Bagaimana Cara Anda Bahagia?

pict by: kaskus[.]co[.]id

Dalam interaksi sosial, Anda akan menjumpai berbagai corak hidup. Tingkatan dengan fasilitas terbaik, tercukupi segala kebutuhan, kerap disebut Orang Kaya. Sedangkan sebaliknya, tingkatan yang penuh gambar kemelaratan, kemalangan, tidak memiliki fasilitas yang mampu memadankan kebutuhan, tidak dapat berbuat banyak untuk mensejahterakan diri dan keluarganya, nominal finansial tak memadai, mereka dikenal dengan Orang Miskin. 

Lalu, dari kedua tingkatan yang kerap terjadi kesenjangan itu, bisakah disimpulkan siapa yang terjamin kebahagiaannya? Si Kaya atau Si Miskin? Tentu saja tidak. Bebicara tentang konsep kebahagiaan. Tolak ukurnya adalah bagaimana cara seorang menikmati apa yang dia punya. Kenikmatan dari pengecapan cita rasa, kelapangan dada dan keridhaan, tanpa mengeluh dengan baik dan buruknya keadaan.

Bila bahagia dinilai dari tolak ukur finansial, saya rasa semua orang akan gagal menikmati kebagian. Atau, tepatnya, mereka gagal memaknai kebagian. Betapa tidak, seorang yang berpenghasilan banyak, tentu akan mengupayakan pelayanan yang tinggi. Sedangkan dengan kemampuan rendah akan mengupayakan pelayanan yang rendah pula. Mereka sama-sama akan mengupayakan pelayanan.

Mari mencermati. Ketika seseorang hanya mampu membeli kendaraan be-roda dua, maka beban pengeluarannya hanya terbatas pada kebutuhan operasional dan maintenance kendaraan be-roda dua: ganti ban, ganti oli, isi bahan bakar, pajak tahunan dan service bulanan. Ya, seputar itu-itu saja. Nominal pengeluarannya tentu tidak seberapa bila dibandingkan dengan seorang lainnya yang mempunyai kendaraan beroda empat: biaya service, bahan bakar dan pajak tahunannya pasti akan jauh lebih besar. 

Tidak terhenti pada permasalahan pengeluaran, bahkan tekanan pun demikian. Dari sisi keamanan, seseorang dengan kemampuan memadai, akan ekstra waspada agar kepunyaannya tidak berpindah tangan dengan cara yang tak diinginkan. Khawatir kemalingan, mereka akan memasang pagar yang kuat, pintu dan jendela rumah berlapis teralis agar tidak mudah dibobol oleh penjarah. Bukankah berpikir tentang proteksi ini dapat menguras banyak energi?

Sementara di sisi lain, kemelaratan menjadikan seseorang "tidak nyenyak tidur malam" karena sibuk mengutuk keadaan. Di matanya, orang lain lebih disayang Tuhan. Baginilah yang akan terjadi bila menakar hidup dari kemampuan finansial.

Saya berani mengatakan bahwa kebahagian tidak Anda capai dengan nilai, melainkan makna. Bahagia bukanlah tujuan, sebab bila menjadikannya sebagai tujuan, Anda akan luput mencicipinya sepanjang perjalanan. Bahagia bukanlah pencapaian, sebab bila ia pencapaian, Anda akan kehilangan rasanya sepanjang perjuangan. Bahagia bukan cita hidup, sebab bila menjadikannya sebagai cita hidup, Anda akan kehilangan kebahagiaan setelah kematian. Bahagia adalah esensi iman, keridhaan dalam susah dan senang, derma dalam lebih dan kurang.

Sebagai gambaran, Anda tentunya akan kagum dengan apa yang dilakukan oleh Ghumaisya. Perempuan shalihah yang namanya dikenal dengan sebutan Ummu Sulaim. Ya, ia adalah istri Abu Thalhah. Ibu dari Anas bin Malik. Ketika Rasulullah tiba di Madinah, semua orang berbondong-bondong untuk memberikan bantuan kepada Rasullulah, baik berupa harta benda maupun hewan tunggangan. Ghumaisya tidak memiliki apa-apa waktu itu. Ia pun datang kepada Rasulullah. Ucapnya " Ya, Habiballah, aku melihat penduduk Madinah datang kepadamu memberikan ini dan itu. Aku tidak memiliki apa-apa selain ini," sambil menolehkan wajah ke arah Anas yang kini berada di sisinya, "bahagiakanlah kami dengan menjadikannya khadam (pelayan) bagimu." Wanita itu menghadiahkan anaknya. Kebahagiaan bagi Ghumaisya adalah saat anaknya dapat membantu Rasulullah sepanjang waktu, tanpa lengah.

Tidak hanya Ghumaisya, bahkan banyak lagi gambaran paling menyentuh dari kehidupan kaum muslimin di awal islam. Bagaimana Fathimah Az Zahra mengikhlaskan delima jatahnya dibagikan kepada orang lain oleh Saidina Ali. Bagaimana sekawanan orang-orang dalam perang tidak meneguk air, melainkan membagikan kepada teman di sisi kanannya, karena merasa orang lain lebih membutuhkan. Padahal dahaga saat itu sangat menyiksa, kering kerongkongan. Kenapa mereka melakukan ini semua? Sebab kebahagiaan. Ya, sebab jiwa mereka mempersembahkan kebaikan untuk ditebus dengan surga.

Di sini, kita harus lebih jeli melihat ke dalam (jiwa). Anda di tingkatan kaya atau miskin, itu tidak lebih penting dari bagaimana Anda menikmati itu. Bahagia atau tidakkah? Perhatikan peluang yang dapat memberi kebahagiaan. Sederhana saja, lakukanlah kebaikan kepada orang yang kita jumpai. Kemudian ajaklah mereka melakukan kebaikan kepada orang lain dan seterusnya. Saat Anda memulai hal itu, percayalah Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda. Energi positif akan menyesap kegundahan, mengubahnya menjadi semangat. Seperti pohon mengisap karbon dioksida, mengubahnya menjadi Oksigen. Tidak usah muluk-muluk, kita belum mampu seperti Ghumaisya yang menghibahkan anaknya.  Minimal jumpailah saudaramu dengan wajah berseri, tersenyum. Senyum adalah sedekah. Berapa sederhananya jalan kebahagaian itu, bukan?

Posting Komentar