Dua Sisi

america[.]pink

Pergantian siang dan malam atas akibat timbul-selamnya matahari menjadi sebuah gambaran, bahwa hidup selalu dihadapkan pada dua wajah. Putih-hitam, gelap-terang dan semuanya memiliki makna tersendiri. Berada pada titik bias justru akan menyebabkan ketidakseimbangan. Bagaimana tidak, jelas ada kegamangan pada abu-abu. 

Tak ayal, putih dan hitam ini dianalogikan kepada pola sikap/ tingkah laku seseorang. Budi luhur dianggap putih dan kejahatan dianggap hitam. Biasa kita lihat di lingkungan, ilmu yang berbau klenik dan berkaitan dengan peran setan dikatakan ilmu hitam. Sebaliknya, ilmu yang menitikberatkan kepada pensucian diri, memantapkan nilai-nilai ruhiyah, menyelami makna agama, disebutkan ilmu putih. Ini adalah barang bukti bahwa dunia dalam bingkai dua sisi.

novian25[.]blogspot

Baik, kita simpan sejenak pembahasan tentang ilmu hitam dan putih. Ini catatan singkat tentang bagaimana kita di hadapan manusia. Masih dalam tema dua sisi. Anda akan mengalami dua kemungkinan. Siapa pun Anda, dalam interaksi sosial, tidak akan lepas dari dua kemungkinan. Pertama; teman yang memuji. Kedua, musuh yang mencaci.

Kita lerai satu-satu. Teman yang memuji, dalam artian, apapun kinerja Anda, meskipun dalam peran yang tak seberapa, bila itu berupa sesuatu yang positif, maka para sahabat Anda akan melayangkan sanjungan dan pujian. Mereka mengapresiasi, bahkan bisa melampaui kelayakan Anda menerima penghargaan itu. Bila pun hasil kerja Anda adalah sebuah kekeliruan, teman akan tetap mendukung Anda. Memberi dukungan agar Anda mau membenahi, tentunya. Tidak ada respon negatif dari teman. Kenapa? Sebab falsafah awal tadi, Anda sedang berada dalam bingkai pertama: persahabatan. Cinta yang bertunas dari hati mereka, tumbuh meninggi, merindangkan daun meneduhkan bumi. Di bawah kerindangan itulah tempat di mana para sahabat bernaung.

Kedua; musuh yang mencaci. Apapun yang Anda lakukan tetap saja berhujung pada sumpah serapah. Tidak ada yang terlihat benar meskipun itu kebenaran. Tetap saja ada celah bagi celaan. "Selalu salah Barbie di mata Anabelle, selalu salah Naruto di mata Dragon Ball, selalu salah Adek di mata Abang." Anda tentu saja familiar mendengar jargor seperti ini, bukan?

Sebenarnya, keberadaan sumbu benci menyembul dari satu ruang kecil di hati, bersambut dengan pemantik berupa kedengkian dan apatisme. Akhirnya, kebencian menyeruak membakar seluruh sisi pandangan, sehingga tertutupilah segala keindahan. Di Aceh, kami mengenal istilah "benci ruman," dalam bahasa yang lebih mendunia, perasaan semacam ini disebut "ill feel." Apa pun yang terdapat pada sisi orang yang di benci, segalanya akan terlihat sebagai bentuk kesalahan. Marah pada seseorang hingga ke sandalnya. Kenapa demikian? Sebab ia tengah berada pada falsafah kedua; musuh yang mencaci.

Jika Anda menjadikan respon manusia sebagai tolak ukur, maka selamanya Anda tidak akan menemukan nilai mutlak. Sebab, pada sisi manusia, nilai terbentuk hanya dalam range relativitas - perspektif. Benar menurut A, belum tentu menurut B juga benar. Demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, kita harus mencari sumber kebenaran mutlak. Benar yang mampu melampaui nilai relatif dan tak terbantahkan lagi. Benar yang membuat Anda merasakan kenyamanan batin saat melakukannya. Dalam hal ini, tentu saja Syara', satu satunya standar kebenaran mutlak. 

Contoh kasus: terkait apa-apa yang dilakukan oleh Bunda Illiza. Orang-orang yang berpihak padanya, selalu melihat apa yang dilakukan Bunda sebagai tindakan yang benar. Positif. Sedangkan pihak lainnya, mereka kerap mengutuk dan menyikapi tindakan Bunda sebagai sesuatu yang berlebihan. Kenapa kemudian Bunda Illiza tetap bersikukuh dengan apa yang beliau lakukan? Ya, kembali lagi, barangkali bagi Bunda nilai yang benar adalah saat ia melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang benar di mata Syara'. Beliau keluar dari bingkai nilai teman dan musuh.

Al-Hikmah, Lukman (radhia-Allahu'anhu) pernah bertutur pada putranya; "Lakukanlah hal yang memberi kemaslahatan bagimu dengan tidak menghiraukan penilaian manusia, kerena selamanya engkau tidak akan mampu menyeragamkan hati mereka."

Jadi, peuta yang keuneuk peugah ino? Yang loen neuk peugah adalah lage yang Lukman peugah bak aneuk geuh. Saat jasad kita terperangkap pada dua sisi bingkai kehidupan, pastikanlah kita tidak menjadikan bingkai ini sebagai kungkungan baku bagi jiwa. Keluarkanlah ruh dari frame. Jangan lihat putih dan hitam, tapi lihatlah pada cemerlang, pada terang, pada bening. Bahwa segala sesuatu yang kita lakukan bukan agar tidak dicaci musuh, bukan untuk dipuji teman. Melainkan agar dipayungi ridha Tuhan.


Note:
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Jika Anda keberatan dengan tulisan saya, jangan buang breun di media lain. Cukup di sini saja, di kolom komentar. ;)

2 komentar

Dua sisi itu hakikatnya kebaikan. Tidak ada yg tdak bernilai kebaikan semua yg Allah ciptakan. Good artikel.

Reply

Alhamdulillah. Terima kasih, Pak Ketua :)

Reply

Posting Komentar