Sajak Mimpi



Pagi manis. Ketika embun urung jatuh dari pucuk-pucuk daun. Ilalang tersenyum membujuk, menanti surya dimuntahkan ufuk. Di sana ada potongan bahagia yang patut kita kenang. Saat tertawa karena gemercik hujan semalam yang tak kunjung reda. Adakah kau lupa? Mungkin engkau bisa, namun aku tidak. Tidak kini dan tak pula nanti.

Siang, saat matahari murka menyibak gumpalan awan, pelan-pelan menanjak hingga tinggi tegak. Ada riak-riak syahdu yang teruapkan. Sebahagia ombak bersorak satu-satu menyapu pantai. Di sana, Di bawah payung asa, ada harapan yang membubung hingga langit. Adakah engkau anggap ini sulit? Mungkin bagimu iya, namun aku tidak. Tidak sekarang tak pula selamanya.

Lalu, mulailah senja mengerami segala keindahan. Ufuk mengulum kembali sinaran. Jingga, kita tak bergeming dari takdir bahwa bertemu akan berujung pada pisah. Ini bukan jalan yang salah. Gelap  terwujud sudah. Hanya saja padaku terselip satu tanya, Aku harus menyebutmu apa?

Apakah engkau langit?
Ataukah engkau awan?
Hujan?
Ilalang?

Ah, sepertinya engkau hanyalah malam.
Dan sajak ini kunamai MIMPI.





2 komentar

Merah putih teruslah kau berkibar, meski angin bertiup kencang, jangan pernah turun dan takut kepanasan. MERDEKA!! DIRGAHAYU INDONESIA!!!

Reply

sudah beberapa hari saya mencari berita seperti ini, dan akhirnya.. akhirnya ketemu!! terimakasih nih ya? postingannya sangat berharga bagi saya, thanks gan!

Reply

Posting Komentar