Al-Ikhlas Tidak Pernah Menyebut Dirinya Ikhlas

Selasa, 07 Desember 2015

"Bumi kita penuh pohon, ada yang berbuah ada yang merana.
Hanya pohon buahlah yang ditimpuki 'tuk diambil buahnya."

Dalam hidup ini, kita senantiasa berhadapan dengan masalah-masalah, baik itu masalah dengan teman, lingkungan, maupun dengan diri sendiri. Masalah pertama kendatinya mendidik kita untuk lebih siap menghadapi masalah berikutnya. Katakanlah begini; semula kita disuguhi dengan Matematika Dasar: tambah, kurang, perkalian dan bagi. Kemudian barulah diberi Matematika lanjutan. Tahapan berikutnya akan ada Kalkulus, Integral, Deferensial dan lain sebagainya yang lebih rumit. 

Analogi dalam penciptaan, pertama kita lahir dalam keadaan tidak bisa berbicara, bahkan untuk bilang ingin diselimuti pun kita tak mampu. Kemudian, tidak bisa berjalan, kita mulai dengan belajar duduk, kemudian merangkak, untuk berdiri tegak pun kita telah melewati jatuh berkali-kali. Kita punya masalah dengan itu semua. Kenapa Allah beri kita demikian? Sebab Allah hendak menunjukkan bahwa ciptaan-Nya ini hebat. 

Allah tidak pernah memberi ujian yang tak mampu kita lewati. Tidak menimpakan beban yang tak sanggup kita pangku. Sejatinya, setiap kepayahan yang kita rasakan hanya akan menunjukkan bahwa kita kuat dengan itu semua. Namun, ada dua pilihan yang harus kita ambil, pilihan ini yang akan menentukan posisi kita di hadapan Allah. Pertama, menjadi orang tegar dan ikhlas atau menjadi pecundang yang murka.

Jika kita ikhlas dan tegar, tentunya di sisi Allah ada ganjaran berupa Surga. Sebaliknya, bila kita menyerah, menyalahkan Allah atas ini semua, maka ganjaran bagi kita kelak berupa Neraka. Lalu, bagaimana ikhlas itu. Ikhlas adalah seperti surat ke 112 dalam Al-Quran. Dari ke-empat ayat yang dikandungnya, tak satu pun menyebut kata "ikhlas". Al Ikhlas fokus pada meng-Esa-kan Allah. Mengangungkan Allah. Menyatakan ketidaksamaan khalik dengan segala makhluk. 

Kendatinya, ikhlas tidak perlu diucap-ucap kepada orang lain "Aku ikhlas! Aku ikhlas!" sementara hati di dalam terus mengumpat "Kenapa Tuhan mengujiku demikian? Mengapa hidup ini berat sekali?". Saat kita ridha atas qadha Allah, yakinlah Allah tidak akan membiarkan kita tak menerima ganjaran apa-apa. Mari kembali ke kalimat pertama, sebait puisi di atas, bahwa pohon berbuah lah yang akan dilempari. Maknanya: sesuatu yang bernilai tinggi, pasti lebih berat menerima uji.

Posting Komentar