Wasiat Imam Asy-Syafi'i: "Jadilah Penulis!"

gambar by; al-asyrafi.tumblr.com

Rasa begitu bahagia ketika mengetahui bahwa guru sudah menuntaskan project terjemahan kitab Ilmu Balaghah. Selamat, Guru! Saya hanya mampu menyemangatkan dan memberi motivasi, selebihnya saya berdo'a kepada Allah semoga karya guru menjadi amal jariyah, yang terus mengalir pahala bagi guru hingga hari kiamat. 

Suatu kehormatan saat guru meminta saya untuk menulis sedikit tentang pesan Imam Asy- Syafi'i dalam bidang kepenulisan. Semoga saya menjadi murid yang menuai berkah ilmu sebab berusaha untuk terus men-ta'dhimi guru, meski dengan keta'dhiman yang tak sempurna. Sekali lagi, selamat, Guru!

##

Tersebut dalam sebuah riwayat, bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang anak adam meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya, kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang selalu mendoakan  (H. R Muslim). Manfaat dari ilmu sejatinya adalah ketika diamalkan dan disampaikan kepada orang lain, melalui jalan dakwah. Dakwah tidak hanya dengan lisan, namun juga dengan qalam (tulisan).

Iman Asy-Syafi’i juga mewasiatkan agar kita gemar menulis, sebuah pesan penuh hikmah supaya mampu kita ambil pelajaran. Ia menganalogikan, “Ilmu itu ibarat buruan (hewan liar) dan tulisan seperti tali pengikatnya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.” Menulislah! itu satu-satunya jalan untuk merawat ingatan.

Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu, penulis merentangkan ilmunya melampaui dimensi ruang dan waktu. Ia tak dipupus masa dan usia, ia tak terhalang ruang dan jarak. Yang terucap bisa lenyap tak berjejak, sedangkan yang ditulis akan abadi. Menulis tak ubahnya membangun jembatan antara masa kini dengan masa depan. Lihatlah bagaimana Al Qur’an yang diturunkan seribu empat ratus tahun silam, bisa sampai kepada kita hari ini, karena telah dituliskan oleh para sahabat.

Lihatlah, ilmu dan pemahaman para ulama terdahulu, telah sampai kepada kita melalui karya tulis mereka. Kita mengenal Imam As- Syafi’i dari Kitab Al – Umm; karyanya. Imam Al- Ghazali dari Ihya Ulumuddin, dan sederetan para ulama pendahulu yang telah merengkuh manisnya ilmu.

Suatu ketika Imam Syafi’i mengadu pada Waqi’ (gurunya) mengenai buruknya hafalan, kemudian gurunya berpesan agar ia meninggalkan maksiat. Sejatinya ilmu itu adalah nurullah (cahaya dari Allah). Maka cahaya tidak akan diberikan kepada orang yang larut dalam kemaksiatan. Maksiat akan membuat cahaya padam.

Untuk menulis, tentunya kita harus membaca, mempelajari terlebih dahulu. Meperoleh ilmu untuk kita bagi. Ibarat kata; sebuah teko hanya akan mengeluarkan isinya, maka isilah dengan ilmu kebaikan, yang bersumber dari ajaran yang benar. Memohon kepada Allah agar senantisa dalam hidayah.

Posting Komentar