Ajarkan Hati untuk Sabar

Bunga Tapak Kuda. Di pesisir pantai Pulau Kapuk - Aceh Besar

Bila Allah hendak memberikan suatu kenikmatan yang lebih besar kepada seorang hamba, lazimnya Allah memberi ujian terlebih dahulu. Buah dari kesabaran sangatlah manis. Ujian dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok besar: sabar menjalankan 'amar (perintah) Allah dan sabar menjauhi larangannya.

Dalam hal ini, sabar menjalankan perintah Allah tentu bisa dibilang lebih mudah. Semisal, kita harus bersabar menjalankan ibadah puasa, menahan diri dari pada haus dan lapar hingga terbenam matahari. Demikian pula, sabar karena harus bangun subuh-subuh, membasuh badan dengan air yang dingin, untuk menunaikan shalat. Itu semua dilakukan dengan tanpa rasa terpaksa.

Namun, dalam hal munha ‘an (yang dilarang) umumnya kita lebih banyak ingkar. Semisal, Allah memerintahkan kita untuk tidak mendekati zina, tapi masih banyak yang cenderung mendekatinya (read: pacaran). Allah melarang kita dari makan riba, tapi lihatlah sekarang, nyaris setiap lini kehidupan penuh dengan aktivitas ribawi. Terhadap itu semua, tentu saja ada ganjaran dari sisi Allah. Kesabaran akan dibalas dengan  kenikmatan, sedangkan ketidaksabaran akan diganjar dengan azab.

Berbicara tentang sabar yang cakupannya sangat luas, sesungguhnya sabar itu adalah saat mula-mula kita ditimpakan ujian. Teringat tentang musibah yang menimpa Abu Thalhah. Suatu hari, anaknya menderita demam tinggi. Abu Thalhah keluar rumah untuk beberapa saat. Sekembalinya, dia bertanya pada istrinya, “bagaimana keadaan anak kita?”

Istrinya menjawab, “dia sudah jauh lebih tenang, sekarang.” Mendengar kabar itu, Abu Thalhah merasa lega. Setelah itu, istrinya bergegas ke dapur, menyiapkan makanan. Abu Thalhah menikmati makan malam bersama istrinya yang telah berdandan cantik sedemikian rupa. Ia sengaja berhias diri lebih dari biasa. Setelah itu, mereka menghabiskan waktu sebagaimana pengantin di malam pertamanya.

Mendekati subuh, saat merasa keadaan Abu Thalhah sudah cukup baik dan tenang, kemudian istrinya mengutarakan sebuah pertanyaan; “Jika suatu kaum datang, kemudian menitipkan sesuatu kepada suatu kaum, setelah sekian lama, mereka meminta kembali apa yang telah dititipkan itu, Apakah kaum tersebut berhak menolak untuk mengembalikan apa yang telah dipinjamkan padanya?”

“Tentu saja tidak, setiap barang pinjaman harus dikembalikan” jawab Abu Thalhah, tegas. Kemudian istrinya menyampaikan “Adapun tentang anak kita, ia adalah titipan dari Allah. Allah telah mengambilnya kembali. Ia telah dikuburkan, tadi siang.” Mendengar ucapan istrinya, Abu Thalhah sangat terkejut. Ia baru mengetahui bahwa anak laki-lakinya telah meninggal dunia, justru saat ia telah berjanabah. Abu Thalhah sangat sedih. Pagi hari, ia bergegas menjumpai Rasulullah untuk mengadukan hal ini. Rasulullah membenarkan sikap Ummu Sulaim (istri Abu Thalhah) serta mendoakan; “semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.”

Tak lama kemudian, ternyata istri Abu Thalhah hamil. Waktu berlalu, hingga telah tiba saatnya Ummu Sulaim untuk melahirkan. Ketika itu Abu Thalhah sedang bepergian bersama Rasulullah. Saat anak mereka lahir, Anas diminta untuk mengantarkan bayi itu kepada Rasulullah, serta beberapa biji kurma bersamanya. Setiba di sana, Rasulullah mengambil sebutir kurma, mengunyah hingga lumat, kemudian mencecapkan kunyahan kurma kepada bayi tersebut. Rasulullah memberinya nama, ‘Abdullah.

Belakangan setelah itu, tersiar kabar bahwa 'Abdullah anak Abu Thalhah ini tumbuh menjadi seorang alim. Ia menikah dan memiliki sembilan anak laki-laki. Kesemuanya itu adalah para Hafiz (penghafal Quran). Lihatlah bagaimana kesabaran Ummu Sulaim dan Abu Thalhah. Buah manis dari ketegaran mereka menerima ujian Allah. Kita, pantaskah kita tak sabar terhadap ujian yang tak sebanding dengan apa yang dihadapi oleh orang-orang terdahulu? Percayalah, Allah uji sebab Allah sayang.


Posting Komentar