Perkenalkan! Gadis-gadis #IjaKroeng di Aceh

Minggu lalu,  saat meninjau pembangunan Dayah Istiqamatuddin Darussalam di Montasik

Budaya melekat kuat pada sebuah bangsa. Kebiasaan terpola dan dijalani dalam kurun yang lama menyebabkannya sulit untuk terpisah. Seperti laut dengan riak. Di belahan dunia mana pun, laut selalu memiliki gelombang. Demikianlah kebudayaan, terelaborasi dalam tata bahasa, tata busana dan afektif sebuah bangsa. Terus menerus sepanjang siklus hidup. Dalam hal ini, saya ingin mengulas sedikit mengenai budaya Aceh. Lebih spesifiknya tentang budaya dalam aspek busana. 

Menarik, bahwa Aceh memiliki sebuah kebijakan yang bisa kita bilang setingkat lebih unggul dari pada provinsi lainnya, dalam hal berpakaian. Keberadaan perda khusus, qanun Syari’at Islam telah membawa Aceh pada rona yang tak lekang dari identitas muslim segi fashion-nya. Betapa tidak, bagi masyarakat muslim yang tidak mengindahkan aturan ini, maka akan didera sangsi, bahkan dikecam oleh lingkungan. Saat berada pada ranah publik, setiap orang harus mengenakan pakaian yang sesuai dengan aturan.

Peraturan ini tentu saja disambut baik oleh segenap masyarakat. Keindahan busana merupakan cermin keluhuran sebuah bangsa. Muslimah yang mengenakan kerudung (Aceh: ija sawak) ketika keluar rumah dinilai lebih menarik tinimbang menggerai-gerai mahkotanya. Pun demikian dengan muslimah yang menggunakan rok, gamis dan sejenisnya, dianggap lebih santun dari pada memakai celana, apalagi ketat pula. Dengan mengenakan identitas muslimah, mereka lebih disegani oleh lingkungan. Mudah dikenal dan tidak gampang diganggu, tentu.

Saat kunjungan ke Tanoh Abee. Saya anak baru, belum pandai pakai IjaKroeng :D

Dari keindahan itu semua, sebenarnya ada satu sisi kekhasan Aceh yang kurang ter-explore. Saya akan membawa Anda pada suatu pemandangan yang semoga Anda akan mengatakan “How real taste of Acehnesse!” Itu pun jika Anda tahu tentang busana khas Aceh sebenarnya. Ya, sekerumunan orang-orang yang menjadikan Ija Kroeng sebagai busana hariannya. 

Anda tahu Ija Kroeng? Kain berdiameter dua kali ukuran badan dengan tinggi sepantaran pusar kita. Tentu saja fungsinya untuk dikenakan sebagai bawahan pakaian. Cara mengenakannya adalah dengan melilitkannya ke pinggang setelah disarungkan. Ya, Ija Kroeng kini lebih dikenal dengan istilah sarung. 

Di sini, Ija Kroeng adalah pakaian harian yang dikenakan setiap kesempatan. Di rumah, di luar, ke mesjid, ke pasar, bahkan ke kondangan dan acara resmi lainnya pun demikian. Tetap mengenakan Ija Kroeng. Bagi yang tidak pernah menyaksikannya, mereka tentu saja menganggap ini sebuah keganjalan yang menimbulkan cengang. Kenapa saya berani berkata demikian? Tentu saja ada landasan kuat. Ceritanya, tiga tahun silam, ketika saya mengadakan sebuah perhelatan di rumah. Saya mengundang rekan-rekan dari berbagai lingkaran: para blogger, teman kantor, kolega, sanak saudara, teman semasa kuliah, teman dari SMA, teman sepengajian dan beberapa diantaranya para penulis yang baru saya kenal.

Menjelang tengah hari, teman-teman sepengajian datang, seringnya memang mereka datang berombongan, ramai-ramai. Nah, ketika memasuki halaman rumah, para tamu yang lainnya sontak bangun, memerhatikan mereka dengan penuh ketakjuban. Sekelompok muslimah mengenakan baju kurung, sarung dan kerudungnya lebar hingga menutupi pinggang. Bagi rekan dari kota, ini pemadangan yang langka. Perempuan belia, cantik pula, range umur 14 – 25 tahun, semua pakai Ija Kroeng. Seakan orang-orang kota itu hendak berujar; “Hello? Are you kidding me?” Secara yang mereka tahu, umumnya kain sarung itu pakaian orang tua-tua di kampung. Berkali-kali mereka mengungkapkan ketakjuban. Senang melihatnya. Bahkan hingga saat ini, beberapa diantara mereka masih sering menanyakan ihwal gadis-gadis bersarung yang mereka lihat di rumah saya.

Pemandangan dari halaman depan dayah

Perkenalkan, mereka adalah santriwati Dayah Darul Muarrifah. Muslimah Ija Kroeng. Saya sangat beruntung bisa berada di tengah-tengah mereka. Mereka tetap mempertahankan budaya. Padahal bisa saja jika mengenakan rok atau terusan, tapi mereka tidak melakukannya. Sebab alasan yang tadi, itulah ciri khas yang kita miliki. Pun sudah begitu peraturan ma'had dari dahulu kala. Budaya yang tidak boleh kita buang. Di Dayah, sejauh pandangan mata, yang akan Anda saksikan hanyalah para pengena Ija Kroeng. Itu semua. Santri, dewan guru dan bahkan tukang masak di dapur umum pun demikian. Semua mengenakan Ija Kroeng tanpa sungkan.

Barang bukti, mereka pakai sarung ke sawah. Tanpa gambar, informasi: hoax :D

Terkait Ija Kroeng, saya baru tahu ternyata ada putra Aceh yang sudah setahun belakangan menggeluti usaha pengadaan Ija Kroeng. Ialah Khairul Fajri Yahya. Uniknya, ia menggunakan "Ija Kroeng" sebagai brandBerdasarkan yang saya baca dari postingan Makmur di blognya, ada giveaway dari managemen Ija Kroeng atas tasyakuran #SithonIjaKroeng, bertema “Membudayakan Kembali Ija Kroeng (Kain Sarung).”

Tentunya, terhadap produk lokal cita rasa internasional ini, sebagai bangsa Aceh kita patut memberi apresiasi, bahkan oleh pemerintah Aceh semestinya. Secara langsung beliau telah memperkenalkan kembali budaya Aceh kepada dunia. 

Saya tertarik untuk mengenal lebih jauh produk made-in Aceh ini. Saya stalking lagi postingan Makmur di Safariku.com. Ternyata, Ija Krong memang mampu menjawab tantangan zaman. Bahkan Ija Kroeng ini sudah dikenakan hingga Mancanegara. Kain polos dengan bubuhan motif khas Aceh pada sisi bawahnya, cukup elegan saat dikenakan. Apalagi oleh kalangan anak muda. Memesona. Tidak semak. Terlebih lagi yang warna hitam. Saya merasa Bang Khairul benar-benar telah mampu melukis Aceh pada helaian Ija Kroeng. Saya tertarik untuk meng-endorse ini kepada teman-teman di Dayah. Secara mereka adalah pengguna kain sarung sejati. Semoga banyak yang berminat nanti. 


6 komentar

terima kasih telah mempublikasikan kisah keagamaan dayah kita bersama, semoga dengan blog ini bisa membangkit kan kita untuk menuju keridhaan allah...
salam kenal,,,
kunjungi juga....: mynameisuzir.blogspot.com

Reply

Sebuah perspektif yang berbeda :)

Reply

Benar kak aini, aneuk dayah identik dengan sarung. Bahkan mereka kemana-mana tanpa sungkan pake ija kroeng. :D

Reply

Sama-sama, Aneuk Dayah. Terima kasih sudah mampir. Itulah tujuan kita sebenarnya, meraih kerindhaan Allah.. :)

Reply

Melihat dari sudut yang berbeda. Setiap sisi indah untuk ditulis. Hehehe ;)

Reply

Iya. Dan Saya sangat mengagumi mereka, Dek. Hehehe

Reply

Posting Komentar