Ketika Sahabat ke Tanah Suci

Aku selalu bahagia dengan kabar baik orang lain, seperti undangan pernikahan, kelahiran anak dari orang yang kukenal dan prestasi gemilang yang diperoleh oleh teman. Aku takjub dengan pencapaian-pencapaian mereka. Melihat kelebihan pada sisi orang lain bukan untuk mengutuk diri sendiri, melainkan menjadikannya sebagai motivasi. Seperti hari ini, menjelang siang aku disapa oleh seorang yang sudah dua minggu tak pernah bertegur sapa. Ia mengirimiku dua kalimat via Whats-App. Dengan kalimat itu, aku merasa sangat belum melakukan apa-apa, tertinggal jauh dari dia. Kabar darinya menggiring hatiku ke sudut paling sempit dari luasnya ruang kerjaku, sekarang. Kesuksesannya menjadikanku berpikir ulang "aku sudah kuliah, kerja dan  menghabiskan hidup selama ini, ngapain saja?"

Pastinya kalian ingin tahu apa yang sebenarnya dia bilang, kan? Baiklah, kabar gembira kurasa tidak ada salahnya untuk kubagi. 


Isan adalah salah seorang sahabat yang sudah kuanggap selayak adik sendiri. Pribadi lururnya yang memesona menjadikan Isan memiliki banyak teman. Ia pandai bergaul. Lihai menjalani hidup. Sabar dan selalu ridha atas qadha Allah. Tsunami akhir tahun 2004 telah memisahkan ia dengan kedua orang tuanya. Namun hal itu tak membuat Isan terpuruk, justru Ia selalu bangkit untuk menjadi lebih baik. Isan, tidak mungkin tak kenal dia bila Anda seorang santri Dayah Darul Mu'arrif (Dayah Abu Lam Ateuk) atau santriwati di Darul Mu'arrifah. 

Sepanjang menempuh study sebagai pelajar di Dayah, ia selalu menjadi bintang podium. Mengisi muhadharah (kelas pidato) dengan pembahasan intelektual hingga sering meraih juara pertama. Di kelas baca kitab, Ia pun kerap juara. Pemahamannya bidang nahwu dan sharaf juga bisa diacungkan jempol. Dengan sekian banyak sisi postif itu telah mengantarkan Isan menjadi salah satu dewan guru yang mengajar di Dayah Lam Ateuk sekaligus menjadi wakil sekretaris Dayah. 

Aku mengenal Isan sejak akhir tahun 2013, waktu itu kami satu rombongan melakukan rihlah (perjalanan) ke Kuala Terengganu - Malaysia. Pernah, saat berada di terminal bus antar negeri kami harus menunggu dua jam untuk keberangkatan bus dari Kuala Lumpur ke Terengganu. Dalam masa relatif panjang itu, saya bersama rombongan yang perempuan sempat leyeh-leyeh mencari bahan cemilah, minuman dan membeli kuota internet juga tentunya. Setiba kami di halte, ternyata Isan telah mengumpulkan beberapa anak-anak Malaysia yang bermain-main di sana untuk diberikan wejangan. Betapa setiap waktu luang bisa ia manfaatkan untuk sesuatu yang bernilai akhirat. Saat hendak berangkat, kami melihat anak-anak itu menyalami dan mencium tangan Isan sebagai tanda hormat. Luar biasa, dalam dua jam ia bisa memiliki 9 murid yang baru saja dikenal. 

Isan, dia telah menggangapku selayak kakaknya. Kerap berbagi cerita dan bertukar pikiran, keseringan memang aku yang mendapat nasehat dari dia. Bahkan aku sering diceramahi, katanya "Dreon kak, meunyo neuk geusayang le nabi, neu meukeluarga! Sebab rasulullah geupeugah "an nikahu sunnati." So yang hana galak keu meunikah, maka keun ummat nabi." Ini karena aku kerap menolak ketika ia hendak mengenalkanku dengan temannya. Nyan ban!

Secara umur, memang aku jauh lebih tua, tapi ilmu dan pemahaman agamanya jauh lebih tinggi di atasku. Aku menggangapnya guru. Awal tahun lalu ia telah resmi menjadi seorang guru yang mengajar di salah satu Pesantren berbasis Dayah di Selangor - Malaysia. Seorang ulama asal Malaysia tertarik dengan teknik pengajaran Isan. Dia mampu mengulas suatu tema dengan penyampaian yang mudah dipahami oleh pendengarnya. Aku tidak tahu persis asal mula Isan bisa kenal dengan ulama asal Malaysia itu, yang aku tahu, Abu Melayu itu sangat menyukai dan menyayangi Isan.

Setiap liburan Dayah, sebulan Ramadhan, atau pun hanya seminggu di Rabiul Awal, segera saja Isan berangkat ke sana dengan akomodasi ditanggung sepenuhnya oleh Abu Melayu. Pesan yang tadi kuterima adalah salah satu dari rahmat Allah yang dilimpahkan kepada Isan melalui tangan Abu Melayu. Akhir tahun lalu Isan sempat bercerita bahwa dia akan melaksakan Umrah di awal tahun ini, belum tentu tanggalnya. Ternyata sekaranglah waktu yang ditunggu-tunggu. 

Rezeki dari Allah, diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya melalui jalan mana pun yang bahkan tidak kita duga. Mengenai rizki, bukan hanya bicara nilai, tapi bagaimana cara kita memperolehnya dan kita bawa ke mana. Kita harus pandai-pandai bersyukur.

Tentang kabar Isan yang akan berangkat ke tanah suci, esok, aku tidak lagi menyinggung masalah oleh-oleh sebagaimana saat ia berkunjung ke banyak negara lainnya. Aku hanya meminta satu hal "Sampaikan salam akak kepada Rasulullah," sambil kusebut nama lengkap beserta nasab. Di detik itu, hati ini kembali dilamun rindu menyebakkan dada. Ingin sekali menyambangi makam yang mulia itu. Duduk di sisinya, melantukan madah pujian dan kidung shalawat. Aku ingin bercerita tentang cinta atas dasar iman. Aku ingin meminta maaf atas bingkisan cinta dariku untuknya yang tak pernah sempurna. Ya Rasulullah! Aku selalu tidak mampu menulis lebih banyak, saat mengingatmu. Cinta telah menyentuh bubung asa. Sulit sekali kutuangkan dalam kata. Shallu 'ala sayyidi Muhammad Rasulillah. Allahumma shalli 'alaihi wa 'ala alihi wasahbihi wa salam.

Foto dari Isan. ia yang paling tengah, berbaju warna coklat. Di sisi kirinya, yang mengenakan jubah putih dengan sorban dan kopiyah runcing adalah Abu Melayu.








Posting Komentar