Muslimah di Darul Mu'arrifah - Dayah Lam Ateuk



Lam Ateuk, 05 Agustus 2015

Berdiam diri bagi orang berakal dan berperadaban bukanlah sebuah kenyamanan,
karenanya beranjaklah dari kampung halaman.
Berkelanalah, akan kau temukan ganti untuk orang-orang yang kau tinggalkan.
Dan berjuanglah, karena kenikmatan hidup ada dalam perjuangan.
Aku lihat, diamnya air akan membusukkannya.
Jika mengalir, air menjadi segar, dan jika menggenang, air menjadi comberan.
Singa jika tak mengembara, tak akan menjadi raja rimba.
Dan anak panah jika tak lepas dari busurnya, tak akan menggoreskan luka.


Demikianlah syair Imam Syafi'i dalam dalam Diwan Asy-Syafi’i. Sebuah analogi untuk memotifasi kita agar bersegera menuntut ilmu. Langkah untuk menggapai pemahaman dan ilmu pengetahuan yang banyak, kita harus berguru, berpayah-payah dahulu dalam dunia pendidikan.

Hal keadaan inilah yang sedang ditempuh oleh saudari-saudari kita di Darul Mu'arrifah. Dayah (pesantren tradisional) yang terletak di Gampong Lambro Bileu, Kecamatan Kuta Baro - Kab. Aceh Besar. Jarak 8,5 KM dari pusat Kota Banda Aceh.

Setiap pertengahan Syawwal, Dayah ini selalu semarak dengan kembalinya para santri, yang sebelumnya pulang sejenak untuk berlibur Ramadhan di kampung masing-masing. Libur selama sebulan berpuasa, ditambah lagi 15 hari berhari raya, cukuplah untuk menuntaskan kerinduan mereka selama sepuluh bulan lainnya dalam kerinduan. Di kampung, mereka akan mengimplementasikan ilmu yang telah mereka dapat. Mengadakan pengajian, mengajarkan anak-anak dan bahkan ibu-ibu yang belum paham perkara agama.

Di samping itu, keberadaan mereka di tengah masyarakat menjadi cerminan Dayah. Bahwa pendidikan di pondok telah menempa santri ini menjadi manusia yang "berpendidikan". Dalam artian, pribadi yang menyadari dirinya sebagai hamba dan mengetahui tata cara penghambaan.

Oleh karena dampak positifnya bagi masyarakat, maka akan ada agen baru yang dibawa ke dayah sekembalinya. Seperti halnya yang saya saksikan hari ini. Bebarapa santri baru sedang mengangkat barang bawaan mereka untuk dibawa masuk ke asrama. Pemandangan yang sangat mengharukan, ketika melihat seorang ibu mendekap anak perempuannya seakan tidak ingin ditinggalkan. Genangan haru ini kemudian meliuk-liuk landai hingga menyentuh pelupuk mata, meluap, satu dua titik jatuh membasahi pipi keduanya, kemudian segera disapu. Sebab apa? Sebab keduanya saling ridha berjauhan sejenak untuk kemudian benar-benar berguna sebagai anak.

Di Dayah, para perempuan jelita ini akan belajar banyak hal terkait agama. Mulai dari Aqidah, dasar-dasar keimanan, ma’rifatullah (mengenal Allah) melalui sifat-sifatnya. Fiqah, kaifiyat (tata cara ibadah) yang terbagi kedalam empat aspek besar, yaitu: ’Ibadah, mu'amalah, munakahat sampai jinayat. Tasawuf juga, untuk memagari diri dari akhlaqul mazmumah (perilaku tercela) yang dapat menggugurkan pahala. Ini semua terangkum dan dipelajari secara berkelanjutan. Dari berbagai referensi yang akurat. Kitab–kitab turast (kitab kuning) yang sudah diakui ke-otentikannya, semisal: I’anatuth Thalibin, Syarah Mahalli, Bujairimi, Tafsir Shawi (Jalalain), Jawahir Bukhari, dan banyak lagi lainnya.

Istimewanya, mereka juga digembleng untuk mampu membaca sendiri arab gundul tersebut memaknainya juga. Oleh karena itu, dari kelas 1 hingga seterusnya, mereka terus ditempa dengan pendidikan nahwu dan sharaf. Bagi saya, itu sangat luar biasa. Dan hal yang luar biasa lainnya adalah, tidak ada wisuda untuk santri, sebab menuntut ilmu bagi mereka berlaku seumur hidup. Tidak ada kata tamat. Bahkan hingga mereka mampu menjadi guru, atau pulang, menikah dan memiliki cucu, mereka tetap terhitung sebagai santri.

Posting Komentar