Baobab, Pohon Kehidupan yang Tumbuh Terbalik

wall[dot]alphacoders[dot]com
Tidak ada satu pun yang terjadi tanpa penciptaan. Apa-apa yang terdapat di alam semesta ini terbentuk dalam susunan yang komplek dan tidak mungkin pembentukannya secara kebetulan. Mulai dari partikel yang kecil (sel) sekalipun, hingga keseluruhan makhluk hidup merupakan hasil kreativitas Pencipta. Menganggap ini kebetulan sama halnya menyatakan kursi terbentuk akibat adanya angin badai yang melewati setumpuk kayu kemudian tiba-tiba kayu itu dengan sendirinya berubah menjadi kursi. Mustahil, bukan?

Manusia, hewan dan tumbuhan diciptakan beserta seperangat potensi masing-masing agar dapat lestari. Mengenai tumbuhan, perbedaan kondisi lingkungan menunjukkan variasinya sangat beragam. Setidaknya kita mengenal tiga kelompok besar, yaitu: Tumbuhan Xerofit, Hidrofit, Higrofit.

Tumbuhan Xerofit merupakan tumbuhan yang mampu bertahan hidup dalam keadaan kering, pepohonan yang tumbuh di daerah gurun, umumnya memiliki ciri khas berdaun kecil, bahkan hanya berupa duri, seperti kaktus. Sedangkan Hidrofit merupakan jenis tumbuhan yang mampu tumbuh dengan baik di lingkungan basah. Membutuhkan banyak air, sebagaimana halnya teratai. Adapun Higrofit adalah tumbuhan yang hidup di daerah yang lembab, seperti pakis. Morfologi tumbuhan selalu sesuai dengan lingkungannya.

Apabila suatu jenis tumbuhan hidrofit ditaman pada wilayah xerofit, itu akan menghambat pertumbuhannya. Hanya beberapa saja yang mampu mengadakan adaptasi morfologi. Namun lambat laun juga akan berhujung pada mati. Demikian pula sebaliknya.

Selain lingkungan, perbedaan umur pun sangat beragam. Ada yang hidupnya hanya hitungan hari, bulan, tahun, bahkan ada yang bertahan hidup hingga berabad lamanya, seperti pohon  Baobab. Berdasarkan klasifikasi ilmiah, Baobab termasuk dalam Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Malvales, Famili MalvaceaeGenus Adansonia, Spesies Adansonia digitata.


pict by : cgh30217[dot]deviantart[dot]com

Adansonia Digitata, atau lebih biasa disebut Baobab merupakan sejenis pohon yang berasal dari Afrika dan Australia. Spesies ini dapat berumur hingga 1500 tahun. Bahkan, sebatang pohon Baobab raksasa di Afrika Selatan tercatat berusia 6.000 tahun. Karena umur hidupnya sangat lama, akhirnya pohon ini digelar sebagai pohon kehidupan (Tree of Life)

Pohon raksasa ini dapat tumbuh di daerah panas, hutan kering, daerah berbatu, hingga daerah dengan curah hujan yang rendah. Pohon yang habitatnya di gurun ini dapat tumbuh antara 25-47 meter dan berdiameter 15 meter. Baobab merupakan pohon nasional negara Madagaskar, sebuah negeri di seberang lautan Hindia di bagian timur Benua Afrika.

Baobab juga sering disebut pohon botol karena bentuk batangnya yang silinder. Alasan lainnya adalah pohon ini dapat menyimpan cadangan air sebanyak 120.000 liter. Saat musim hujan ia mampu menyerap banyak air untuk persediaan musim kemarau. Baobab ini bisa tahan di tempat yang sangat kering karena di dalam batangnya ada jaringan yang mirip gabus. Saat hujan turun, jaringan ini akan aktif menyerap air dan menyimpannya. Baobab memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menghemat air. Adaptasi lingkungan adalah salah satu penyebab suatu spesies selamat dari kepunahan.

Besar batangnya, besar pula manfaatnya. Pohon ini sangat berguna bagi makhluk hidup yang ada disekitar ia tumbuh. Setiap bagian dari pohon Baobab dapat dimanfaatkan, mulai dari batang, daun, dan buah. Kulit pohon mengandung banyak sekali serat, kerap diolah sebagai bahan untuk membuat pakaian dan tali. Kalau ditumbuk hingga menjadi bubuk akan menjadi bumbu penyedap makanan. Ada juga proses secara tradisional untuk mengolah kulit pohon agar dapat dimakan, berupa ragi dan sayuran.

Daun Baobab juga bisa dimakan. Penduduk sekitar menikmatinya dengan lalapan sebagaimana halnya salad. Bisa juga digunakan untuk bahan bumbu dan obat-obatan herbal. Meskipun bentuknya gembul dan lucu, Baobab memiliki bunga yang wangi. Baobab juga memiliki buah yang besar mirip seperti cempedak tetapi berkulit licin, tanpa duri. Buah Baobab dapat dimakan, baik oleh masyarakat sekitar maupun sebagai pakan ternak mereka. Daging buah mengandung vitamin C, bahkan hingga enam kali lebih banyak dari jeruk, selain itu juga mengandung kalsium yang melampaui susu sapi. Biji buahnya dapat dijadikan sup, menjadi perasa, atau diolah menjadi minyak sayur.

Batangnya bisa mengeluarkan air jika dilubangi. Pohon ini menjadi wadah penyimpanan air yang urgen bagi kehidupan para pengelana di sekitarnya. Suku Bushmen Kalahari memasukkan semacam sedotan rumput ke dalam lubang batang Baobab untuk mengisap airnya. Kadang-kadang penduduk lokal juga menggunakan batangnya yang besar ini sebagai tempat berlindung, tempat berteduh.

Pohon ini disebut sebagai pohon paling gemuk di dunia. Tidak heran tokoh Rafiki dalam  film The Lion King menjadikan Baobab sebagai rumahnya. Ukuran diameternya sangat besar, bisa dilubangi untuk dibentuk sebuah ruangan. Konon, pohon ini adakalanya memang dijadikan sebagai rumah oleh penduduk lokal yang nomaden.

Lubang-lubang yang terdapat di batang pohon juga digunakan sebagai tempat penyimpanan biji-bijian. Oleh warga asli Afrika, pohon ini biasa digunakan untuk tempat pemakaman. Banyak kisah legenda yang dipercayai oleh masyarakat Afrika terkait keberadaan pohon yang satu ini.

Saat Baobab tak berdaun, ia terlihat seperti pohon yang tumbuh terbalik. Ranting-ranting kering yang telah menggugurkan daunnya terlihat menyerupai akar kayu yang tumbuh di bagian atas. Bentuknya seperti pohon yang dicabut dari tanah dan dibalikkan, sehingga penduduk lokal menyebutnya “Upside Down Tree.


www[dot]justinandcrystal[dot]com

Ketika sains belum berkembang maka cerita tahyul pun menjawabnya. Konon, mereka menganggap bahwa sang dewa telah membuang pohon ini ke bumi dan jatuh ke tanah dengan posisi terbalik, namun hebatnya pohon ini masih tetap hidup sampai ribuan tahun.

Pohon Baobab asli negara Afrika ini sudah tumbuh besar di berbagai negara di dunia. Beberapa diantaranya: negara Yaman, Indonesia, Australia, dan Oman. Di negara Indonesia, pohon ini di tanam Indonesia dan juga dilestarikan di Kebun Raya Bogor. Namun kini terancam mati, kondisinya kurang terurus.

Kabarnya, bibit pohon Baobab pertama kali masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari Timur Tengah dan Afrika sejalan dengan penyebaran Islam di Indonesia. Ini terbukti dari keberadaan puluhan pohon Baobab yang telah berusia sekitar 160 di nusantara. Sudah semestinya dilakukan perawatan dan pelestarian, mengingat pohon memberi banyak manfaat bagi manusia. Pohon dapat mengisap karbondioksi (CO2) kemudian mengubahnya menjadi oksigen (O2) yang berguna bagi manusia. Juga dapat menjadi bukti sejarah bahwa kita pernah menjalin keakraban dengan Afrika dahulu kala.







1 komentar:

Posting Komentar