Nikmat Allah pada Sabar dan Syukur



Kalau saya katakan; boleh-boleh saja bagi Allah meletakkan hidung kita di punggung. Teman-teman setuju, tidak? Setuju atau tidak setuju, hakikatnya Allah mampu melakukan itu semua. Lalu kenapa Allah meletakkan hidung kita di wajah? Sebab Allah Mahabijaksana. Hidung diberi kemampuan membaui, maka akan sangat janggal bila seseorang hendak menghirup aroma dari sebuah benda dengan mendekatkan punggung padanya. Benar begitu, teman-teman? Ya. Tentu saja benar.

Allah dengan segala kebijaksanaanya, menetapkan qadha dan qadar bagi hamba. Seseorang diberi keutamaan dalam hal ini, seorang lainnya diberi keutamaan dalam hal lainnnya. Kapabilitas masing-masing berbeda. Seseorang tidak mampu melakukan ini, seorang lainnya tidak mampu melakukan itu. Untuk apa Allah men-variasikan kemampuan dan ketidakmampuan ini? Apakah Allah bermain-main dengan penciptaannya? Tentu saja tidak! Allah menciptakan keberagaman agar terbentuk kelestarian, interaksi dan keseimbangan. 

Bila semua orang ditakdirkan sebagai dokter, lalu siapa yang akan menanam padi untuk makanan para dokter? Bila semua orang ditakdirkan menjadi buruh, lalu siapa yang akan mengobati buruh bila ditimpa suatu penyakit? Lebih-kurang, tumpul-runcing, kering-basah, semua ciptaan Allah ada fadhilahnya (keutamaan).

Dalam sebuah kesempatan, seseorang mengeluhkan keadaan perekonomiannya kepada saya. Ia merasa begitu berat memikul beban hidup. Penghasilan Rp. 2.500.000,-/ bulan rasanya tidak mampu mengangkat dirinya menjadi lebih sejahtera. Di angka dua setengah juta itu dia harus membagi kepada 5 kelompok besar: biaya makan keluarganya selama sebulan, tarif listrik, biaya pendidikan, untuk operasional kendaraan dan biaya tak terduga (misalnya: biaya untuk menghadiri undangan atau tiba-tiba ada yang sakit.)

Mari kita cermati. Dia menempatkan satu kebutuhan urgen ke dalam klasifikasi biaya tak terduga, yaitu kesehatan. Itu menunjukkan bahwa kondisi diri dan keluarganya selama itu cukup sehat, jarang terkena penyakit. Padahal, di sudut lain, ada seseorang dengan penghasilan hingga puluhan juta perbulan, namun kondisi kesehatannya buruk. Selang seminggu harus medical check up keluar negeri, kondisi ginjal memprihatinkan. Saban hari harus suntik insulin, kadar gula darahnya terlalu tinggi. Bahkan uang puluhan juta itu tak cukup untuk biaya berobat. 

Lantas, jika kita minta kesediaan seseorang yang gajinya hanya dua setengah juta bertukar posisi dengan orang yang penghasilan puluhan juta itu, apakah dia mau? Tentu saja tidak, kan? Sebab kesehatan adalah nikmat yang tak dapat dibeli dengan uang. Apatah lagi ditukar. 

Allah pasti memberi sesuai dengan kadar yang cukup untuk kita hidup. Cabaran sebatas yang kita sanggup. Bila lebih, maka itu adalah ujian, yaitu ujian syukur. Bila kurang itu pun ujian, yaitu ujian sabar. Kenapa Allah uji? Sebab Allah sayang. Allah akan mengganjar syukur dan sabar itu dengan ridha-Nya: Surga.

Eksistensi keimanan seseorang terletak diantara dua kemungkinan tersebut. Sebab Rasulullah shallu'alaihi wa'ala alihi wasahbihi wasallam. 

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

4 komentar

Ya Allah, terimakasih dan alhamdulillah atas segala nikmatMu..

Main-main juga keblog kami ya Kak www.sriluhursyastari.blogspot.com

Reply

Tentu saja, Ai. Saya sering mampir di sana. :)

Reply

Posting Komentar