Kitab Arab-Jawi Jadi Matakuliah UIN Ar-Raniri dan Unsyiah

pict. acehutara.go.id

Membaca dan menulis adalah dua hal yang tak terpisahkan. Bisa kita katakan, keduanya adalah sepasang jodoh dunia-akhirat. Sudah semestinya, seorang yang kenyang membaca akan gemuk menulis. Dalam artian, seseorang yang melazimkan dirinya untuk mencari ilmu maka ia akan memeroleh banyak ilmu untuk dibagi. Analogi yang sering disampaikan oleh para motivator adalah seperti teko. Bila teko kita isi, ia mengandungi sesuatu yang dapat kita tuang. Bila kita isi dengan teh, teko akan mengeluarkan teh. Bila kita isi dengan kopi, teko akan mengeluarkan kopi. Bila tidak kita isi, apa yang akan ia keluarkan, saudara-saudara? Ya, tentu tidak ada. 

Hendaklah memilih bahan bacaan sesuai dengan kapasitas yang boleh kita konsumsi, jika pun kita baca suatu yang berseberangan, setidaknya seseorang harus telah membentengi diri, agar tidak mudah tergerus pahaman-pahaman yang keliru. Kalau saya amati, seringnya kita terlalu muluk mencari sumber bacaan yang ditulis oleh tokoh dunia, yang menginspirasi, menggugah, padahal di negeri sendiri, kita telah dianugerahi penulis yang tak kalah mendunianya. Hanya saja, seperti biasa, kita enggan produk lokal. Ibarat pepatah zaman; "Keubeu han dimeureut naleung bineh weu."

Kalau kita tanya, “Siapa saja penulis asal daerah ini yang Anda kenal?” Saya khawatir banyak orang yang tidak tahu. Sebab, ya, kembali ke argumen di atas, kita jarang mengkonsumsi produk lokal. Selain keterbatasan perbendaharaan (buku) yang tersedia, juga minimnya produktivitas dari penulis lokal itu sendiri. Berbeda dengan masa peradaban Aceh dahulu, para ulama menghasilkan tulisan yang memiliki konten luar biasa. Mereka merangkumkan banyak pelajaran dalam kitab-kitabnya. 

Amsal, bagi yang belum mengenal, cobalah sesekali Anda buka lembaran-lembaran Mawa'idhul Badii'ah. Di sana kita akan merengkuh berjuta-juta pelajaran yang indah, sebagaimana judulnya. Menjadi pengingat bagi yang lupa, penyejuk bagi akal yang gersang, sentuhan bagi iman yang lalai. Kitab yang mengandung ratusan hadits qudsi ini ditulis oleh seorang yang sangat kita kenal namanya, ialah Syeh 'Abdul Rauf Al Fanshuri, atau kerap dikenal dengan nama panggilannya; Syiah Kuala.

Dalam kesempatan ini, saya berharap banyak kepada siapa pun yang memiliki jaringan dengan civitas akademik Universitas Syiah Kuala, agar mengajukan kitab ini untuk dijadikan salah satu bahan ajar penunjang matakuliah agama. Setidaknya di program UP3AI pun jadi, dari pada tidak sama sekali. Malu rasanya kita pakai nama Syiah Kuala, bila faktualnya mahasiswa tak kenal siapa beliau sebenarnya. Mari kita kenal beliau dari sejumput ilmu dari sekian banyak karyanya.

Satu lainnya, Sirathal Mustaqim, karangan Syeh Nuruddin  Ar Raniri. Kitab yang memuat banyak pelajaran menyangkut pola hidup di bawah ketentuan hukum syara', ianya bacaan yang membimbing seseorang ke jalan yang lurus. Beliau juga telah menulis puluhan  kitab lainnya. Sayang sekali, selama ini, kitab-kitab yang penuh pelajaran ini hanya dikonsumsi oleh minoritas. Hanya orang-orang kampung dan pemerhati sejarah yang kukuh meneruskan pengajaran kitab-kitab bertulisan arab-jawi ini. 

Sama halnya dengan karangan Syiah Kuala, saya juga berharap Sirathal Mustaqim dijadikan bahan ajar di Universitas Islam Negeri Ar Raniri. Sayang sekali jika tidak. Mengingat semua orang mengenal kampus ini tidak lekang dari namanya.

Sudah sepatutnya kita memperkenalkan karya-karya ulama Aceh terdahulu, kepada orang yang mengenyam pendidikan pada lembaga yang namanya diangkat sebagai almamater itu. Menghargai karya-karya ulama terdahulu dengan mengajarkannya kepada ummat. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas dalam menulis. Merangkumkan pengetahuan untuk dicecapi ummat. Mereka yang mengabdi tanpa berpikir tentang royalti. Berat perjuangan yang mereka tempuh tak sebanding dengan penulis masa kini. Berbekal lidi sebagai penanya dan “adang” (arang kayu) sebagai tinta, tanpa listrik sebagai pelita, mereka menyusun selembar demi selembar, lantas kita mengabaikannya begitu saja? Benar-benar tidak patut. Itu!

4 komentar

Saya sangat setuju.. Setidaknya lulusan dari perguruan islam bisa lah membaca tulisan jawi.. .

Reply

Semestinya begitu. Semoga saja terealisasi, ya! :)

Reply

Gagasanya layak didiskusikan...

Reply

Terima kasih kunjungannya, Bang Ibu. Senang disambangi dan dikomentari oleh jurnalis kece.

Reply

Posting Komentar