Rihlah ke Dayah Al Muna, Peureulak - Kab. Aceh Timur

Halaman Depan

Tanggal 08 November lalu, Allah izinkan kami dari Darul Mu'arrifah berkunjung ke Peureulak. Ada dua agenda. Pertama, rihlah ke Dayah Al Muna, yaitu salah satu pesantren yang terletak di Gampong Peureulak. Kedua, menghadiri undangan walimatul 'ursy salah seorang dewan guru kami, Tengku Mukhramati di Gampong Uteun Dama - Peureulak. 

Setiba di Perlak, saya tidak ingin berlama-lama di rumah Tengku Zainab -tempat yang disediakan untuk kami singgah dalam dua hari ini- yang berjarak tidak jauh dari Dayah Al Muna. Selepas sarapan pagi, saya bergegas mengajak teman-teman untuk melihat suasana Dayah. Seperti yang terlihat di foto pertama di atas, suasana sangat natural, beberapa bangunan sederhana yang jauh dari sentuhan moderen. 

Sepanjang tepi pagar Dayah ditanami batang Serai oleh para santriwati. Pemandangan yang tak biasa, umumnya kita melihat taman bunga, namun tidak demikian dengan Al Muna.

Perdu Serai

"Dahulu banyak sekali nyamuk, mungkin karena sanitasinya kurang bersih. Saya meminta anak-anak menanam Serai, selain bisa dipanen, ini juga bisa mengurangi jumlah nyamuk," jelas Ummi Al Muna kepada saya, sejenak setelah saya bersilaturrahmi ke rumah beliau yang juga terletak di dalam komplek Dayah.

Setelah salam takzim, kami diserahkan kepada salah seorang guru teladan di Al Muna untuk diajak berkeliling Dayah. Seperti pada umumnya, sekarang di Al Muna pun sedang menjalani pembangunan. Perluasan Mushalla, ruang belajar, asrama santri serta rumah bagi dewan guru. 

Di bagian tengah pekarangan Dayah, tepatnya di hadapan Mushalla, saya menemukan sebuah balai (bale beut) yang lebih apik dibandingkan yang lainnya. Sebuah bangunan berukuran 5 x 7 m dengan kontruksi kayu dominan. Agaknya ini bukan bangunan lama, namun terlihat usang karena tidak diberi pewarna properti sejak dari pertama dibangun. Hal yang paling unik adalah keberadaan jam dinding di sisi atapnya. Tentunya ini bertujuan untuk mempermudah santri, agar disiplin waktu.

Jam Dinding Umum

Puas berkelililing hingga ke ruang dapur umum dan kamar mandi umum, akhirnya saya meminta kesediaan para santri untuk foto bersama, sebagai kenang-kenagan. Seperti biasa, semua menjauh, menghindar. Anak Dayah memang tidak terlalu suka berfoto, apalagi dengan tamu. Mereka terkenal pemalu. Tidak hanya di sini, dimana-mana juga begitu. Sejauh yang saya jumpai, di lingkungan Dayah anak-anak sangat penurut, muslihat, taat. Lain halnya kalau sudah keluar. Ada yang kembali seperti orang biasa pada umumnya. Ah, semestinya dua kalimat sebelum ini tidak usah saya tulis. Tapi saya terlanjur, dan tak mungkin saya hapus lagi. Kita harus bicara objektif (tapeugah yang na.)

Mohon maaf bagi yang tidak berkenan :D

Demikianlah, sebagaimana yang terlihat, segala kesederhanaan yang saya petik di Dayah Al Muna, Peureulak. Hingga tiba pada sebuah kesimpulan: Pendidikan yang menuntun kita ke jalan menuju Allah memang kerap dianaktirikan oleh dunia. Hanya orang tua yang memiliki pemikiran cemerlang yang melihat masa depan anaknya tidak hanya sekedar dengan nilai finansial, namun jauh ke depan. Masa depan bagi anak Dayah adalah saat Rabb ridha padanya, pada kedua orang tuanya. Besar harapan kelak Allah menghimpun mereka di Surga. Ya, Surga itulah masa depan kita sebenar-benarnya. 








2 komentar

That meusaneut santriwati yang pakai ija krong. :D

Reply

Meusaneut that komentar Bang Maop. :D

Reply

Posting Komentar