Silaturrahmi Idul Adha; Forum Lingkar Pena

Foto bersama. Taken by; Geubrina


Alhamdulillah 'ala hazal yaum (segala puji bagi Allah atas (nikmat) hari ini. Akhirnya silaturrahmi Flp Banda Aceh telah terlaksana, meskipun tidak maksimal sebab cuaca yang kurang mendukung. Terima kasih untuk tuan-nyonya rumah yang sudah menjamu kami hari ini.

Lebaran ke-empat Idul Adha tahun ini. Setelah tiga hari kesibukanku hanya menerima dan menjamu tamu, hari ini giliran aku yang bertamu. Sudah semestinya, dikunjungi dan mengunjungi adalah eksistensi dari menyambung tali silaturrahmi.

Ada banyak pelajaran berarti dalam putaran waktu setengah hari ini. Dimulai dengan deskripsi mengenai pola hidup rakyat Jepang yang banyak meng-adop norma-norma Islam, sebagaimana yang dipaparkan oleh Kak Mulla Kemalawaty. Jepang sangat peduli terhadap lingkungan, disiplin, mengutamakan kejujuran. Itu tentunya menjadi pengingat bagi kita, untuk look inside. Adakah selama ini pola hidup seperti itu yang kita amalkan? Sementara kita mengadang-gadangkan Banda Aceh sebagai Kota Syari'at; Kota Madani. 

Setelah begitu banyak pelajaran yang dapat dipetik, akhirnya kami pun pamit. Lanjut kemudian, pelajaran penting dari perjumpaan dengan Ade Oktaviary. Dokter muda yang memompa semangat kami untuk terus fokus mencari ilmu. Di sana juga berjumpa dengan pengurus Kiesaceh, beliau mengaku sangat tertarik dengan Forum Lingkar Pena. Sehingga meminta kesediaan kami untuk kerja sama; memberikan kelas menulis kepada anak-anak di Komplek Bulog, daerah kediamannya.

Perjalanan berlanjut ke kediaman Nuril Annissa, dokter multi talenta yang selalu memberi teladan dalam berkarya. Nuril mengajarkan kita semua untuk optimis, semangat dan pantang menyerah pada rintangan, harus fokus pada tujuan. Nuril juga menunjukkan kepada saya beberapa perlengkapan rumah tangga khas Aceh jaman dahulu, diantara seperangkat tempat penyajian sirih dan mundam/ dalong (Semacam bakiak besar yang memiliki kaki tumpuan, berwarna kuning emas). Silaturrahmi sambil mengamati berbagai benda bersejarah. 

Cuaca di Banda Aceh hari ini hujan, namun tidak menyurutkan semangat kami untuk melanjutkan perjalanan. Setelah makan siang, lanjut silaturrahmi ke kediaman Kak Beby Haryanti Dewi. Ibu muda yang telah menerbitkan puluhan buku karyanya. Editor sekaligus pengajar bahasa Jerman yang cukup dikenal di Aceh. Ada semangat menulis yang tinggi yang diasupinya kepada kami. Kak Beby sedikit keberatan ketika saya katakan ibu muda. Ujarnya "Wah! Ibu muda? kemudian mengemukakan pengakuan dalam bentuk hastag #ngecatuban. Padahal sebelumnya, dalam sebuah komentar bbm, Riza Rahmi mengutarakan bahwa Kak Beby imut-imut sekali. Entah siapa yang benar dalam hal ini.

Baiklah, saya lanjutkan cerita. Satu hal utama yang tak kalah penting adalah; tanggapan Pak Ilham Maulana, terkait keluhan saya tentang maraknya plagiator yang meng-copy-paste karya penulis tanpa menyebutkan sumbernya. Beliau menyatakan;

"Seharusnya kita berpikir positif, saat tulisan kita di-share, itu tandanya akan lebih banyak orang yang mengambil manfaat dari kebaikan yang kita berikan. Meskipun mereka tidak tahu dari mana kebaikan itu berasal. Lihatlah bagaiman Imam-Imam besar terdahulu, selayak Imam Ghazali dan Imam Nawawi, mereka menulis banyak sekali kitab-kitab, tanpa sedikitpun berpikir tentang royalti. Tidak peduli pada apresiasi-apresiasi dari sisi manusia, mestinya kita mencontoh mereka". Ini kalimat yang sangat menghujam bagi saya pribadi. Saya harus me-reset kembali niat dan keikhlasan dalam menulis kebaikan.
Setelah hujan berangsur reda (anggap saja reda meskipun masih hujan), kami melanjutkan perjalanan. Karena Astyna membawa sepupunya yang masih sangat belia, oh, patunya kita sebut, masih kecil. Maka Tyna memutuskan tidak bisa bergabung lagi, hujan rentan terhadap kesehatan anak-anak. Kami pun tinggal berlima setelah Sanah telah pamit terlebih dahulu.

Tujuan selanjutnya adalah rumah Nita, Fery dan Kak Cut Januarita. karena hujan begitu lebatnya, akhirnya yang terjabanin hanya rumah Fery. Di sana, Geng menghabiskan setoples kue peyek buatan adik Fery. Rahmat Aulia yang malu-malu ingin berkenalan dengan gadis cantik itu akhirnya kubantu dengan ungkapan-ungkapan perwakilan. Semoga mereka cocok sampai ke jenjang berikutnya. (*Dua kalimat sebelum ini mutlak hoax, jangan percaya. Peace Dekmat :D)

Akhir kata, terimakasih telah menjadi saksi atas apa yang terjadi hari ini. Cc:Rahmat,Astina R.Fery MardianErnitaNurRiska Rizkia Ika, Resti, dkk. Postingan ini terpaksa kutulis tengah malam. Mengingat Kak Fardelyn Hacky terus saja meneror agar aku giat Go-Blog! 

2 komentar

Banyak pelajaran yang bisa dipetik ya dari silaturahim. Seperti pesan baginda Nabi, bergaul dengan penjual minyak wangi maka akan ikut terpercik wanginya... :-)

Reply

Terima kasih banyak, Bang Azhar. Selamat hari raya Idul Adha. Mohon maaf lahir dan batin. :)

Reply

Posting Komentar