yang tak terkendali dapat merendahkan akal. Sebab baginya ada aturan tersebut, maka akan tabu (tidak layak) bila seseorang keluar tanpa pakaian.

Lain halnya dengan hewan, bila ada lembu buang air di tengah jalan, kita menganggap itu hal yang lumrah. Kita melihat ayam jantan mengejar-ngejar ayam betina, dan entah bagaimana sikap tak senonoh dilakukannya di hadapan kita, itu lumrah. Sebab hewan tak berakal. Baginya tak ada aturan.

Nah, amati lingkungan kita hari ini. Saat perempuan berhamburan ke jalan kota, dengan menjajakan lekuk-lekuk molek tubuhnya. Menonjolkan tonjolan-tonjolan yang semestinya di rahasiakan berapa besar ukurannya, mengapa manusia begitu berani menggerai-gerai mahkotanya bak barang murahan yang ditawarkan di pasar. Di mana letak akal? Bukankah ini merupakan titik kulminasi paling rendah? Banda Aceh telah di tetapkan aturan  syariat, maka indahkanlah aturan itu.

Tidakkah kita mengkhawatirkan, jika Allah menggantikan kita dengan mereka (hewan). Allah menyedot kembali akal, kemudian menyematkannya pada hewan. Ketika itu, mungkin kita akan dikuliti sebagaimana buaya dan ular dijadikan asesoris atau pakaian. Atau sebagaimana gading gajah dan tanduk rusak dijadikan  pajangan rumah tangga. Saat itu mungkin kita akan dikumpulkan dalam satu marga satwa. Binatang datang untuk menyaksikan kita. Menghabiskan waktu bertamasya di sebuah taman yang bertuliskan pada gapuranya  gerbangnya:

"Wellcome to Human Park"

2 komentar

Sudah separah itukah kak? Jadi ga jauh beda sama di sini

Reply

Tidak parah, dek. Hanya segelintir kecil yang tak paham dan tak mau paham, tak tahu dan tak mau tahu. Semoga segera bisa teratasi. Supaya Aceh benar-benar layak disebut madani :)

Reply

Posting Komentar