5 Klasifikasi Hukum Bid'ah. Apa-apa saja?

Suasana pajoh sago (makan bersama) pada acara kenduri Maulid di Gampong Meulayo

Kemarin malam, dalam sebuah kelas pengajian, saya mendapatkan suatu pemahaman, sangat penting untuk dicermati dewasa ini, mengingat banyak sekali selisih paham yang semakin merenggangkan ruas ukhwah kaum muslimin. Walhal, pemahaman itu ialah tentang; Imam Syeh Ahmad bin Syeh Hijazi Al-Fasyani, menyebutkan dalam kitab Majaalisus Saaniyah (hal;22) bahwa bid'ah merupakan segala sesuatu yang tidak maklum (tidak ada) pada zaman Rasulullah. Kemudian, Ibni 'Abdis Salam mengklasifikasikan ketentuan hukum terkait hal-hal yang bid'ah ini menjadi lima kelompok besar: wajib, haram, sunat, makruh, dan mubah. (*Bagi teman-teman yang pernah membaca kitab tersebut, silahkan merujuk untuk memastikan kesahihannya.)

Pertama, wajib. Ada hal tertentu yang tidak ada pada zaman Rasulullah, kemudian diadakan. Wajib menekuni hal itu, seumpama belajar nahwu dan sharaf. Dahulu, di zaman Rasulullah, tidak ada pelajaran nahwu dan sharaf, semua lekas mengkaji dari Al-Qur'an dan Sunnah tanpa harus terlebih dahulu menghafal apa itu harfun jar, isim, fi'il. Tanpa harus mempelajari kalimat idhafahmudhaf dan mudhaf ilaih, mana kalam majazi, yang mana kalam hakiki. Sebab, jika ada hal yang tidak dipahami, kala itu langsung bisa bertanya pada Rasulullah. Lalu, sekarang ini, kita yang merupakan muslimin 'ajam (non Arab), bila hendak mengkaji Al-Qur'an dan Hadits, tentu harus mengetahui bahasa Arab terlebih dahulu, kan?

Kedua, haram. Ada hal lainnya yang tidak ada pada zaman Rasulullah, kemudian kini diadakan. Hukum bagi mengikutinya adalah haram. Seperti halnya aliran Mujassamah (kelompok yang meyakini Allah memiliki bentuk dan tempat), Jabariyah (Kelompok yang meyakini bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia, itu hanyalah kehendak baku dari Tuhan. Ini tidak lain dan tak bukan hanyalah perusak akidah kaum muslimin.

Ketiga, sunat. Seperti halnya menyediakan fasilitas yang dapat memudahkan ummat dalam aktivitasnya: Membangun meunasah, pesantren, sekolah, jembatan, rumah sakit dan tiap-tiap kebagusan yang tidak maklum pada masa Rasulullah. 

Keempat, makruh. Disebutkan bahwa menghias masjid secara berlebihan dan memperindah mushaf termasuk bid'ah yang makruh. Ini saya rasa dimaksudkan bahwa memperindah mesjid dengan membiarkan rumah warga tak layak huni bertebaran begitu saja tanpa ada yang peduli. Semestinya, alokasi anggaran untuk me-lux-kan mesjid dapat digunakan untuk rehabitasi dan rekontruksi rumah warga kurang mampu. Kan begitu?

Kemudian, kelima, mubah. Seperti bersalam-salaman seusai shalat subuh dan ashar, kenyang ketika makan dan minum. Ini hal boleh dilakukan dan tidak mengapa bila ditinggalkan.

Nah, dewasa ini, sering sekali terjadi perdebatan mengenai beberapa hal bid'ah lainnya, lazimnya di media sosial. Biasanya perdebatan itu hanya berlangsung sengit pada status dan komentar di Facebook saja, saat beberapa orang yang berselisih paham ini berjumpa, kerap hal ini didiamkan begitu saja. Entah kenapa bisa begitu? wallahu a'lam. Makanya saya urung nimbrung meskipun sudah ditandai (di-mention).

Hal yang santer didebatkan itu seperti perayaan maulid nabi, sebagaimana lazimnya di Aceh, 100 hari di mulai dari 12 Rabiul Awal, para warga mengadakan kenduri maulid. Agenda yang terdiri dari jamuan makan-makan, pembacaan shalawat, barzanji dan tausiah agama untuk memeriahkan dan mengenang saat-saat kelahiran baginda Rasulullah. Sebagian justru berpendapat bahwa hal ini keliru, sehingga tidak baik untuk ditiru. Padahal sejatinya syiar islam digaungkan melalui moment-moment seperti ini. Banyak sekali sisi positifnya dari kenduri; mempererat persaudaraan, menjadi wadah berkumpul untuk melantunkan madah shalawat kepada baginda Rasulullah.

Lain halnya tentang tahlilan, ada yang men-judge ini sangat sia-sia, tasyabbah bil kuffar pula. Sedangkan yang lainnya justru menjadikan takziah sebagai ajang silaturrahmi, mempererat ikatan persaudaraan, meningkatkan kepedulian sosial. Di kampung saya, berkat adanya tahlilan, jama'ah shalat magrib dan isya nyaris memenuhi meunasah, padahal kalau hari-hari biasa hanya satu shaf saja. Pun lagi, selama tiga hari berturut-turut, warga (ibu-ibu) sekampung mengantarkan kue ke rumah duka sebagai panganan yang akan diberikan kepada bapak-bapak yang akan melakukan tahlilah malamnya. Luar biasa swadayanya bukan? Tentunya ini akan sangat menghibur keluarga yang ditinggalkan. Mereka merasa diperhatikan. Sebagaimana yang disebutkan dalam kaidah lokal; "Keureuja hudep na so peutimang, na so sayang keureuja mate." Bukankah membahagiakan saudaramu adalah kebaikan? Di atas, apakah bid'ah untuk kebaikan dikategorikan haram? Tentu saja tidak, bukan?

Dari kedua hal di atas, seringnya yang terjadi kekeliruan itu adalah ditata pelaksaannya. Perspektif saya, bila terkesan menzalimi ahli rumah karena melakukan tahlilah, ya nggak usah diadakan. Pun demikian dengan maulid, bila dengan mengadakan maulid sampai lupa shalat karena sibuk melayan tamu, ya lebih baik nggak usah dikerjakan. Bukan kendurinya yang salah, tapi tata pelaksanaannya. Jadi, kalau ada yang ingin mengerjakan ya silahkan, meninggalkan pun tak jadi soal. Saya rasa demikian, bagaimana komentar kalian? 

2 komentar

Sefuku kali lah, semoga jodoh :D

Reply

Posting Komentar