Dihukum dengan Diam

pict by: cintaquran[dot]com
Sebelumnya, aku gemar mengulang baca Jami'u Jawami' Musannifat yang merupakan karya tulis beberapa ulama Aceh terkemuka, dahulu. Kemampuanku memahami bahasa Melayu dalam tulisan arab-jawi bisa dibilang kurang. Kerap aku terhenti pada bacaan yang tak kuketahui apa makna atau maksudnya. Ketika sudah begitu, aku urung melanjutkan, hingga aku paham. Aku meminta bimbingan dari Tengku Zainab atau Tengku Asri, juga. Sebab jadwal mereka padat, setidaknya waktu untukku setelah mereka selesai mengajar beberapa anak bimbing lainnya, pertengahan malam hari. 

Sudah dua minggu ini aku tidak balik ke Dayah, sebab ada beberapa kepentingan personal yang mengganjal. Aku tidak ingin tak membaca apa-apa. Berbetulan, akhir tahun kemarin seorang guru menghadiahiku sebuah kitab yang berisi ribuan pelajaran. Dilengkapi dengan hadits sahih dari dua perawi terkemuka (Bukhari-Muslim). Sejak seminggu belakangan, aku sempatkan setelah shalat subuh membaca pelajaran dalam kitab ini. Setidaknya dua atau tiga lembar saja, saban harinya. Alhamdulillah. 

Seperti tadi pagi, teladan yang kubaca membawa hayalku kembali merasa tengah berada di zaman seribu empat ratus tahun silam. Berada di negeri yang tanahnya adalah hamparan pasir yang ditumbuhi pohon-pohon kurma berbuah ranum. Beberapa bangunan dari tanah liat berbentuk persegi, tempat hunian. Kudapati seseorang yang dengan seluruh asanya telah terserak. Seakan tidak ada lagi udara bahagia yang berhak dihirup dari atmosfir planet ini. Dia pulang dengan menanggung puncak beban dosa hingga dada sesak. Padahal ia belum pernah melakukan keburukan selain ini, setelah dia berislam.


Ini dia kitab yang saya maksud

Ia adalah pemilik nama Ka'ab bin Malik. Kesalahannya hanya lalai dengan dengan perniagaan dan panen raya, sehingga ia tertinggal dari rombongan yang hendak berangkat untuk Perang Tabuk bersama Rasulullah. Sepanjang masa, sebelum Rasulullah kembali dari perang, ia selalu berpikir tentang alasan apa yang tepat agar Rasulullah memaafkan kesalahannya tidak ikut berperang.

Perang usai. Saat Rasulullah telah kembali ke Madinah, puluhan orang datang menjumpai baginda untuk melaporkan ketidak-ikutan mereka dan meminta maaf. Berbagai macam alasan diutarakan. Rasul menerima alasan mereka, memaafkan dan mendoakannya. Berbeda dari kebanyakan, Ka'ab bin Malik justru tidak mampu mengutarakan alasan apa-apa selain mengatakan apa adanya. Ia mengakui kesalahannya karena telah lalai dengan aktivitas dunia.

Di hadapan Rasulullah, Ka'ab bin Malik berbicara dengan keadaan seakan lidah kelu, sulit digerakkan. Perasaan bercampur aduk: takut, menyesal, mengharap, bimbang, segala hal. Begitulah cinta yang cemerlang. Cinta yang benar dari hati tak akan mengizinkan mulut berkata tak benar di hadapan orang yang kita cintai. Ia mengakui pada Rasul, jika orang yang kini di hadapannya bukanlah Rasulullah, mudah saja baginya memberi alasan yang dapat diterima. Pun demikian, mungkin alasan itu akan membawanya kepada keridhaan manusia, namun justru menyeretnya kepada murka Allah. 

“Demi Allah, andai daku duduk di sisi selainmu (wahai Rasulullah) dari golongan ahli dunia (saudagar), niscayalah aku mampu mendapat jalan keluar dari kemurkaannya dengan mengemukakan suatu alasan. Sebenarnya aku dikurniakan bakat bicara hebat, tetapi bagiku (jika kepandaian ini digunakan untuk menipu daya) demi Allah pastilah Dia Mengetahui bahawa kata-kataku kepada Rasulullah saw adalah dusta walaupun Rasulullah terpesona dengan kata-kataku itu. (Jika demikian) sesungguhnya kemurkaan Allah akan diberitakan kepadamu (wahai) Rasulullah saw kerana pendustaanku itu. Sebaliknya jika aku memberitahu hal yang sebenarnya yang demikian itu kamu pula yang akan murka ke atas diriku dalam hal ini. Sesungguhnya daku menginginkan kesudahan yang baik daripada Allah. Demi Allah, aku tiada sebarang uzur sedikitpun - sehingga tidak mengikuti peperangan itu. Demi Allah, sama sekali aku belum merasakan lebih kuat dan lebih ringan untuk mengikutinya, yakni di waktu aku melucutkan diri dari menyertai Rasulullah saw, sehingga tidak ikut berangkat (ke Tabuk) .Ucap  Ka'ab di hadapan Rasulullah.

Setelah Ka'ab berkata jujur, terlihat rona kemarahan di wajah Rasulullah. Rasulullah tidak memutuskan apa-apa atas perkara Ka'ab. Dia diminta untuk berdiri, pergi bertaubat dan menunggu keputusan dari Allah. Sepanjang jalan, semua orang nyinyir terhadap Ka'ab. Ka'ab bertanya pada mereka; "adakah orang lain yang diberi tangguhan seperti atasku?" Mereka mengatakan, ada dua orang lainnya yang melakukan hal yang sama, yaitu mengakui kesalahan dengan jujur, tanpa alasan yang dapat meringankan mereka. Mereka berdua adalah Marara bin Rabi' dan Hilal bin Umayya. Mereka ditangguhkan keputusannya, hingga turun wahyu dari Allah.

Dalam waktu menunggu itu, seluruh masyarakat Madinah tidak dibenarkan berbicara dengan mereka. Ka'ab merasa begitu asing di negerinya sendiri. Bahkan, Rasulullah tak pernah melihat wajahnya lagi, kini. Kedua lainnya adalah orang tua, mereka memilih berdiam diri di rumah saja. Sedangkan Ka'ab tidak betah jika hanya berdiam diri di rumah. Dia beraktifitas sebagaimana biasa. Saat tiba waktu shalat, ia ke mesjid untuk berjama'ah. Ia melihat ke arah Rasulullah, namun baginda berpaling darinya. 

Hingga empat puluh hari dalam keadaan asing. Kemudian diperintahkan pula kepada mereka bertiga agar menjauhi istri-istrinya. Mereka dibiarkan benar-benar asing. Benar-benar tidak dihargai keberadaan. Hingga berlalu sepuluh hari kemudian (genap lima puluh hari didiamkan), subuh itu Ka'ab bin Malik benar-benar telah hancur batinnya. Ia merasa bumi ini terasa sempit. Setelah ia shalat menunaikan subuh, datanglah kabar gembira, bahwa Allah telah mengampuni mereka. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan (Allah menerima pula taubat) tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat mereka) hingga apabila bumi yang luas ini (terasa) sempit kepada mereka (kerana mereka dipulaukan), dan hati mereka pula menjadi sempit (kerana menanggung dukacita), serta mereka yakin bahawa tidak ada tempat untuk mereka lari dari (kemurkaan) Allah melainkan (kembali bertaubat) kepadaNya; kemudian Allah (memberi taufiq serta) menerima taubat mereka supaya mereka kekal bertaubat. Sesungguhnya Allah Dia lah Penerima taubat lagi Maha Mengasihani.” (Surah Al-Taubah: 18) 

Ka'ab adalah pemuda yang sabar dengan kualitas keimanan di atas rata-rata. Aku, kulihat pada diri ini hingga ke relung paling sunyi di sudut hati. Aku berpikir, jika ditimpakan suatu ujian sabar seperti ini atasku, entah aku kuat. Bilamana dijauhi seorang sahabat saja aku merasa bagai tembikar pecah, apatah lagi jika didiamkan oleh Rasulullah shallu 'alaihi shalati wa salam, sebaik-baik manusia.



Posting Komentar