Siapa yang Keliru; Bergek atau Kita?



Media sosial sempat gegar dengan kabar tertangkapnya seorang penyanyi remaja yang sedang fenomenal di Aceh, atas sangkaan mengonsumsi sabu-sabu. Bergek, begitu nama populernya. Sudah lumrah, di ambang puncak pencapaian seseorang, selalu ada godaan yang menjerumuskan ia ke koridor yang dapat merusak segala reputasi dan mematikan karir. Semua tergantung bagaimana ia merawat logika. Bila mengikuti godaan itu, maka akan berujung kepada keterpurukan. Bila ia melawan, besar kemungkinan untuk dia bertahan dalam ketenaran. 

Berjubel sumpah-serapah dimuntahkan oleh netizen di akun facebook dan twitter mereka. Pengakuan kecewa para penggemar tak kalah banyak. Semua menyayangkan sikap Bergek yang kalap. Tapi, sebentar dulu. Apakah dugaan ini benar?

Tidak lama berselang waktu, tersiar kabar ternyata informasi tersebut keliru. Pihak Polres Lhokseumawe melalui lintasnasional mengklarifikasi; tidak ada tersangka yang bernama Bergek dari kasus narkoba yang mereka tangani. Mereka menyangkal, informasi tertangkapnya Bergek dalam kasus sabu-sabu sama sekali tidak benar.

Kalau kita analisis, terhadap kabar ini setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, kabar Bergek tertangkap karena kasus sabu-sabu adalah sensasi dari pihak tertentu untuk mem-booming-kan sosok Bergek. Semakin dibicarakan publik, semakin banyak yang ingin kenal sosoknya. Setelah santer dibicarakan, tinggal ganti view, masuk ketahap mengalih citra. Mengklarifikasi ulang bahwa itu hanya tuduhan. Terduga akhirnya dianggap hanya sebagai korban kezaliman media.

Ini berdasarkan pengalaman pribadi saya, tentunya. Semula saya tidak pun tahu siapa Bergek. Dengan tersiar kabar tentang kasus sabu-sabu ini, saya sampai stalking ke youtube untuk mengenal siapa Bergek. Seperti apa karyanya sehingga banyak orang kenal. Tentu saja saya tidak sendiri. Saya yakin ada banyak orang lainnya yang kini mengenal Bergek dari semula tidak tahu sama sekali.

Kedua, kita mengakui bahwa benar semua tersangka tidak ada yang bernama Bergek. Namun masih tersisip satu tanda tanya, siapa nama Bergek sebenarnya? Tidak tertutup kemungkinan, seorang pelaku seni tidak menggunakan nama sebagaimana yang terdapat pada kartu identitasnya (Read: KTP). Ini  juga berdasarkan pengalaman pribadi, saya tidak pernah menggunakan nama sebenarnya untuk identitas karya. Saya telah memilih Aini Aziz sebagai nama pena. Tapi, tunggu dulu. Kemungkinan kedua ini sebenarnya tidak baik untuk ditulis, tidak semestinya kita berburuk sangka, sebab itu bukan wilayah kerja kita.

Apapun kemungkinan yang paling benar dari kedua di atas, -bahkan jika ada kemungkinan-kemungkinan lainnya- tidak lebih penting dari pada bagaimana sikap kita menanggapinya. Kita harus mampu mengevaluasi diri. Kita telah masuk dalam golongan mana: Orang yang serta-merta menyebarkan kabar yang belum jelas, menyumpah serapahi sesuatu yang belum pasti, seakan kita tak pernah berbuat dosa. Atau menjadi orang yang berpikir ulang, tidak gegap gempita mengutuk keburukan orang lain.

Berselancar di media sosial bukanlah hal yang tak dituntut pertanggung jawaban. Sejatinya ini merupakan dunia kedua bagi kita. Ruangnya boleh maya, tapi interaksi dan pelakon di balik maya ini sangat nyata. Terkait Bergek, saya tidak menyimpulkan apa-apa. Biarlah kebenaran menunjukkan wajahnya. Kapan pun itu. Sebab Tuhan tidak pernah tidur.

Posting Komentar