Ada Surga di Rumahku.

pict: kabarharian.net

Sering sekali aku tidak ikut hadir bersama teman-teman bila mereka mengadakan perhelatan dimalam hari. Entah itu agenda rapat, agenda kenduri, zikir bersama, ifthar jama'i, mabid dan sebagainya. Selalu dengan alasan yang sama, aku tidak mengantongi izin dari orang tua. Sejak Bapak ada, bahkan hingga kini ia telah tiada, peraturan masih sama, harus pulang ke rumah sebelum matahari ditelah laut senja. Tidak boleh berkeliaran di luar rumah apabila siang telah berganti wajah dengan malam, apapun alasannya. Jika pun terpaksa keluar, maka harus ada yang ikut serta, entah Uning atau Husnul yang akan menjadi teman. 

Pernah, suatu sore, karena terlalu asik duduk kopdar dengan teman-teman, aku telat pulang ke rumah. Azan magrib berkumandang dan aku masih di jalan, Setiba di rumah, muka Mak tidak seperti biasa, ada bara yang baru padam tapi panasnya masih terasa, tidak ada yang mau buka bicara denganku. Aku pun merasa asing, ingatnya, mungkin mereka lelah dengan urusan masing-masing. Segera saja aku bergegas mandi, ganti pakaian, shalat, makan dan selanjutnya kuraih tas untuk berangkat ke Dayah. 

"Rugo kajak meuruno meunyo hana ka amai, (rugi belajar kalau tidak diamalkan)". Ketus sekali nadanya, Mak bicara dengan membelakangiku, yang sudah-sudah tak pernah seperti itu. Aku tertunduk, diam. Aku tahu, aku salah karena telat pulang. Mulailah aku disirami dengan curhat kekesalan yang dikulumnya sejak tadi. Ternyata Mak benar-benar cemas saat aku belum tiba di rumah. Setelah semua rasa geram itu tumpah ruah, ucapnya, "jeut kajak-jak malam tapi hate loen hana seunang, bah pih kajak bak kebajikan, (boleh pergi tapi hatiku tidak senang, sekalipun engkau pergi pada kebajikan." 

Kurasa Mak melakukan hal yang wajar, sebaik apapun malam, ia adalah potongan gelap yang melekat padanya fitnah-fitnah. Aku bukan ingin mengutuk gelap, tapi menyadari bahwa diriku tak sepatutnya bersahabat dengan gelap, bahwa aku seorang perempuan yang terikat penjagaan. Mak tentu ingin memperlakukanku dengan spesial, bahkan itik saja digiring pemiliknya ke kandang bila sore menjelang, apatah lagi anak gadisnya. 

Tidak hanya dalam hal ini, ada sisi lainnya yang tak kutemukan dari siapa pun selain Mak, tentang luar biasanya ia memerhatikan kami semua. Coba tanya pada seisi rumahku, adakah satu saja dari mereka yang dibiarkan keluar rumah tanpa sarapan? Anak, cucu bahkan menantu, satu-satu ditanya "kaleuh bu?" sebelum berangkat. Masakannya pun tiada dua, aku selalu merindukan makanan di rumah setiap menyantap makanan luar, semewah apapun resto dan rumah makan, belum ada yang mampu menandingi olahan tangan orang tua sendiri. Kurasa dalam hal ini semua orang merasakan hal yang sama. 

Kenapa aku berani menyatakan ada surga di rumahku? Sebab Rasulullah mengatakan surga di bawah telapak kaki ibu. Mak, padanyalah surgaku. Dibawah keridhaannyalah keridhaan Tuhanku. Maka dari itu, kangkawan, aku mohon maaf, saat kalian ajak aku menolak. Aku tidak ingin mencemaskan orang yang padanya terdapat surga. Tidak ingin mengulang lagi kesan menyaksikan rona wajah teduhnya berubah membara karena cemaskan aku. Jika kalian punya ibu yang hebat seperti ibuku, kurasa kalian paham. heheh

6 komentar

Berbicara surga dirumah = berbicara kegagalan para ayah dan ibu era sekarang ini menciptakan suasana surga dirumah,, banyaknya anak muda/ remaja yg mencari hiburan diluar itu menandakan di dlm rumahnya dia tdk mendapatkan sesuatu yg meneduhkan...

Reply

Benar, Tengku. Mudah-mudahan kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang kehilangan hawa surga di rumahnya. Albaiti jannati.

Reply

Seorang ibu memang selalu melakukan hal yang terbaik untuk anaknya, namun terkadang kita tanpa sadar malah membuatnya sedih..

Reply

Mak mu memang hebat, teruslah jd anak yg berbakti

Reply

Air susu hendaknya tidak dibalas dengan air tuba :'(

Reply

Allahumma aamiin.. Terima kasih banyak doa dan husnudhdhannya. :)

Reply

Posting Komentar