Muhasabah Diri Seorang Pendosa

Gambar by; kamupipnup.org

Dear, diri sendiri. Tulisan ini ditulis hanya sebatas mengikat kenangan. Aku sedang berpikir tentang kejadianku. Tentang aku pada pandangan diriku sendiri. Saat berbagai respon dari luar atas eksistensiku, aku mengembalikan pandangan ini ke dalam. Look inside!

Jika respon mereka positif, aku tertunduk malu, andai bisa, aku melipat-lipat wajah dan kemudian menyimpannya dalam saku, atau menyelinap di antara lembaran buku, seperti yang dilakukan anak-anak ketika mereka merasakan malu. Sebab apa? Sebab begitu sempurnanya Allah menyembunyikan aib diri ini. Sehingga hanya sisi baikku yang terlihat pada manusia. 

Saat aku dicibir akibat satu-dua kesalahan yang kubuat. Kata-kata keji dari manusia membuat hati terenyuh. Bukan tersakiti karena lisan mereka. Melainkan aku berduka sebab diriku sendiri, duka dalam syukur yang mendalam. Betapa sebenarnya keburukanku jauh lebih besar dari itu. Tapi Allah hanya menyingkap sedebu saja dari maksiat yang kubuat.

Sudah! bila kalian membaca tulisan ini, kurasa sudahi saja, jangan diteruskan. Ini hanya curhatan hati seorang pendosa tanpa noktah. Aku adalah hamba yang tak sempurna membalas cinta-Nya. Umur kuhabiskan tak berguna, ilmu tak kafa. Aku yang menggenapkan siang dengan aktifitas dunia, menyeberangi malam dengan tidur panjang. Aku, itulah aku. Yang tak lembut hati saat meminta, yang shalatnya hanya rutinitas, yang doanya hanya transfer kata. Aku yang sulit terisak saat mengingat dosa. Adalah aku, itu!

Lalu, apa faidah kutuliskan ini. Lagi-lagi jika ini tak berguna, aku kembali melakukan kesalahan. Tapi kurasa ini tak mutlak tidak berguna. Bisa jadi, suatu hari kelak, ketika aku tak ada, seseorang berkunjung ke rumah singgah sederhana ini, ia membaca pengakuan dosaku. Lalu tersentuh hatinya. Jika dia dari kalangan sahabat, kuharapkan keibaan dari sisinya, hingga dia hadiahkanku sebait doa, sepotong alfatihah yang dialamatkan untukku. Itu saja!

Posting Komentar