Hadiah dari Sithoen Ija Kroeng


Alhamdulillah! Menang rupanya. Jujur, teman-teman blogger umumnya tahu, saya nyaris tidak pernah ikut lomba. Jenis apa pun itu. Kali ini, karena temanya tentang budaya, saya tertarik untuk menulis juga. Serta merta ingin memperkenalkan budaya original Aceh kepada siapa yang belum mengenalnya. Dalam rangka giveaway Sithon Ija Kroeng, postingan saya ternyata mendapat sambutan hangat dari pembaca. Saya lihat, dari facebook, belasan orang men-share ulang postingan itu. Namun demikian, tentu saja ada alasan lainnya bagi dewan juri, memilih postingan saya sebagai Pemenang Favorit II atas giveaway ini. Terima kasih banyak.

Cerita punya cerita, kemarin saya mengambil hadiahnya di Workshop Ija Kroeng. Siapa sangka yang saya dapatkan jauh lebih banyak dari yang saya duga. Berikut saya perlihatkan apa yang kasat mata, sebelum saya sampaikan plus-plus lainnya.


Ada satu lagi, sudah saya habiskan sebelum difoto. :D

Ada Coffee Cho Gayo, aromanya, hmmm.. menggoda banget. Nanti kalau kangkawan mau, sila catut nama di kolom komentar, Kita seduh rame-rame. Saya rela bagi-bagi buat pembaca blog saya (sebenarnya, sebab saya sudah nggak bisa minum kopi) hihihi. Ada kacang juga. Ada Mug cantik, ada tas jinjing ramah lingkungan, yang tentunya limited edition. :D

Ini hadiah lainnya

Saya juga memeroleh sertifikat, plus banyak sekali voucher belanja. Nggak habis untuk dimakan sehari, apalagi sendiri. Sebab inilah makanya orang tua bilang sendiri itu tidak baik, karena tidak bisa menghabiskan makanan banyak - banyak. Ah, entah iya pun. Namun, mohon maaf, tidak sama halnya dengan kopi, voucher ini sudah saya bagi semua untuk Husnul Aziz, jadi tidak ada lagi untuk para pembaca. 

Lalu, apa lagi yang saya dapatkan? Ya, banyak sekali pelajaran. Bang Khairul (CEO Ija Kroeng) bercerita banyak tentang napak tilas usahanya. Tentang perjalanan panjang yang telah dilewati sehingga diilhami kreativitas usaha Ija Kroeng ini. Usaha yang digelutinya sekarang adalah buah dari perjuangan panjang. Pencapaian setelah serangkaian rumit yang ditempuh. Bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul, like magic show kemudian jadilah sebuah karya yang memiliki nilai jual. Tidak sesederhana itu. Sedikit mengenai perjalanan karirnya, pernah mengalami kegagalan dalam usaha yang digelutinya saat masih menetap di Jerman, hingga di Jakarta pun demikian. “Jika kesuksesan dinilai dari segi financial, maka aku adalah orang yang gagal atas perjalanan panjang selama tujuh tahun tersebut. Tapi, bagiku, hasil tidak hanya dilihat dari materi yang kita peroleh, melainkan petualangan, pelajaran hidup dan pengalaman. Aku merasa telah sukses mendapatkan bekalan untuk terus maju, bangkit dan mandiri, setelah mengalami jatuh bangun sebelumnya.” Ujar Bang Khairul kepada saya, disela-sela obrolan. 

Terkait brand Ija Kroeng, saya yang semula sudah sangat ingin tahu alasan beliau mengambil nama fenomenal itu, segera saja bertanya pada empunya. Beliau kembali menjejekan logika-logika briliannya. Bahwa, hal semacam ini disebut brand positioning. Ija Kroeng adalah sesuatu yang telah ada sejak zaman dahulu, sepanjang peradaban Aceh, pakaian ini telah dikenakan oleh berbagai kalangan. Sejarahnya telah ada, tinggal membangkitkan kembali kesadaran untuk melestarikan budaya. “Kita tidak perlu lagi memperkenalkan kepada semua orang, apa itu Ija Kroeng. Sudah tertanam dalam brain storming orang Aceh, bahwa Ija Kroeng adalah kain yang dikenakan sebagai pakaian bawahan. Hanya saja, mem-branding-kannya ke dalam satu produk made in Aceh, itu yang belum pernah dilakukan. Makanya saya pilih ini,” Ujar beliau lagi. 

Terhadap usaha bang Khairul, berkali-kali saya merasakan bahwa kita semua patut mengapresiasinya. Beliau mengkolaborasi unsur budaya, histori, seni dan estetika ke dalam sebuah karya yang menghasilkan, memiliki nilai jual, dan memiliki prospek pasar yang cukup baik. Produk ini tidak hanya sebagai souvenir yang dibeli sekedar ada, dipakai sekedar saja, melainkan memiliki peran lebih luas, pakaian unggulan lebih tepatnya. Mengingat keberadaan sarung bagi orang Aceh adalah suatu yang urgen. Bisa kita katakan, 6 dari 10 laki-laki di Aceh mengenakan sarung, baik sebagai pakaian harian maupun hanya dalam seremonial tertentu. Dalam hal ini, hanya butuh sedikit kesadaran bagi mereka untuk memakai produk local. 

Hal yang paling diutamakan oleh Manajemen Ija Krong adalah kualitas. Itu menjadi pertimbangan utamanya. Bila suatu produk memiliki kualitas baik, sudah barang tentu menimbulkan kesan baik bagi pengguna. Dia tidak akan berhenti dengan sekali membeli. Pasti ada kali kedua ketiga dan berikutnya. Itu juga menjadi kendala bagi rumah produksi Ija Kroeng, bahwa harus dikerjakan oleh penjahit yang benar-benar kompeten dalam hal ini. 

Bang Khairul menunjukkan beberapa jenis Ija Kroeng yang diproduksi, setidaknya ada tiga ketegori kebutuhan. Pertama, harian. Itu Ija Kroeng sebagaimana yang sudah banyak kita lihat di kenakan oleh konsumen Ija Krong, diantaranya ada putih polos, hitam polos, putih bermotif kerawang Gayo dan hitam bermotif kerawang Gayo. Tentang motif ini pun, ada alasan yang kuat kenapa beliau memilih kerawang Gayo di tahun pertama produksinya. Namun, ke depan, tidak tertutup kemungkinan akan digunakan motif lainnya juga yang diadop dari berbagai ras di Aceh, secara acak. 

Kedua, Ija Kroeng untuk lebaran. Ini terdiri dari tiga warna yang bisa kita bilang “wah!” yaitu: Merah, hijau dan abu-abu. Imbuhnya, sambil menunjuk ke arah gambar yang terpajang di dinding workshop. Satu lagi, untuk seserahan. Namanya; Ija Kroeng Aso Talam. Ini yang sangat menarik perhatian. Di Aceh, pada umumnya, setiap seserahan pasti disertakan seperangkat alat shalat di dalamnya, dan ija kroeng andil di dalamnya. Di jenis khusus ini, kita boleh memesan agar dibubuhi tanggal perhelatan beserta kedua nama mempelai. Luar biasa bukan? Anda tertarik? Jujur saja saya tertarik saat melihat sampel yang ditunjukkan oleh beliau. Nanti kita beli kalau sudah tiba saatnya. :D

Masih banyak lagi informasi yang saya peroleh dari sana, sayangnya tidak mungkin saya tulis semua. Kita sembunyikan sebagian agar menambah penasaran. Bila ingin tahu banyak, ingin membeli, silahkan saja kunjungi workshop-nya di Setui, masuk dari lorong setelah Rumah Sakit Harapan Bunda, ikuti saja plang petunjuk arah. Tidak jauh, pokoknya. Sambutan hangat dari keluarga Ija Kroeng akan membuat Anda betah. Saya sudah mengalaminya, sampai putra mahkota yang masih balita sempat terlelap dalam buaian saya, meskipun itu temu pertama. Hehehe. Terima kasih, keluarga Ija Kroeng; Bang Khairul, Kakak dan adik kecil. Semoga selalu dalam rahmat Allah. 

Posting Komentar