Senyum Pengerat

kenduri naik kelas

Berada di antara mereka adalah anugrah dari Allah. Gulita hingga terang, purnama hingga kelam, malam-malam kita lewati penuh dengan suka cita. Apalagi dengan kecerdasan dan kelihaian guru kami dalam menjelaskan pelajaran, sungguh itu telah lebih dari cukup untuk mengatakan kepada dunia; kamilah yang paling bahagia. 

Sejak 2011 saya datang berbekal hidayah dan taburan keberuntungan dari langit, saja. Dikantongi ridha Abu. Abu mengizinkan saya untuk datang rutin setiap malamnya. Duduk di serimana kelas yang saya inginkan. Saya mulai menjajaki pendidikan agama di dayah langsung dari kelas lima. Waktu itu, berbetulan ada kakak sepupuku di kelas itu. Tanpa memahami nahwu dan sharaf, saya menyimak bacaan kitab turats. Seperti seekor burung yang hendak terbang tanpa bulu pada bahunya. Begitulah saya. Hingga telah berlalu pergantian kelas, empat tahun lamanya.

Saya tak punya kelas di sini. Ini kelas mereka, saya hanya berada di dalamnya. Sambutan hangat mereka membawa nama beruntung ini ikut tertera di absensi. Akibatnya, semalam saja tidak datang, saya akan ditanyai "Tengku Lambaed, pakeun hana neujak beut malam baro?" Terima kasih, Tengku Miftahillah. Setidaknya, karena bingung menyediakan alasan, saya pun berupaya untuk tetap hadir meski sudah sangat lelah siang harinya. Pun seharusnya memang begitu. Prioritas hidup adalah untuk agama, sedangkan waktu sisanya kita alokasikan bagi aktivitas dunia. Saya akui, meski masih sering terbalik.

Ini kenangan malam perpisahan, tepatnya malam terakhir mengaji dalam catur wulan ke-tiga, tahun kemarin. Sengaja kami minta izin pada Tengku untuk libur semalam, sebab ingin mengadakan kenduri. Awalnya Tengku keberatan, tapi akhirnya dikabulkan. Kenduri adalah bentuk syukuran, suka cita atas kabar gembira bahwa Tengku akan melangsungkan pernikahan. Sekaligus kenduri perpisahan, anak-anak akan naik kelas tujuh, sedangkan beliau (gure) akan pulang kampung. Begitulah sunnatullah kehidupan. Kita semua baharu (berubah-ubah).

Bermula kenapa saya tulis tentang ini, itu karena Tengku Rafiqa Sari mengirimi pesan singkat yang menjadikan saya melihat ke dalam diri, jauh ke dalam, untuk menemukan sisi mana yang telah berubah. Rasanya tak ada. sama sekali tidak. Dalam sepenggal kalimat "Kak Aini tak seperti dulu lagi," ada makna yang kuat, tajamnya melebihi anak panah yang melesat dari busur pikirnya, menembus kulit dan kini tertancap kuat di ulu hati saya. 

"Tidak, Adik. Kakak masih sama seperti yang dulu."

Potongan kemudian ia menimpali. "Tidak, sama sekali tidak."

Kemudian, beliau mengirimi saya selembar kenangan. Ada beberapa muslimah di sana; Tengku Muslina, Tengku Ayu, Tengku Siti, Tengku Lisa, Tepat di sisi kiri saya adalah beliau dengan senyum manisnya. Lanjut Tengku Yasrah Hanum dan Tengku Ummul Khaira. Sejenak setelah foto itu saya perhatikan lekat, beliau mengirimi lagi beberapa kalimat.

"Anak-anak bilang, mereka semua merindukan Kakak. Rindu saat-saat bersama kita. Kakak tersenyum bersama kami seperti di foto itu. Sebenarnya, mereka ingin menyapa, tapi segan. Bila nanti kakak datang, setidaknya singgahlah di depan bilek kami dan hadiahilah senyum itu. Bukankah kita satu sama lainnya telah menjadi bagian?"

Di situ, saya benar-benar merasa betapa egoisnya diri ini. Ternyata saya telah menyakiti mereka tanpa saya sadari. Padahal, tidak ada aral apa-apa di antara kami., selain pembahasan zakat hewan ternak yang membuat saya tidak lagi memilih di kelas mereka. Saya memilih kelas lainnya dengan pembahasan kaifiat shalat. Sebab itu yang lebih penting untuk saya ulang-ulang kaji, mengingat ilmu saya masih sangat dangkal tinimbang mereka. 

Terima kasih, Tengku Rafiqa Sari. Saya senang dengan teguran ini. Hingga saya sadari;

Ada cinta tersembunyi dari dinginnya sikap, 
Ada rindu menyembul dari balik bentangan harap,
Kering sapaan dan sedikit kata,
Senyum simpul adalah obat bagi itu semua.

Posting Komentar