Ziarahlah! Kubur Mengingatkan Kita pada Kematian.

Hutan Kota, 31 Mei 2015

Beberapa kali aku berjanji mengajak Tengku Zainab bepergian, namun belum sempat. Hingga tibalah musim liburan. Sebelum beliau pulang kampung -Ke Perlak- terlebih dahulu menagih janjiku, "Kak Aini, jadeh tanyo tajak w'et-w'et? (Kak Aini, jadi kita pergi jalan-jalan)," tanyanya malam terakhir di Dayah. Malam terakhir mengaji selalu ditutup dengan pengumuman batas libur dan pembacaan nama-nama yang mendapat prestasi dalam proses belajar selama satu catur wulan yang telah dijalani.

Spontan, karena memang esoknya hari Minggu, dan aku juga tidak memiliki agenda apa-apa, aku deal-kan. "Baiklah, esok kita jalan-jalan," Ucapku bersemangat.

Tengku Zainab pun cukup senang. Namun, setelah menjawab itu aku baru berpikir ulang. Kemana kami akan pergi? Sementara aku bukan penyuka pantai atau pun padang gembala. Biasanya, kalau jalan-jalan, itu hanya sebatas mengitari pasar, mengunjungi Mesjid Baiturrahman, paling juga ke Darussalam, mengutip sisa-sisa rindu yang kuserak semasa kuliah, silam.

Akhirnya, aku teringat dengan satu tempat yang setidaknya sudah dua kali kukunjungi. Ya, Hutan Kota BNI di Tibang - Lingke. Sebuah taman bermain yang dipenuhi dengan banyak pepohonan, bak hutan beneran saja. Bunga-bunga bermekaran menyeruakkan aroma wangi. Aku terkenang sekali dengan Bungong Meulu Breuh (Melati Putih) yang ditanam berbanjar, beberapa bedeng di sisi jalan setapak di taman itu. Kolam air ditanami teratai yang selalu berbunga, serta jembatan kayu yang tak sunyi dari muda-mudi yang datang untuk berfoto di situ.

Esoknya, kuajak Tengku Zainab ke sana. Siapa sangka, ternyata Tengku Zainab juga sangat menikmati suasana Taman Hutan Kota. Menyisir jalan setapak hingga ke jembatan di atas tambak yang menyajikan pandangan indah dan udara segar, cukuplah untuk meluruhkan segala penat di saraf pikiran. Melayangkan mata ke dalam kolam, kita akan dimanjakan dengan liuk-liuk ikan kecil dan segerombolan Bandeng yang menghuni kolam itu.

Setelah melewati kolam, kembali kita disambut dengan taman Bougenfil yang berbunga sepanjang tahun. Warnanya beragam; kuning, merah, jingga, putih dan ungu. Aku juga melihat Bunga Merak yang menjuntai lambai dikibas-kibas angin, tentunya ini sangat melenakan pandangan, bukan?

Tidak jauh dari situ, kutemukan gundukan berukuran 5 x 10 m, barangkali. Beberapa batu berbentuk unik dan berukiran menarik menyita perhatian. Iya, itu nisan. Kuburan leluhur silam. Entah siapa pewarisnya. Aku tidak tahu pasti siapa penghuninya liang di bawah gundukan itu. Segera saja kutarik tangan Tengku Zainab, "ayuk kita ziarah dulu," ucapku.

Tengku Zainab membaca doa
Dalam hening, sejenak kami membacakan beberapa kalam Tuhan, setelah didahului salam. Semoga bacaan tak seberapa itu terdengar hingga ke seberang. Aku hanya berpikir, siapa pun di bawah sana, dia adalah hamba Allah yang pernah menginjak bumi seperti kita. Pernah melihat bunga, pernah menatap langit.

Hidup adalah jenjang untuk menemui Pencipta kehidupan. Setelah jenjang ini, kita akan memasuki koridor baru, masa menunggu, yaitu alam Barzah (kuburan). Di sana adalah awal, awal bagi keabadian. Pertanda baik di akhirat akan kita rasakan terlebih dahulu di liang. Bila banyak amalan, sepetak seukuran badan itu pun rasanya luas bagai taman dengan pelita-pelita yang terpasang di segala sisinya. Sedangkan, bila keburukan yang akan kita temukan sebagai balasan atas keburukan kita di dunia, maka sepetak sempit itu kian membuat sesak, pengap. Himpitannya dapat menautkan tulang rusuk kiri dengan kanan. Batok kepala pun pecah berhamburan. Fisik yang kita banggakan hanyalah seonggok bangkai yang lumat disantap ulat dan belatung. Azab bertubi-tubi dan tidak ada satu pun yang akan datang membawa untung. Manusia di atas tanah tak akan peduli.

Tengku Zainab semula bingung. Disangkanya itu makam moyangku. Tentu saja bukan. Hanya, melihat nisan itu membawaku kepada ingatan kematian, aku juga akan ke sana. Entah kapan. Sebab dengan mengingat - merenungkan itu semua dapat menjadikan hati lunak. Tengku Zainab juga pernah mengemukakan demikian. Setelah berziarah, kami berlalu meninggalkan taman. Sepanjang jalan menuju gerbang, aku mengutarakan isi hatiku yang sebak. Ucapku, "tadi, ketika melihat gundukan itu, aku benar-benar teringat almarhum Bapak,  makanya kuajak Tengku untuk berziarah." Beliau membalasku dengan senyum, kulihat bola matanya basah, memerah. 

Posting Komentar