Bicara Pro dan Kontra Vaksin - Imunisasi.

forpiko[.]com

Pada tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Kesehatan modal utama untuk beraktivitas. Atas alasan itu, semua orang memprioritaskan kesehatan, menganggapnya sebagai hal yang sangat ungen. Mengkonsumsi makanan sehat, olah raga, menghindari hal yang dapat mengganggu kesehatan, hingga proteksi untuk mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, baik pada diri sendiri, keluarga, terutama anak-anaknya pun digalakkan.

Dalam hal ini, terkait kesehatan anak-anak, bertepatan dengan hari imunisasi, saya ingin share sedikit pemahaman. Menyikapi pro dan kontra vaksin – imunisasi. Sebagaimana kita ketahui bersama, dunia begitu menggaungkan program imunisasi. Timbul banyak tanggapan, pro dan kontra adalah suatu keniscayaan. Adanya kajian lanjutan mengenai apakah vaksin ini boleh digunakan oleh kaum muslimin, dengan alibi aturan baku; halal dan haram. 

Dalam postingan ini, saya tidak akan mencatut nama siapa pun untuk mengajak Anda mengiyakan vaksin itu boleh digunakan, atau untuk mengajak Anda meninggalkannya. Saya tidak menyatakan halal atau haram, itu bukan ranah saya. Anda bisa mencari informasi akurat di media lainnya, dari para ahlinya, saya pun demikian. 

Hemat saya, ketika Anda mendapati pernyataan vaksin tidak boleh digunakan karena alasan ini dan itu, jangan langsung percaya, tapi carilah bacaan yang lebih banyak, detili, cermati dan ambil kesimpulan. Demikian juga, saat Anda dianjurkan untuk menggunakan vaksin atas alasan ini dan itu, hendaklah jangan langsung percaya, latah dan menyanggupinya. Melainkan kaji terlebih dahulu, tujuannya apa, efeknya dan efek sampingnya apa. Demikianlah seharusnya sikap bijak terhadap satu persoalan. 

Akhir-akhir ini, media sosial bahkan media informasi lainnya begitu riuh dengan kabar vaksin. Satu sama lain saling tuding. Ada yang ikut terlibat dalam debat tak berpenghujung, ada yang hanya mengamati dan berlalu, kemudian membuat catatan perspektif sendiri, seperti yang sedang Anda baca sekarang. 

Sedikit pengakuan, saya adalah seorang yang patah hati terhadap imunisasi. Ceritanya, puluhan tahun silam, seorang bayi telah lahir normal dengan berat ideal. Ibu dan tetangganya mengakui bayi itu sangat menggemaskan. Beberapa hari kemudian, datang Bidan Desa ke rumahnya, menawarkan imunisasi. Ibu yang telah melewati pengalaman membesarkan tiga anak lainnya tanpa imunisasi, tentu saja keberatan. Namun, atas penjelasan ilmiah terkait bla..bla..bla, bahaya yang akan terjadi terhadap anak tak diimunisasi, akhirnya Ibu itu pun menyetujuinya. Setelah suntikan itu mendarat dibahu kiri si bayi, esok paginya suhu badan bayi melonjak, terdapat lima benjolan seukuran jerawat orang dewasa. Dua di telapak kaki, siku kiri dan satu lagi di pipi. Bayi itu adalah saya. Ya, nanti kalau kita berjumpa, amati saja, ada lesung tak langsung di pipi kiri. Itu kenang-kenangan imunisasi. 

Kecewa tak terobati, sesal tak berpenghujung. Cukup satu suntikan, dan jangan berharap akan ada lanjutan. Hingga kini, kami sah menjadi keluarga patah hati terhadap imunisasi. Alhamdulillah, atas rahmat dan kasih sayang Allah, kesehatan keluarga terjaga. Anak-anak tumbuh besar. Bahkan kini sudah membesarkan generasi ke dua.

Kita kaji sedikit berdasarkan pengalaman. Mohon kerendahan hati para pembaca sekalian untuk mengakui kebenaran bila mengalami hal yang sama. Apakah saat Anda suntik anak Anda, dia menangis sejadi-jadinya? Apakah beberapa saat kemudian, hingga dua-tiga hari suhu badannya tinggi, rewel, tidak selera menyusu, dan bahkan ada semacam lebam di lengan selingkar tempat kena suntikan? Apakah Anda merasakan cemas kala itu? Para suami bahkan sampai jengkel, karena mereka tidak tega melihat anaknya merintih. 

Allah subhanahu wata’ala adalah pencipta dengan segala kesempurnaan hasil ciptaan-Nya. Seonggok daging dalam rahim ditiupkan ruh agar hidup dan dilengkapi dengan seperangkat bekalan untuk dapat mempertahankan kehidupan. Tidak ada satu lini pun yang tidak diperhitungkan oleh Allah. Penciptaan manusia bukan sebuah candaan. Nah, seperangkat bekalan tadi kita namai naluri, sensitifitas, sel otak, dan sistem kekebalan tubuh. Semua anak punya itu. 

Ketika kita masukkan vaksin ke dalam tubuhnya, terjadi semacam pergolakan. Ibaratnya, sistem imun yang telah ada mencoba berkenalan dengan yang baru. Bila cocok mereka sahabatan, bila tidak cocok maka akan menjadi musuh. Inilah yang menyebabkan anak-anak demam dan bahkan bengkak pada selingkar area suntikan. Adapun vaksin, ada harus setuju bahwa ia adalah virus yang telah dijinakkan. Pernah lihat harimau di penangkaran? Tentu saja tidak ada yang menerkam. Mereka jinak. Tapi, apa yang akan terjadi bila yang telah jinak ini kita lepaskan ke alam liar, ke habitatnya. Anda yakin harimau itu tidak akan kembali menjadi hewan buas? Nah, saya rasa analogi ini mudah dicerna, untuk memahamkan kita bagaimana vaksin.

Imunisasi bukan memberi obat, sebab anak-anak yang diimunisasi itu bukan anak yang sakit, melainkan penangkal agar tidak terjangkiti hal yang tidak diinginkan, sepakat? Lalu, apakah anak yang telah diimunisasi ini mutlak tidak akan diserang penyakit? Siapa yang akan menjamin ini? Siapa? Coba jawab! :D Kelihatan ekstrim pertanyaan saya. Tapi percayalah, saya menulis ini sambil tersenyum membayangkan Anda serius membacanya. Saya berharap kita semua paham.


Entahlah, saya pribadi lebih yakin kepada Allah dari pada imunisasi. Saya tidak memercayai vaksin ini sama seperti tidak memercayai azimat, sama seperti tidak mengikuti program asuransi jiwa. Agar benar-benar sepenuhnya menyerahkan masa depan kepada Allah. Dalam hal ini, beberapa orang akan menganggap saya tidak realistis. Di sisi lain, pasti ada orang lainnya yang menganggap hal semacam ini lebih realistis. Seperti yang saya sampaikan di awal, pro dan kontra adalah keniscayaan. Sepakat atau pun tidak, mari menjalani hidup dengan damai. Lakum ‘amalukum wa lana ‘amaluna.

Berbekal husnudhdhan kepada Allah, yakinlah tidak ada hal buruk menimpa kita. Sebagaimana disebutkan dalam kalam agung-Nya; “Aku tergantung persangkaan hamba terhadapKu. Jika dia berprasangka baik, maka kebaikan baginya. Jika ia berprasangka buruk, maka keburukan baginya” (Hadits Qudsi). Saya menjumpai beberapa guru religi saya terkait hal ini, bahwa mereka juga menyatakan hal yang sama; “Jangan telalu mencemaskan hal belum terjadi, kemudian memproteksi, seakan-akan kita hendak menantang Allah.” 

Semoga postingan ini bermanfaat. Seperti biasa, bila ingin mengkritik, silahkan tinggalkan komentar. Jangan beuh breon di tempat lainnya, nanti malah jadi ghibah. hehehe

Posting Komentar