Harga Emas Rp. 1,7 juta, Pemuda Aceh Panik?

Sumber: httpaceh.tribunnews.com20150826emas-rp-17-juta-per-mayam

Kondisi perekonomian Indonesia semakin memburuk, nilai rupiah anjlok hingga Rp. 14.000,-/  $ 1,- US. Hal ini berimbas kepada tingginya harga emas di pasaran. Dari semula menempati angka Rp. 1.610.000,- tiba-tiba melonjak menjadi Rp. 1.700.000,-. Netizen heboh saat mendapati berita ini di surat kabar, sebagai mana yang saya lampirkan pada gambar di atas.

Kehebohan ini paling terasa di kalangan pemuda asal Aceh. Fokus tidak lagi kepada harga bahan baku (kebutuhan pokok) di pasaran. Tapi lebih kepada tema pernikahan. Betapa tidak, bagi pemuda Aceh, mahar adalah hal urgen untuk dapat menikah. Mengingat mahar di Aceh lazimnya dalam bentuk emas, jumlahnya pun bisa kita bilang relatif tinggi.

Harga emas menjadi alibi bahwa pemuda Aceh akhirnya menunda untuk berubah tangga. Anda percaya itu real alasan? Jujur, saya tidak. Sebenarnya bukan itu alasan mereka tidak menikah. Itu hanya bualan saja untuk menutupi ketidaksiapan mereka dari segi lainnya.

Menikah bukan hanya persoalan mahar, banyak hal yang harus disiapkan. Semisal kesiapan emosional. Sadar bahwa menyatukan dua kepala jauh lebih sulit dari mengumpulkan gembala di padang. Betapa tidak, pemikiran setiap orang berbeda, bahkan dua saudara yang lahir dari rahim yang sama pun sering berselisih paham, apatah lagi dua orang yang berasal dari keluarga yang berbeda. Tentu ini pertimbangan yang mendasar yang dipikirkan oleh setiap orang.

Bercermin dari keadaan di lingkungan, saya melihat, beberapa dari pemuda yang sudah mapan dari segi finansial masih enggan juga mengakhiri masa lajangnya. Mereka berpikir jangka panjang. Takut dengan kemelut yang akan terjadi kedepan, ketika menikahi orang yang tidak tepat. Atau ketidakstabilan perekonomian keluarga hingga memicu pertengkaran. Takut tidak bisa membahagiakan, dan banyak lagi paranoid lainnya. 

Jadi, jangan pernah berpikir bahwa pemuda Aceh tidak menyegerakan menikah karena pelit, atau karena miskin, Tidak! Mereka justru berpikir untuk lebih memapankan diri tidak hanya dari satu aspek, namun segala hal. Maka dari itu, pemuda yang menikah di usia lebih dewasa, itu lebih mantap kesiapan psikisnya. Pemikiran mereka lebih bijak dan tidak labil. Meskipun mereka menghabiskan masa mudanya dengan bully-an. Tahan diteriaki "Bujang Lapuk!"

Salam damai dari penulis. Kalau mau protes, jangan di sini. Tulis sana di blog sendiri! :D



4 komentar

Saya suka kata-kata "Kalau mau protes, jangan di sini. Tulis sana di blog sendiri!"

Reply

Saya juga suka, Mas :)

Reply

Terimakasih, postingan-nya sangat bagus sekali. Senang sekali berkunjung ke blog anda. saya bantu share ya gan? semoga dapat bermanfaat buat kita semua. Amin :D :D

Reply

Silahkan... Terima kasih juga, Gan! :)

Reply

Posting Komentar