Dari Aceh, Selamat Milad ke 19 untuk Forum Lingkar Pena

Milad Forum Lingkar Pena ke - 19

"Forum Lingkar Pena sangat fenomenal. FLP adalah hadiah Tuhan untuk Indonesia." Demikianlah makna keberadaan Forum Lingkar Pena, di mata seorang seniman fenomenal Indonesia, Taufik Ismail. Beliau menyampaikan hal ini saat milad FLP di Jakarta, tahun 2002. Lembaga kepenulisan yang didirikan pada 22 Februari 1997 oleh Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dan Muthmainnah ini telah mengepakkan sayapnya, menunjukkan peran penting penulis dalam membentuk pola kreatifitas terdidik bagi bangsa, terutama dalam bidang literasi. Hingga kini, FLP telah memiliki lebih dari 125 cabang yang tersebar di seluruh Provinsi, Kabupaten, di Indonesia, bahkan Mancanegara. FLP telah berkembang hingga Singapura, Mesir, Hongkong, Jepang, Inggris dan lainnya.

Di Aceh, Forum Lingkar Pena didirikan pada 11 Maret 2001. Perjuangan dimulai dari menggelar pertemuan-pertemuan kecil di pelataran Masjid, di taman terbuka, guna mengajak remaja-muda Aceh untuk menulis. Lanjut kemudian, setelah melihat perkembangannya cukup pesat, meningkatnya antusias masyarakat, sehingga FLP dikenal oleh berbagai kalangan: baik kaum intelektual, para pelajar, bahkan ibu-ibu rumah tangga, akhirnya FLP membentuk sekretariat, meskipun hingga kini masih berpindah-pindah tempat.

Seiring perkembangannya, ada banyak prestasi yang telah diraih oleh FLP Aceh, diantaranya: menjadi FLP Wilayah Terpuji tingkat nasional tahun 2002, nominasi FLP Wilayah Terpuji 2005, peraih penghargaan I Love Aceh Award, dll. Puluhan karya pun telah lahir dari penulis Aceh, hasil bimbingan Forum Lingkar Pena. Setidaknya, tercatat lebih dari 60 buku telah diterbitkan, baik berupa antologi maupun individu. FLP Aceh juga mewakili Indonesia dalam Mastera (Majelis Sastra Asia Tengggara). Banyak lagi prestasi lainnya, saya bicarakan nanti, semoga kita punya kesempatan. Tidak usah saya tulis semuanya, sebab selayaknya seorang muslimah, semakin tertutup semakin kita dibuat penasaran akan keindahannya. (*kedip-kedip)

Baiklah, adapun tujuan saya tulis ini adalah sebagai persembahan, sebagaimana tahun sebelumnya. Hari ini, FLP tepat berumur 19 tahun. Selamat milad, Rumah Para Pecinta. Semoga semakin bertumbuh dan bertambah, menuai berkah. Tahun depan kita akan memasuki dekade kedua.

Bagi saya, FLP tidak hanya lembaga yang mengajarkan kiat menjadi penulis, tips agar karya tulis di-publish. Lebih dari itu, FLP telah menjadi keluarga. Dua tahun silam, ketika saya dinyatakan lulus seleksi menjadi salah satu anggota FLP Aceh, saat itu saya benar-benar berpikir; kemampuan menulis bukan sekedar penyaluran hobbi, melainkan anugrah besar dari Allah yang harus kita syukuri. Akan kita bawa kemana potensi ini, sebab segala pemberian-Nya akan dimintai pertanggung jawaban.

FLP memahamkan saya, bahwa setiap penulis mengusung ideologi melalui karyanya. Apa yang dia tulis adalah cerminan dari pemahaman. Penulis tidak akan mampu menyembunyikan sosok dirinya. Apa yang dipikirkan akan dituang dalam kata, dirangkai menjadi kalimat, disatukan dalam paragraf, kemudian karyanya dieja oleh para pembaca. Penulis yang sukses dapat dilihat dari sejauh mana tulisannya menjejak di benak para pembaca. Adapun ideologi inilah yang menjadi penentu, apakah seseorang bersyukur dan bertanggung jawab atas anugrah kemampuan menulis itu?

Anda sebagai pembaca, tentunya tahu, ada beberapa karya hebat di luar sana. Bacaan yang mampu membangun jiwa, mencerahkan akal, menguatkan semangat, meniupkah ruh peduli kemanusian, mengajarkan norma, adab dan kesopanan, mencerdaskan anak bangsa, mengusung perjuangan terwujudnya generasi berbudi luhur, sehingga setiap karya mereka selalu fenomenal. Mereka disambut hangat oleh masyarakat.

Di sisi lain pula, ada karya yang tak kalah hebatnya. Bacaan mampu membangun gelora, menonjolkan esensi seni, menguak fakta apa adanya, energi positif atau negatif bukalah pertimbangan. Keji atau pun terpuji tak lagi menjadi acuan, menulis secara terbuka, bahkan hal lucah sekalipun tak sungkan dihidangkan untuk pembaca. Hal tabu dianggap layak untuk diperbincangkan. Bangga mempertontonkan peradaban buruk, menyebutnya karya. Harus diakui mereka memang lebih dominan.

Anda ingin tahu FLP di mana? Tentu saja FLP di kriteria pertama. Saya merasa inilah prestasi terbesar bagi FLP, terlepas dari segambreng prestasi lainnya. Sebagai seorang yang telah disadari bahwa menulis adalah anugrah dari Allah, saya akan menyayangkan bila saya berada pada golongan kedua. Sebab tanggung jawab kemampuan ini bukan suatu yang ringan. Saya bayangkan, ketika hari persaksian, di bawah panggang sinar sejengkal di atas kepala, disaat seseorang tenggelam dengan keringatnya, Tuhan bertanya; "Adapun kemampuan menulismu, kemana engkau gunakan?"

Dengan tegas atau pun tergagap-gagap nantinya, semoga saya mampu menjawab; "Menulis kebaikan, mengajak kepada jalan-Mu, wahai Tuhan!"

Sebagai manusia, sebagai hamba Allah, saya mewakili seluruh kaum muslimin di dunia, mengucapkan terima kasih seluas Arasy kepada FLP, Rumah Para Pecinta. Tidak ada peran yang lebih berguna selain mengajak kepada kebaikan, dan inilah yang telah engkau ajarkan kepada saya, kepada kami semua. FLP menyesap debu kejumudan yang menempel dipikiran, menyapunya dengan secercah inspirasi, menuangkannya dalam karya yang patut diapresiasi.

Demikianlah, saya padai dulu persembahan sederhana ini. Tidak ingin terlalu panjang hingga mengundang bosan. Semoga seuntai ini mengandung kebaikan. Mengutip apa yang disampaikan oleh Taufik Ismail, dengan sedikit gubahan, saya menyatakan; "FLP adalah hadiah Tuhan untuk dunia."


Kenangan setahu lalu, bersama Bunda Helvy dan Pak Edi.


2 komentar

Salam kenal dari #BloggerBorneo, kebetulan kemarin diundang juga dalam kegiatan Milad FLP 19 Kalimantan Barat. Ternyata begitu di searching untuk kata kunci ini banyak yang membuat tulisan dengan tema sama. Met milad buat FLP untuk seluruh perwakilan provinsi, semoga semakin tambah eksis dan jaya. Amin...

Reply

Salam kenal kembali, Mba. Terima kasih banyak. FLP adalah kita :)

Reply

Posting Komentar